Ranjau Iran Sulit Dideteksi, Pentagon Butuh Waktu 6 Bulan Bersihkan Selat Hormuz
Pembersihan ranjau laut di Selat Hormuz diperkirakan bisa memakan waktu hingga enam bulan, menurut penilaian Pentagon kepada Kongres Amerika Serikat pada Selasa (21/4/2026).
Tiga pejabat yang mengetahui diskusi tersebut, sebagaimana dilaporkan The Washington Post, mengatakan, estimasi ini memicu frustrasi dari anggota Kongres dari kedua partai.
Penilaian tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa harga minyak dan bensin akan tetap tinggi bahkan setelah kesepakatan damai tercapai.
Baca juga: Iran Tegaskan Tak Akan Buka Selat Hormuz Selama Blokade AS Masih Berlaku
Diketahui, rata-rata harga bensin di AS tercatat mencapai 4,02 dollar AS (Rp 69.519) per galon, naik dari 2,98 dollar AS (Rp 51.534) sebelum perang dimulai pada Februari.
Presiden Donald Trump sendiri memberikan pernyataan yang berubah-ubah soal harga energi. Ia mengatakan, harga bensin “bisa tetap sama atau mungkin sedikit lebih tinggi” menjelang pemilu paruh waktu, sebelum kemudian menyebut harga akan menjadi “jauh lebih rendah” sebelum pemilu.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga memperkirakan harga bensin baru bisa kembali ke 3 dollar AS (Rp 51.879) per galon pada akhir September.
Ranjau Iran sulit dideteksi
Para pejabat AS mengungkapkan bahwa Iran diduga telah menempatkan setidaknya 20 ranjau di sekitar Selat Hormuz.
Sebagian ranjau disebut diletakkan secara jarak jauh menggunakan teknologi GPS, sehingga menyulitkan deteksi oleh militer AS. Ranjau lainnya diyakini dipasang menggunakan kapal kecil oleh pasukan Iran.
Namun, Pentagon menolak mengomentari detail penilaian tersebut. Juru bicara Pentagon Sean Parnell hanya menyatakan informasi yang beredar sebagai sesuatu yang “tidak akurat” dan menuduh media lebih mementingkan agenda dibanding kebenaran.
Selat Hormuz jadi titik panas konflik
Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.
Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menjadi salah satu titik paling krusial dalam konflik ini.
Iran bahkan menyatakan telah menutup selat tersebut dan menyerang sejumlah kapal, sebagai upaya menekan ekonomi global dan pemerintah AS.
Sebelum konflik, jalur ini menjadi urat nadi distribusi energi bagi negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan China. Gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada rantai pasok global.
Baca juga: Manuver China Saat Krisis Selat Hormuz, antara Diplomasi dan Ambisi
Presiden Trump menuntut Iran menghentikan program nuklirnya, menyerahkan uranium yang telah diperkaya, dan membuka kembali selat tersebut. Ia juga mengancam akan meningkatkan aksi militer jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Di sisi lain, Iran menyatakan tidak akan melanjutkan negosiasi selama AS masih memberlakukan blokade laut yang menekan ekonomi mereka.
Operasi militer
Iran disebut mulai menempatkan ranjau sejak Maret, seiring meningkatnya serangan dari AS dan Israel.
Trump memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi “pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya” jika tidak mencabut ranjau tersebut.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan, pasukan AS menghancurkan kapal-kapal Iran dengan “presisi tanpa ampun” dan menegaskan bahwa AS “tidak akan membiarkan Teheran menyandera Selat Hormuz.”
Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi membantah bahwa negaranya memasang ranjau. Sementara laporan lain menyebut Iran kemungkinan kesulitan menemukan kembali semua ranjau yang telah dipasang.
Risiko jangka panjang
Ahli diplomasi Iran dari Columbia University, Richard Nephew, menilai estimasi enam bulan untuk pembersihan ranjau akan mengguncang pasar minyak dan gas. Ia menekankan bahwa perusahaan asuransi, pemilik kapal, dan kapten kapal akan sangat berhati-hati.
“Anda tidak akan melihat banyak pihak yang mau mengambil risiko itu,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan ranjau mungkin tidak sepenuhnya menghentikan lalu lintas, tetapi gangguan sebagian saja sudah cukup menimbulkan dampak besar. Jalur pelayaran yang tidak sepenuhnya aman bisa mengganggu distribusi energi global secara signifikan.
Baca juga: Iran Sita 2 Kapal di Selat Hormuz Usai Trump Umumkan Perpanjang Gencatan Senjata
Tag: #ranjau #iran #sulit #dideteksi #pentagon #butuh #waktu #bulan #bersihkan #selat #hormuz