Jepang Kehilangan 3 Juta Penduduk dalam 5 Tahun, Banyak Rumah Kosong
– Jepang kembali dihadapkan pada kenyataan pahit soal krisis kependudukan.
Data sensus terbaru yang dirilis pemerintah pada Jumat (30/5/2025) mencatat penurunan jumlah penduduk sebesar lebih dari 3 juta jiwa hanya dalam kurun waktu lima tahun.
Berdasarkan hasil sensus sementara tersebut, jumlah penduduk Jepang kini di angka sekitar 123 juta jiwa pada 2025.
Baca juga: Jepang Tolak Tuduhan ‘Militerisme Baru’ oleh China, Balas Mengkritik Beijing
Angka ini turun signifikan dari 126,1 juta jiwa yang tercatat pada sensus 2020, sebagaimana dilansir The New York Times, Senin (1/5/2026).
Penurunan ini merupakan yang terbesar sejak pemerintah Jepang mulai mengumpulkan data sensus pada 1920.
Di satu sisi, kondisi ini bukan hal baru. Puncak jumlah penduduk Jepang tercatat pada 2008 dengan 128 juta jiwa, dan kini diproyeksikan akan terus menyusut hingga hanya 87 juta jiwa pada 2070.
Angka saat ini kira-kira setara dengan populasi Jepang pada 1989.
Baca juga: Yen Juga Melemah, Jepang Gelontorkan Rp 1.300 T Dongkrak Nilai Tukar
Hasil sensus menunjukkan krisis demografis kini nyaris melanda seluruh penjuru Jepang.
Dari 47 prefektur yang ada, hanya dua yang tidak mengalami penurunan penduduk pada 2025.
Yang lebih mengkhawatirkan, laju penurunannya justru semakin cepat.
Wilayah yang paling terdampak adalah prefektur-prefektur di bagian utara, yakni Akita dan Aomori, yang populasinya menyusut sekitar 8 persen antara 2020 dan 2025.
Baca juga: China Geram atas Negosiasi Jepang dan Filipina soal Batas Maritim, Disebut Ilegal
Kedua wilayah ini dihuni oleh sebagian besar penduduk lanjut usia Jepang.
Sementara itu, generasi muda terus berduyun-duyun meninggalkan kampung halaman akibat upah yang stagnan dan musim dingin yang keras.
Pedesaan di Jepang juga perlahan-lahan mengalami kekosongan.
Sekolah-sekolah di sejumlah daerah diubah menjadi panti jompo atau pusat komunitas.
Jutaan rumah dibiarkan kosong, kantor-kantor pemerintah dan rumah sakit memangkas operasional, sementara jalur kereta api mulai ditutup satu per satu.
Baca juga: Jepang-Taiwan Buka Rute Feri dengan Kapal Siap Perang
Sampai kapan?
Di tengah tren suram tersebut, beberapa daerah masih mencatat sedikit harapan.
Okinawa, gugusan pulau subtropis di ujung selatan Jepang, justru mengalami pertumbuhan penduduk.
Wilayah ini memiliki tingkat kesuburan tertinggi di Jepang, dengan rata-rata 1,5 anak per perempuan sepanjang hidupnya, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 1,1.
Kota-kota besar Jepang juga masih mampu menahan laju penurunan, setidaknya untuk sementara.
Baca juga: “Catnomics”, Ketika Jepang Raup Miliaran Dollar dari Kucing...
Kawasan metropolitan Tokyo, yang mencakup Tokyo dan prefektur-prefektur sekitarnya seperti Kanagawa, Saitama, dan Chiba, sedikit bertumbuh menjadi 37 juta jiwa pada 2025, atau sekitar 30 persen dari total populasi nasional.
Kota Tokyo sendiri bahkan mencatat kenaikan lebih dari 1 persen menjadi 14,2 juta jiwa.
Pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh arus masuk pelajar dan tenaga kerja muda yang mencari peluang di ibu kota.
Kepadatan Tokyo kini sekitar 20 kali lipat dibandingkan rata-rata wilayah lain di Jepang, menjadikannya salah satu kota terpadat di dunia.
Baca juga: Jepang Sukses Uji Mesin Pesawat Hipersonik, Tokyo-AS Cuma 2 Jam
Belum membuahkan hasil
Selama beberapa dekade, pemerintah Jepang telah berupaya mendorong angka kelahiran dengan mendorong anak muda untuk memiliki lebih banyak keturunan.
Namun hasilnya jauh dari harapan, membuat Jepang bertengger di antara negara-negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia.
Saat ini, setiap satu kelahiran berbanding dua kematian.
James Raymo, profesor sosiologi di Universitas Princeton yang mendalami isu kependudukan Jepang, menilai bahwa upaya pemerintah dalam mendorong kesuburan tidak benar-benar menggerakkan jarum.
Baca juga: AS Tunda Kirim Rudal Tomahawk, Rencana Serangan Jarak Jauh Jepang Terancam
"Jepang kini telah mencapai level di mana penurunan semacam ini tidak bisa dibalik dalam jangka pendek maupun menengah," ujar Raymo.
"Hal ini tidak akan terjadi tanpa adanya imigrasi massal," lanjutnya.
Padahal, membuka pintu lebih lebar bagi warga asing dapat membantu mengimbangi penurunan tersebut.
Namun pemerintah Jepang selama ini bersikap hati-hati terhadap kebijakan imigrasi, sementara politisi dan komentator berhaluan nasionalis dengan agenda "Japan First" kian mendapatkan pengaruh.
Baca juga: Pendiri 7-Eleven Jepang, Toshifumi Suzuki, Meninggal pada Usia 93 Tahun
Peringatan bagi dunia
Ilustrasi penyebrangan di Shibuya, Tokyo, yang menjadi kota terpadat di dunia.
Jepang, menurut para pengamat, adalah cerminan dari badai demografis yang kelak akan melanda negara-negara maju lainnya.
Populasi yang menyusut sudah mulai menghambat pertumbuhan ekonomi, membebani sistem layanan kesehatan, dan memicu kekurangan tenaga kerja.
Ke depan, kondisi ini diperkirakan akan semakin memburuk.
Akan semakin sulit untuk menemukan tenaga kerja di sekolah, rumah sakit, kepolisian, hingga stasiun kereta.
Baca juga: Makin Ketat, Jepang Bakal Pantau Medsos untuk Buru Pekerja Asing Ilegal
Negara ini juga bisa kekurangan generasi muda yang mampu membayar pajak untuk menopang para pensiunan.
Raymo mengingatkan bahwa Jepang bukan sekadar kasus tersendiri, melainkan sebuah pelajaran berharga bagi dunia.
"Semakin banyak negara di Asia dan di tempat lain yang akan mengalami tingkat penurunan demografis serupa," katanya.
"Jepang hanya berada di garis terdepan dan telah menghadapinya jauh lebih lama," lanjutnya.
Baca juga: Marak Pekerja Asing Ilegal di Ibaraki Jepang, Warga Dapat Rp 1 Juta jika Melapor
Tag: #jepang #kehilangan #juta #penduduk #dalam #tahun #banyak #rumah #kosong