JD Vance Buka Suara Usai Misinya soal Iran dan Hongaria Gagal
Wakil Presiden AS JD Vance tiba untuk pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan di tengah perundingan damai AS-Iran di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026). Vance tiba di ibu kota Pakistan untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan perdamaian penting dengan Iran, di bawah naungan gencatan senjata rapuh selama dua minggu antara Washington dan Teheran, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator.(AFP/JACQUELYN MARTIN)
15:06
15 April 2026

JD Vance Buka Suara Usai Misinya soal Iran dan Hongaria Gagal

- Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance buka suara usai dua misi internasionalnya gagal secara beruntun pekan lalu.

Dua misi itu adalah perundingan damai dengan Iran di Pakistan dan kekalahan sekutu utama AS di Hongaria, Viktor Orban usai 16 tahun berkuasa.

Vance yang memimpin delegasi AS ke Pakistan mengatakan, timnya meninggalkan Islamabad setelah menyadari delegasi Iran.

Ia juga menuduh Teheran mencoba "mengubah aturan main" selama pembicaraan tentang Selat Hormuz.

Sementara, Vance menilai perjalanannya ke Hongaria untuk mendukung Orban layak adalah hal yang tidak buruk sama sekali.

Baca juga: Pekan Kelabu Wapres AS, Misi Damai Iran Gagal, Sekutu Utama di Hongaria Tumbang

Perundingan damai dengan Iran

Dalam sebuah acara Fox News, Vance menyatakan bahwa perundingan tingkat tinggi di Pakistan menjadi yang pertama dalam sejarah kepemimpinan Iran saat ini.

"Jadi, menurut saya, itu adalah hal yang positif," ujarnya, dikutip dari Newsweek.

Pemimpin tertinggi Iran yang menjabat sejak 1989, Ayatollah Ali Khamenei terbunuh dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari.

Menurutnya, sebagian dari kemajuan yang dicapai menunjukkan bahwa Iran bergerak ke arah AS, meski belum cukup jauh.

Wakil presiden itu menilai, semua batasan yang ditetapkan Presiden Donald Trump berasal dari premis mendasar, yakni Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Baca juga: Gencatan Senjata Nyaris Habis, JD Vance Kembali Pimpin Misi Perundingan dengan Iran

"Ada perbedaan antara Iran yang mengatakan bahwa mereka sendiri tidak akan pernah memiliki senjata nuklir dan yang terbaik, tetapi tentu saja kita harus memverifikasi hal-hal tersebut," kata Vance.

Ini termasuk mengeluarkan uranium yang diperkaya yang saat ini dimiliki Iran dan menempatkannya di bawah kendali AS.

AS juga ingin memastikan bahwa Iran tidak memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium agar tak memiliki senjata nuklir.

Iran bersikeras program nuklirnya bersifat damai, meskipun para ahli internasional mengatakan Teheran belum memenuhi kewajibannya untuk bersikap transparan tentang pengembangan nuklirnya.

"Yang kami putuskan adalah, Anda tahu apa, mengingat kami tidak berpikir tim saat ini dan jangka waktu saat ini akan mampu mencapai kesepakatan, biarkan mereka kembali ke Teheran, kami akan kembali ke Washington, dan itulah posisi kami saat ini," jelas dia.

Baca juga: AS Cegat 2 Kapal Tanker, Hendak Kabur dari Iran Saat Blokade Hormuz

Kekalahan Orban di Hongaria

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance saat berbicara kepada awak media sebelum beranjak menaiki pesawat Air Force Two untuk kembali ke Washington DC dari Budapest, Hongaria, setelah diumumkan sebagai pemimpin delegasi negosiasi dengan Iran, 8 April 2026.AFP/POOL/JONATHAN ERNST Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance saat berbicara kepada awak media sebelum beranjak menaiki pesawat Air Force Two untuk kembali ke Washington DC dari Budapest, Hongaria, setelah diumumkan sebagai pemimpin delegasi negosiasi dengan Iran, 8 April 2026.

Kekalahan Orban terjadi meskipun mendapat dukungan besar dari MAGA, dengan Vance sebelumnya berjanji akan membantunya menang. 

Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dalam kunjungannya ke ibu kota Hongaria pada Februari lalu menyatakan komitmen Trump kepada Orban.

Meski kalah, Vance menganggap Orban sebagai orang hebat yang telah melakukan pekerjaan sangat baik.

Baca juga: Curhat Zelensky, AS Tak Punya Waktu untuk Ukraina gara-gara Perang Iran

"Kami tentu tahu ada kemungkinan besar Viktor akan kalah dalam pemilihan itu. Kami melakukan itu karena dia adalah salah satu dari sedikit pemimpin Eropa yang kami lihat bersedia melawan birokrasi di Brussels yang sangat merugikan AS," tuturnya.

Menurutnya, Orban sering memberikan satu-satunya suara untuk melindungi kepentingan AS di Uni Eropa.

"Kami tidak pergi karena kami berharap Viktor akan dengan mudah memenangkan pemilihan. Kami pergi karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan, untuk mendukung seseorang yang telah mendukung kami untuk waktu yang sangat lama," katanya.

"Ini bukan tentang Rusia, dan pada dasarnya, ini bukan tentang Eropa. Ini tentang AS dan fakta bahwa dia telah menjadi mitra yang baik bagi saya dan presiden secara pribadi, tetapi juga bagi AS," lanjutnya.

Tag:  #vance #buka #suara #usai #misinya #soal #iran #hongaria #gagal

KOMENTAR