24 Jam Blokade Selat Hormuz: Pelabuhan Iran Lumpuh, Negosiasi Berpeluang Lanjut
Militer Amerika Serikat menyatakan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran di Selat Hormuz berjalan efektif dalam 24 jam pertama, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal.
Operasi ini membatasi akses kapal keluar-masuk pelabuhan Iran, meski jalur pelayaran internasional di selat tersebut tetap terbuka.
Situasi ini memunculkan sinyal bahwa jalur diplomasi antara Washington dan Teheran yang sempat gagal di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026) berpotensi kembali dibuka.
Baca juga: Korsel Dapat 273 Juta Barrel Minyak dari 4 Negara yang Tak Lewati Selat Hormuz
Aktivitas di pelabuhan Iran terganggu
Blokade tidak menghentikan lalu lintas kapal di selat, tetapi dirancang untuk mencegah kapal memasuki atau keluar dari pelabuhan dan garis pantai Iran.
Secara keseluruhan, lebih dari 10.000 personel militer AS, termasuk pelaut, marinir, dan awak udara, terlibat dalam operasi tersebut, didukung lebih dari selusin kapal perang dan pesawat.
Kapal-kapal yang dikerahkan antara lain kapal induk USS Abraham Lincoln, kapal serbu amfibi USS Tripoli, serta sejumlah kapal perusak berpeluru kendali.
Lalu lintas kapal berjalan terbatas
Meski blokade diberlakukan, kapal komersial masih melintasi Selat Hormuz. Lebih dari 20 kapal, termasuk kapal kargo, kontainer, dan tanker, tercatat melintas pada hari Selasa, menurut dua pejabat AS.
Namun, volume tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan sebelum konflik terjadi. Meski begitu, peningkatan arus kapal ini dinilai sebagai perkembangan positif di salah satu jalur pelayaran paling krusial di dunia.
Sebuah kapal tanker China yang berada di bawah sanksi AS bahkan dilaporkan berbalik arah setelah mencoba keluar melalui selat tersebut, menunjukkan dampak langsung dari pengawasan ketat yang diterapkan.
Sinyal negosiasi AS–Iran kembali menguat
Wakil Presiden AS JD Vance tiba untuk pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan di tengah perundingan damai AS-Iran di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026). Vance tiba di ibu kota Pakistan untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan perdamaian penting dengan Iran, di bawah naungan gencatan senjata rapuh selama dua minggu antara Washington dan Teheran, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator.
Di tengah ketegangan militer, upaya diplomasi kembali mencuat. Sejumlah negara kawasan berupaya mempertemukan kembali Amerika Serikat dan Iran ke meja perundingan setelah pembicaraan sebelumnya di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyatakan optimisme bahwa dialog akan kembali berlangsung.
“Indikasi yang kami miliki adalah sangat mungkin pembicaraan ini akan dimulai kembali,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa persoalan kompleks seperti ini tidak realistis untuk diselesaikan dalam satu putaran perundingan.
Baca juga: Permainan di Balik Blokade Selat Hormuz
Guterres juga menyinggung pentingnya menjaga hukum internasional, dengan mengatakan, “Hak dan kebebasan navigasi internasional, termasuk di Selat Hormuz, harus dihormati oleh semua pihak. Sudah waktunya menahan diri dan bertanggung jawab, waktunya diplomasi, bukan eskalasi, dan waktunya komitmen baru terhadap hukum internasional.”
Negara kawasan dorong gencatan senjata
Sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, Mesir, dan Pakistan, berencana bertemu dengan pejabat Turkiye untuk membahas proposal kepada Iran. Tujuannya adalah mengakhiri penutupan efektif selat tersebut serta mencapai gencatan senjata permanen dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, kelompok negara seperti Inggris, Perancis, dan Australia juga menyerukan agar Lebanon dilibatkan dalam upaya de-eskalasi kawasan.
Mereka mendesak semua pihak untuk mencari solusi politik jangka panjang serta melindungi warga sipil dan infrastruktur sesuai hukum internasional.
Kelompok tersebut turut mengecam serangan oleh Hzbullah terhadap Israel serta serangan Israel ke Lebanon, termasuk serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB (Unifil).
Israel dan Lebanon sempat melaksanakn negosiasi langsung di Washington dengan partisipasi pejabat tinggi AS. Namun, perbedaan sikap masih mencuat. Lebanon menuntut gencatan senjata penuh sebagai prasyarat, sementara Israel belum bersedia berkomitmen.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, bahkan menyebut pembicaraan tersebut “tidak berguna” dan menganggap dialog dengan Israel sebagai bentuk penyerahan.
Dampak ekonomi global
Ketegangan di Selat Hormuz turut memengaruhi pasar energi global. Harga minyak turun pada Selasa karena harapan akan dimulainya kembali negosiasi AS–Iran serta bertahannya gencatan senjata di kawasan Teluk.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan minyak global akan turun sebesar 80.000 barrel per hari tahun ini. Harga minyak WTI ditutup turun 7,9 persen menjadi 91,08 dollar AS (sekitar Rp 1,5 juta) per barrel, sementara Brent turun 4,6 persen menjadi 94,79 dollar AS (sekitar Rp 1,6 juta) per barrel.
Menteri Keuangan Prancis, Roland Lescure, memperingatkan bahwa ekonomi global masih dapat menangkis dampak krisis ini jika cepat diselesaikan. Namun, ia menegaskan, “Jika berlangsung berbulan-bulan, kita semua akan dalam masalah. Selat Hormuz adalah simpul ekonomi dari konflik ini, dan kita perlu mengurainya.”
Baca juga: Hubungan Memanas, Eropa Rancang Misi Amankan Selat Hormuz Tanpa Libatkan AS
Tag: #blokade #selat #hormuz #pelabuhan #iran #lumpuh #negosiasi #berpeluang #lanjut