AS Disebut Siapkan Skenario Serangan Baru, Iran Ancam Balasan Keras
Seorang wanita Iran berjalan melewati mural anti-AS dan anti-Israel di Teheran pada 21 April 2026, di tengah gencatan senjata di wilayah tersebut.(ATTA KENARE)
15:30
1 Mei 2026

AS Disebut Siapkan Skenario Serangan Baru, Iran Ancam Balasan Keras

Iran memperingatkan akan melancarkan balasan “panjang dan menyakitkan” terhadap posisi Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk jika Washington kembali menyerang wilayahnya.

Ancaman itu muncul dua bulan setelah perang AS-Israel di Iran dan di tengah tertutupnya Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pintu penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Penutupan selat tersebut telah menghambat pasokan energi global, mendorong lonjakan harga, serta memicu kekhawatiran terhadap risiko perlambatan ekonomi.

Baca juga: Trump: Blokade Pelabuhan Iran Lebih Efektif daripada Pengeboman

Upaya diplomatik yang dipimpin Pakistan untuk menyelesaikan konflik juga belum menunjukkan hasil, meski gencatan senjata antara pihak-pihak terkait telah berlaku sejak 8 April.

Iran tetap memblokir Selat Hormuz sebagai respons atas blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya, terutama karena blokade itu menghambat ekspor minyak yang menjadi penopang utama ekonomi Teheran.

Iran klaim penutupan Selat Hormuz sah

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membela langkah negaranya menutup Selat Hormuz.

Baghaei menyebut penutupan itu sebagai bagian dari perang dan pembelaan hak Iran berdasarkan hukum internasional.

“Ini karena perang dan pembelaan hak kita, yaitu menurut hukum internasional sah, legal, dan diterima,” kata Baghaei pada Kamis (30/4/2026) malam, seperti dilaporkan kantor berita resmi Iran, IRNA.

Ia juga menuduh AS mengeksploitasi jalur air tersebut, sementara Iran merupakan salah satu negara pesisir di kawasan itu.

“Dalam keadaan seperti itu, Anda tidak dapat membiarkan jalur air ini disalahgunakan,” ujar Baghaei.

Baca juga: Pentagon Ungkap Biaya Perang AS–Iran Tembus Rp 427 Triliun, Setara Anggaran NASA Tahun Ini

Baghaei turut membenarkan kemungkinan serangan terhadap aset AS di negara-negara Teluk.

Ia menuding negara-negara kawasan telah bertindak tidak adil karena bekerja sama dengan pihak asing dalam serangan terhadap Iran pada bulan suci Ramadan.

Negara Teluk bereaksi terhadap ancaman Iran

Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman AFP/GIUSEPPE CACACE Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman

Ancaman Iran memicu reaksi dari sejumlah negara Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) pada Kamis mengumumkan larangan bagi warganya bepergian ke Iran, Lebanon, dan Irak.

Pemerintah UEA juga meminta warga negaranya yang masih berada di tiga negara tersebut segera meninggalkan wilayah itu dan kembali ke negaranya.

Pada Jumat (1/5/2026), penasihat presiden UEA, Anwar Gargash, menanggapi ancaman Iran terhadap target-target di Teluk.

“Tidak ada pengaturan sepihak Iran yang dapat dipercaya atau diandalkan, setelah agresi pengkhianatannya terhadap semua tetangganya,” kata Gargash.

Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa juga mengecam tindakan Iran yang disebutnya sebagai agresi terhadap Manama.

Ia menuduh Teheran mengancam keamanan dan stabilitas Bahrain serta membuka ruang bagi kolaborator internal.

Dalam pernyataannya, Raja Hamad menyampaikan kemarahan terhadap sejumlah individu dan anggota parlemen yang dituduh berpihak kepada pihak penyerang.

Ia memperingatkan bahwa pihak yang dianggap berkhianat dapat menghadapi hukuman penjara, pencabutan kewarganegaraan, dan pengusiran.

Raja Hamad menegaskan, loyalitas kepada negara merupakan hal utama, serta menyerukan persatuan dan akuntabilitas.

Ia juga menyatakan bahwa parlemen harus “dibersihkan” dari pihak-pihak yang mendukung musuh, dikutip dari Al Jazeera.

Baca juga: UEA Tinggalkan OPEC di Tengah Perang Iran, Apa yang Akan Terjadi?

