Prediksi Analis Militer Barat Sebut Rusia Mulai Terjepit Lawan Ukraina, Gencatan Senjata?
Presiden Rusia Vladimir Putin (Pixabay/Dimitro Sevastopol)
12:32
15 Mei 2026

Prediksi Analis Militer Barat Sebut Rusia Mulai Terjepit Lawan Ukraina, Gencatan Senjata?

Peluang berakhirnya kontak senjata antara Rusia dan Ukraina diprediksi semakin menguat menjelang paruh kedua tahun 2026. Kombinasi antara kemandirian militer Kyiv dan krisis internal di Kremlin menjadi faktor penentu penghentian perang ini.

Kebuntuan di garis depan pertempuran memaksa kedua belah pihak mempertimbangkan opsi diplomasi untuk mencegah kerugian lebih lanjut. Rusia mulai kehilangan momentum serangan meski diuntungkan oleh lonjakan harga komoditas energi global saat ini.

Ukraina justru menunjukkan taji dengan menghancurkan jalur logistik minyak di wilayah kedaulatan Rusia, termasuk pelabuhan Tuapse.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (x.com)Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (x.com)

Langkah berani ini memicu penurunan stabilitas domestik Rusia hingga memaksa pemerintah membatasi akses internet seluler.

Mantan utusan AS, Kurt Volker, menyebut bahwa militer Ukraina kini berada dalam posisi yang jauh lebih tangguh.

Ketergantungan Kyiv terhadap pasokan senjata dari negara-negara Barat dilaporkan telah menurun secara signifikan secara sistematis.

"Ukraina kini mampu memenuhi sekitar 60 hingga 70% kebutuhan militernya sendiri," ujar Volker terkait ketahanan pertahanan Ukraina, dikutip dari DW Jerman.

Angka ini menjadi jaminan bagi Kyiv untuk tetap bertahan meskipun perhatian Amerika Serikat terpecah ke wilayah Teluk.

Detik-detik Video Pasukan Udara Ukraina Hancurkan Jembatan Penting di Kursk, Rusia pada Rabu (16/8/2024) waktu setempat. (Suara.com/ via X)Detik-detik Video Pasukan Udara Ukraina Hancurkan Jembatan Penting di Kursk, Rusia pada Rabu (16/8/2024) waktu setempat. (Suara.com/ via X)

Pengalihan fokus Gedung Putih terhadap konflik Iran dan Israel memang sempat memicu kekhawatiran serius di internal Ukraina. Namun, transformasi industri pertahanan dalam negeri memungkinkan mereka beroperasi meski tanpa bantuan rudal Patriot yang mulai terbatas.

Ketidakpastian politik di Amerika Serikat menjelang pemilu sela menjadi variabel yang sangat memengaruhi durasi perang ini. Kebijakan Donald Trump yang lebih memprioritaskan isu Iran dan Kuba mulai menekan posisi tawar Ukraina secara politik.

Zelenskyy mengakui adanya tekanan dari Washington agar pasukannya mundur dari wilayah Donbass sebagai syarat damai sementara.

Evelyn Farkas dari McCain Institute menilai desakan tersebut adalah bentuk manuver politik yang akan diuji pasca-pemilu November.

"Hal itu bisa cukup untuk menekan pemerintah AS agar tetap melanjutkan dukungan kepada Ukraina dan NATO," tegas Farkas.

Jika dominasi Republik melunak setelah pemilihan, aliran bantuan untuk membendung pengaruh Rusia diprediksi akan kembali stabil.

Pakar militer melihat bahwa mengakhiri perang melalui kemenangan total di medan tempur adalah hal yang mustahil dilakukan.

Laksamana Giuseppe Cavo Dragone menekankan bahwa meski ekonomi Rusia melambat, kekuatan militer mereka tidak bisa diremehkan.

Moskow mungkin tidak akan pernah bersedia menandatangani dokumen perdamaian permanen yang mengakui kedaulatan penuh wilayah Ukraina. Namun, Volker meyakini bahwa kesepakatan untuk berhenti menembak adalah solusi paling realistis yang bisa dicapai tahun ini.

Waktu dianggap tidak lagi memihak pada Putin seiring dengan memburuknya situasi internal dan meningkatnya beban biaya perang.

Konflik ini berakar dari invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina yang dimulai sejak awal tahun 2022 silam. Setelah empat tahun pertempuran berdarah, situasi geopolitik 2026 berubah total akibat eskalasi perang di Timur Tengah yang melibatkan AS-Israel melawan Iran. Hal ini memaksa Ukraina melakukan diversifikasi produksi senjata domestik untuk mengurangi ketergantungan pada sekutu Barat.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Tag:  #prediksi #analis #militer #barat #sebut #rusia #mulai #terjepit #lawan #ukraina #gencatan #senjata

KOMENTAR