Negosiasi AS-Iran Berada di Ambang Batas, antara Damai atau Perang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri acara kesehatan di South Court Auditorium, Gedung Putih, Washington DC, 18 Mei 2026.(AFP/KENT NISHIMURA)
06:07
21 Mei 2026

Negosiasi AS-Iran Berada di Ambang Batas, antara Damai atau Perang

- Presiden AS Donald Trump mengatakan, pembicaraan dengan Teheran pada Rabu (20/5/2026) kini berada di ambang batas antara kesepakatan damai atau kembali perang.

Trump telah memberikan sinyal yang saling bertentangan sejak mengumumkan perkembangan negosiasi pada Senin (18/5/2026). 

Ia juga telah membatalkan serangan baru untuk memberi waktu bagi negosiasi, beralih antara optimisme tentang kesepakatan dan ancaman tindakan lebih lanjut.

"Percayalah, ini sudah di ambang batas," kata Trump kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews dekat Washington ketika ditanya tentang perkembangan pembicaraan dengan Iran, dikutip dari AFP.

"Jika kita tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berjalan sangat cepat. Kita semua sudah siap. Kita harus mendapatkan jawaban yang tepat, harus berupa jawaban yang benar-benar 100 persen tepat," lanjutnya.

Baca juga: AS Ancang-ancang Mulai Perang Lagi, Iran Tetap Tak Mau Tunduk

Iran pelajari proposal baru AS

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei menuturkan, pihaknya telah menerima proposal baru dari AS.

Saat ini, mereka sedang mempelajari proposal itu, dengan seorang menteri dari Pakistan mengunjungi Teheran.

"Kami telah menerima sudut pandang dari pihak AS dan saat ini sedang menelaahnya. Kehadiran Menteri Dalam Negeri Pakistan bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran pesan," kata Baqaei kepada televisi pemerintah.

Ia mengulangi tuntutan Teheran dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang, termasuk pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri dan pengakhiran blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Baca juga: Iran Janji Picu Perang hingga ke Luar Timur Tengah jika AS Kembali Menyerang

Sebelumnya, kepala negosiator Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Washington berupaya untuk memulai kembali perang setelah Trump mengancam akan melakukan serangan baru.

Ia memperingatkan akan adanya tanggapan keras dari Iran. 

"Pergerakan musuh, baik yang terang-terangan maupun yang terselubung, menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan ekonomi dan politik, mereka belum meninggalkan tujuan militer mereka dan berupaya untuk memulai perang baru," ujar Ghalibaf.

Senada, Garda Revolusi Iran (IRGC) turut memberikan ancaman bahwa konflik yang kembali terjadi akan menyebar jauh melampaui Timur Tengah.

Baca juga: Bagaimana Iran Bisa Nyaris Punya 11 Bom Nuklir di Era 3 Presiden AS?

Trump tunda serangan ke Iran

Perang yang berlangsung hampir 40 hari itu membunuh para pemimpin tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. 

Pada Selasa (19/5/2026), Trump memberikan tenggat waktu beberapa hari untuk melanjutkan serangan jika kesepakatan tidak tercapai. 

Sehari sebelumnya, ia mengatakan bahwa para pemimpin negara-negara Teluk Arab memintanya untuk menunda serangan pada saat-saat terakhir.

"Saya bilang dua atau tiga hari, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu, atau sesuatu, mungkin awal minggu depan, jangka waktu terbatas," katanya.

Tag:  #negosiasi #iran #berada #ambang #batas #antara #damai #atau #perang

KOMENTAR