Sempat Saling Ancam, Trump Klaim Iran Mau Serahkan Uranium yang Diperkaya ke AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim bahwa Iran telah setuju menyerahkan stok uranium yang diperkaya, yang selama ini menjadi titik krusial dalam perundingan damai.(AFP/KENT NISHIMURA)
07:45
17 April 2026

Sempat Saling Ancam, Trump Klaim Iran Mau Serahkan Uranium yang Diperkaya ke AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (16/4/2026) menyatakanIran telah setuju menyerahkan stok uranium yang diperkaya, yang selama ini menjadi titik krusial dalam perundingan damai.

Ia menambahkan bahwa Washington dan Teheran semakin dekat mencapai kesepakatan damai.

“Ada peluang yang sangat besar kita akan membuat kesepakatan,” kata Trump, seperti dikutip AFP.

Baca juga: Trump Bidik Kesepakatan Nuklir dengan Iran, Akankah Lebih Unggul dari Era Obama?

“Mereka telah setuju untuk mengembalikan ‘debu nuklir’ kepada kami,” ujarnya, menggunakan istilahnya untuk stok uranium yang diperkaya.

Namun, Trump tidak memberikan rincian teknis terkait proses penyerahan tersebut, dan Iran juga belum memberikan indikasi publik bahwa mereka akan menyerahkan stoknya.

Sebelumnya, Washington mengancam akan melanjutkan serangan udara dan mempertahankan blokade laut terhadap Iran jika Teheran menolak kesepakatan.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan, “Jika Iran memilih jalan yang salah, maka mereka akan menghadapi blokade dan bom yang dijatuhkan pada infrastruktur, listrik, dan energi.”

Perundingan nuklir

Trump bersikeras setiap kesepakatan harus secara permanen mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Ia sebelumnya meluncurkan perang dengan alasan bahwa Iran mempercepat pembuatan bom atom, meski klaim itu tidak didukung oleh pernyataan badan pengawas nuklir PBB.

AS dilaporkan menginginkan penghentian program pengayaan uranium Iran selama 20 tahun. Sebaliknya, Iran hanya menawarkan penghentian selama lima tahun—usulan yang ditolak Washington.

Iran tetap pada posisinya bahwa program nuklirnya bersifat damai. Teheran juga menegaskan haknya untuk memperkaya uranium tidak dapat diganggu gugat, meskipun tingkat pengayaannya masih bisa dinegosiasikan.

Duta Besar Iran untuk PBB menyatakan, negaranya “berhati-hati optimistis” terhadap pembicaraan damai dan berharap ada “hasil yang bermakna.”

Baca juga: Trump Mau Bangun Gapura Kemenangan di Ibu Kota AS, Didanai Pajak dan Swasta

Peran Pakistan dalam upaya diplomasi

Wakil Presiden AS JD Vance (kiri) disambut oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menjelang perundingan perdamaian AS-Iran di Islamabad pada 11 April 2026. Vance tiba di ibu kota Pakistan untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan perdamaian yang sangat penting dengan Iran, di bawah naungan gencatan senjata rapuh selama dua minggu antara Washington dan Teheran, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator dalam negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri konflik selama enam minggu. JACQUELYN MARTIN Wakil Presiden AS JD Vance (kiri) disambut oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menjelang perundingan perdamaian AS-Iran di Islamabad pada 11 April 2026. Vance tiba di ibu kota Pakistan untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan perdamaian yang sangat penting dengan Iran, di bawah naungan gencatan senjata rapuh selama dua minggu antara Washington dan Teheran, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator dalam negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri konflik selama enam minggu.

Pakistan turut berperan dalam mendorong dialog lanjutan antara AS dan Iran. Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir bertemu dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang sebelumnya memimpin delegasi dalam putaran pertama perundingan.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut pembicaraan lanjutan “sangat mungkin” digelar di Islamabad, meski belum ada tanggal pasti.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan, Iran ditawari “kesepakatan besar” untuk mengakhiri konflik dan sengketa nuklir yang telah berlangsung puluhan tahun.

Di tengah perkembangan tersebut, gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku.

Trump menyebut ia berharap para pemimpin kedua negara akan datang ke Gedung Putih dalam “empat atau lima hari.”

Namun situasi di lapangan masih rapuh. Kelompok Hizbullah belum secara resmi mengakui gencatan senjata, meski seorang pejabat senior menyatakan mereka akan menghormatinya jika serangan Israel berhenti.

Sementara itu, militer Israel mengaku tetap menyerang peluncur roket Hizbullah setelah adanya tembakan dari Lebanon menjelang gencatan berlaku.

Ancaman di Selat Hormuz

Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.AFP/GIUSEPPE CACACE Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.

AS meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui blokade laut dan sanksi baru terhadap industri minyaknya.

Komando Pusat AS mengeklaim telah “sepenuhnya menghentikan perdagangan ekonomi” Iran melalui laut dengan memutar balik 13 kapal.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, sanksi terbaru menargetkan “elit rezim.”

Sebagai respons, pejabat militer Iran Ali Abdollahi memperingatkan, “Angkatan bersenjata tidak akan mengizinkan ekspor atau impor berlanjut di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah.”

Penasihat militer pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei juga mengancam akan menenggelamkan kapal Amerika jika AS mencoba “mengawasi” jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Gangguan di selat tersebut—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia—telah mendorong harga minyak mentah Brent naik 3,24 persen menjadi 98,01 dollar AS (sekitar Rp 1,6 juta).

Baca juga: Ungkap Nasib Iran, Trump Klaim Dunia Bisa Kocar-kacir jika Ia Bukan Presiden

Tag:  #sempat #saling #ancam #trump #klaim #iran #serahkan #uranium #yang #diperkaya

KOMENTAR