AS belum pastikan serangan baru

Hingga kini, belum jelas apakah AS akan memperbarui serangan terhadap Iran. Jumat menjadi batas waktu bagi Kongres AS untuk menyetujui perang tersebut.

Tanpa persetujuan Kongres atau perpanjangan 30 hari yang harus dibenarkan pemerintahan Donald Trump setiap hari, AS harus mengurangi serangannya secara signifikan berdasarkan Resolusi Kekuatan Perang 1973.

Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan pada Kamis malam bahwa permusuhan telah berhenti sejak gencatan senjata April antara Teheran dan Washington dimulai.

Menurut pejabat itu, kondisi tersebut secara efektif mengatur ulang hitungan mundur berdasarkan resolusi tersebut.

Sementara itu, Presiden Donald Trump dilaporkan menerima pengarahan dari para pejabat pada Kamis terkait rencana sejumlah serangan militer lanjutan.

Laporan Axios, dengan mengutip sumber, menyebut rencana itu disiapkan untuk menekan Iran agar bersedia bernegosiasi dan mengakhiri konflik.

Senator Demokrat AS Richard Blumenthal mengatakan kepada CNN bahwa ia mendapat kesan dari sejumlah pengarahan dan sumber lain bahwa serangan militer dalam waktu dekat sangat mungkin terjadi.

Blumenthal menyebut kemungkinan tersebut sangat mengkhawatirkan karena dapat menempatkan warga AS dalam bahaya dan berpotensi menimbulkan korban jiwa besar.

Baca juga: Ahli Peringatkan Dampak Perang AS-Iran, dari Inflasi hingga Gangguan Pasokan

Iran bersiap hadapi kemungkinan serangan

Iran juga dilaporkan mulai bersiap menghadapi kemungkinan serangan baru. Aktivitas pertahanan udara terdengar di beberapa wilayah ibu kota Teheran pada Kamis malam, menurut kantor berita semi-resmi Iran, Mehr.

Kantor berita Tasnim melaporkan, sistem pertahanan udara Iran sedang mencegat drone kecil dan kendaraan udara pengintai tak berawak.

Seorang pejabat senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan bahwa setiap serangan baru AS terhadap Iran, meski terbatas, akan memicu serangan panjang dan menyakitkan terhadap posisi regional Washington.

Media Iran, dengan mengutip komandan angkatan udara Majid Mousavi, melaporkan peringatan keras terhadap keberadaan militer AS di kawasan.

“Kami telah melihat apa yang terjadi pada pangkalan regional Anda, kami akan melihat hal yang sama terjadi pada kapal perang Anda,” kata Mousavi.

Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei juga menyampaikan pesan tertulis kepada rakyat Iran.

Ia mengatakan bahwa “penyalahgunaan jalur air oleh musuh” akan dihilangkan di bawah pengelolaan baru terhadap selat tersebut.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Teheran berniat mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz.

“Orang asing yang datang dari ribuan kilometer jauhnya tidak punya tempat di sana kecuali di dasar perairannya,” kata Khamenei.

Baca juga: Fakta di Balik Perang Iran: Pemimpin Berganti, Sistem Tetap Sama

Trump disebut punya beberapa skenario

Dari Gedung Putih, koresponden Al Jazeera Mike Hanna melaporkan bahwa sejumlah skenario telah disiapkan bagi Presiden Trump.

Skenario itu disusun oleh penasihat militer dan penasihat intelijen AS untuk mengantisipasi situasi jika gencatan senjata tidak lagi diperpanjang.

“Tidak diragukan lagi bahwa berbagai skenario telah disiapkan untuknya oleh penasihat militernya dan oleh penasihat intelijennya tentang apa yang harus dilakukan jika gencatan senjata tidak lagi diperpanjang,” kata Hanna.

Menurut Hanna, skenario tersebut kemungkinan mencakup tindakan bersenjata atau tekanan ekonomi yang lebih intensif.

Ia menambahkan, Trump memiliki sejumlah pilihan di hadapannya, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan presiden AS tersebut.

“Sama sekali tidak ada keraguan bahwa Presiden Trump memiliki berbagai macam skenario yang telah disiapkan di hadapannya, tetapi juga sangat jelas, dialah dan hanya dialah yang akan memilih apa yang harus dilakukan selanjutnya,” ujar Hanna.

Tag:  #disebut #siapkan #skenario #serangan #baru #iran #ancam #balasan #keras

KOMENTAR