Trump Kejar Damai dengan Iran, Tanda Tak Percaya Netanyahu Lagi?
Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong kesepakatan damai dengan Iran memunculkan tanda tanya besar terhadap hubungan politiknya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Sejumlah analis menilai, kegagalan Israel meraih kemenangan dalam perang melawan Iran membuat Trump mulai kehilangan kepercayaan kepada Netanyahu.
Situasi itu mencuat setelah Trump mengumumkan di media sosial pada Minggu (24/5/2026) bahwa kesepakatan damai awal dengan Teheran telah “sebagian besar dinegosiasikan”.
Baca juga: Netanyahu Disebut Makin Tersisihkan, Tak Dilibatkan Trump dalam Negosiasi AS–Iran
Netanyahu dinilai gagal penuhi janji kemenangan
Selama puluhan tahun, Netanyahu membangun narasi bahwa penghancuran Iran akan membawa stabilitas Timur Tengah dan membuka normalisasi hubungan Israel dengan dunia Arab-Islam.
Namun menurut ilmuwan politik Ali Alfoneh, perang terbaru justru memperlihatkan kegagalan strategi tersebut.
Alfoneh menilai Netanyahu dua kali berhasil meyakinkan Trump untuk terlibat dalam perang Israel melawan Iran dengan janji kemenangan cepat dan runtuhnya rezim di Teheran.
“Tidak satu pun dari tujuan itu tercapai,” kata Alfoneh, penulis Political Succession in the Islamic Republic of Iran sekaligus peneliti senior di Arab Gulf States Institute yang berbasis di Washington, seperti dikutip South China Morning Post.
Menurut dia, akibat situasi tersebut, “Trump tampaknya tidak lagi mempercayai Netanyahu”, yang menjadi tantangan politik serius bagi pemimpin Israel itu.
Alfoneh juga memperingatkan bahwa kedekatan Netanyahu dengan Trump selama ini telah menjauhkan sebagian kubu Partai Demokrat dari Israel dan berpotensi merusak hubungan Israel dengan dua kekuatan politik utama di AS.
Kesepakatan damai dinilai jadi pukulan politik
Wakil Presiden AS JD Vance (tengah) berbicara dengan Kepala Angkatan Darat dan Marsekal Lapangan Syed Asim Munir (kiri) dan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar (kanan) setelah tiba untuk pembicaraan perdamaian AS-Iran di Islamabad pada 11 April 2026.
Barbara Slavin, peneliti senior Timur Tengah di Stimson Center, mengatakan, kesepakatan AS-Iran justru akan memperkuat legitimasi pemerintah Iran dan menutup peluang perubahan rezim di negara tersebut.
“Jadi Netanyahu berhasil meyakinkan Trump untuk pergi berperang hanya untuk gagal mencapai semua tujuannya,” ujar Slavin.
“Sulit menyebut itu sebagai kemenangan dalam bentuk apa pun.”
Analis risiko politik Andreas Krieg menyebut kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang akan menjadi “kemunduran politik serius” bagi Netanyahu, meski belum tentu mengakhiri karier politiknya.
Menurut Krieg, Netanyahu selama ini membangun karier politiknya dengan klaim bahwa hanya dirinya yang mampu menetralisasi ancaman nuklir Iran.
Karena itu, bila nota kesepahaman AS-Iran tetap berjalan dan isu nuklir hanya ditunda sementara, Netanyahu akan kesulitan menggambarkan perang tersebut sebagai keberhasilan strategis.
“Perang ini dijual sebagai konfrontasi penentu, bukan sebagai cara kembali ke kerangka sementara lainnya,” kata Krieg, profesor studi pertahanan di King’s College London.
Ia menambahkan, kerusakan politik terhadap Netanyahu akan semakin besar karena selama bertahun-tahun ia memperingatkan bahaya pendekatan semacam itu.
“Jika Trump menerima pengaturan yang memberi Iran waktu, uang, dan ruang ekspor minyak sebelum isu uranium yang diperkaya diselesaikan, maka doktrin Iran milik Netanyahu terlihat terbuka kelemahannya,” ujar Krieg.
Baca juga: Trump Redam Kecemasan Netanyahu, Janji Tak Abaikan Nuklir Iran
Perpecahan di Partai Republik
Rencana kesepakatan damai itu langsung memicu perdebatan keras di kalangan tokoh Republik. Senator Ted Cruz menyebut proposal tersebut sebagai bentuk “pendamaian terhadap Iran”.
Mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo bahkan menyamakan nota kesepahaman itu dengan “membayar Garda Revolusi Iran untuk membangun program senjata pemusnah massal dan meneror dunia.”
Keduanya juga membandingkan kesepakatan itu dengan perjanjian nuklir Iran tahun 2015 era Presiden Barack Obama, yang sebelumnya dibatalkan Trump saat Pompeo menjabat sebagai menteri luar negeri.
Namun kubu anti-perang di Gedung Putih membalas keras kritik tersebut. Penasihat politik Trump, Alex Bruesewitz, meminta Cruz berhenti mencoba melemahkan presiden dan pemerintahannya.
Sementara Direktur Komunikasi Gedung Putih Steve Cheung dan pejabat kontra-terorisme Sebastian Gorka juga menyerang balik Pompeo secara terbuka.
Negara Arab tak mau ikut perang
Di sisi lain, strategi Netanyahu untuk membangun poros keamanan regional anti-Iran bersama negara-negara Arab juga dinilai mulai goyah.
Meski ribuan rudal dan drone menghantam kawasan selama perang berlangsung, negara-negara Teluk menolak terseret langsung ke konflik.
Trump bahkan menyatakan harapannya agar kesepakatan damai nantinya bisa membuat negara-negara Arab-Islam — “dan siapa tahu, mungkin juga Republik Iran” — ikut bergabung dalam Abraham Accords.
Namun Senator Lindsey Graham menuntut agar kesepakatan damai dengan Iran harus disertai syarat Arab Saudi, Qatar, dan Pakistan bergabung dalam perjanjian tersebut.
Menurut Alfoneh, para pemimpin Israel dan pendukungnya di AS selama ini terlalu percaya pada propaganda mengenai normalisasi hubungan lewat Abraham Accords. Sebaliknya, negara-negara Arab dinilai jauh lebih realistis.
Ia mengatakan, Uni Emirat Arab dan Bahrain memang telah lama memiliki hubungan informal dengan Israel sebelum resmi menormalisasi hubungan pada 2020. Namun mereka masuk Abraham Accords terutama karena adanya konsesi konkret dari pemerintahan Trump periode pertama.
“Mereka tidak pernah berniat menjadi umpan meriam bagi Israel,” kata Alfoneh.
Krieg juga menilai perang ini menunjukkan batas dari gagasan Netanyahu bahwa monarki Teluk akan menjadikan Israel sebagai pilar keamanan utama menghadapi Iran.
Menurut dia, negara-negara Teluk masih menginginkan kerja sama keamanan terbatas dengan Israel, terutama di bidang intelijen, pertahanan udara, siber, drone, dan pemantauan Iran. Namun mereka tidak ingin bergantung secara strategis kepada Israel.
Sebaliknya, perang justru mendorong negara-negara tersebut memperluas hubungan keamanan dengan AS, Eropa, Pakistan, Turkiye, bahkan tetap menjaga jalur komunikasi dengan Iran.
Baca juga: Presiden Korsel Murka 2 Warganya Ditahan Israel, Mau Balas Tangkap Netanyahu
Tag: #trump #kejar #damai #dengan #iran #tanda #percaya #netanyahu #lagi