Waspada Dominasi dan Kontrol Berlebih, Ciri Hubungan Asmara Tak Sehat
Ilustrasi pasangan. Psikolog mengingatkan keputusan kembali menjalin hubungan hanya karena kasihan dapat memicu ketidakseimbangan dan masalah emosional dalam jangka panjang.(Freepik/tirachardz)
18:35
29 Maret 2026

Waspada Dominasi dan Kontrol Berlebih, Ciri Hubungan Asmara Tak Sehat

- Obrolan seputar red flag, gaslighting, dan hubungan toksik, kini semakin marak di media sosial. Namun, ciri hubungan yang tidak sehat jauh lebih kompleks dari sekadar istilah tren tersebut dan bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan.

Spesialis rehabilitasi psikososial, Kendra Cherry, MS, menuturkan bahwa tanda-tanda hubungan yang merugikan ini sering "menyusup" dan berkembang tanpa disadari oleh pasangan.

"Masalahnya adalah, meskipun beberapa hubungan jelas toksik atau bahkan kasar, banyak pola hubungan yang tidak sehat dapat berkembang dari waktu ke waktu dan jauh lebih halus," tulis Cherry dalam artikelnya di Verywell Mind, disadur pada Minggu (29/3/2026).

Baca juga: Bare Minimum: Memahami Batas Usaha dalam Sebuah Hubungan

Mengenali tanda hubungan yang tidak sehat

Setiap jalinan asmara tentu memiliki keunikannya sendiri dan terus berproses seiring berjalannya waktu.

Sebuah ikatan yang pada awalnya dimulai dengan fondasi yang sehat bisa saja secara bertahap memunculkan masalah pelik yang harus segera ditangani.

"Hubungan seperti itu sering mengalami peningkatan ketegangan, konflik, dan stres. Meskipun masalah ini umum terjadi dalam hubungan romantis, masalah ini juga dapat memengaruhi hubungan dengan anggota keluarga, teman, dan rekan kerja," tutur Cherry.

Lantas, apa saja hal-hal yang menandakan bahwa kamu sedang menjalani hubungan yang tidak sehat?

Baca juga: Kenapa Gen Z Lebih Sensitif Soal Perbedaan Usia dalam Hubungan Asmara?

1. Dominasi dan kontrol berlebih

Ilustrasi pasangan bertengkar.Google Gemini AI Ilustrasi pasangan bertengkar.

Dalam hubungan yang tidak sehat, salah satu pihak sering kali berusaha menguasai kehidupan pasangannya lewat manipulasi maupun intimidasi secara halus.

Terkadang, sikap yang terlihat terlalu protektif dan penuh kemesraan, sengaja digunakan sebagai kedok untuk memantau aktivitas dan membatasi kebebasan.

"Kontrol juga dapat bermanifestasi sebagai posesif dan cemburu. Meskipun merupakan emosi normal, keduanya menjadi tidak sehat ketika seseorang mencoba mengendalikan tindakan orang lain, melampiaskan kemarahan, atau membuat tuduhan perselingkuhan," kata Cherry.

Baca juga: 4 Tanda Cemburu yang Toxic dan Merusak Hubungan, Kenali Sebelum Terlambat

2. Memudarnya rasa saling percaya

Fondasi yang rapuh biasanya ditandai dengan hilangnya rasa percaya secara perlahan. Kamu mungkin mulai merasa perlu menyembunyikan sesuatu, atau sebaliknya, merasa curiga bahwa pasangan menyimpan rahasia rapat-rapat.

Membangun kepercayaan menuntut kedua belah pihak untuk berani saling terbuka dan membagikan informasi pribadi.

Sayangnya, gaya keterikatan masa kecil atau trauma masa lalu kerap membuat seseorang kesulitan untuk memercayai pasangannya saat menjalin komitmen dewasa.

Baca juga: 9 Tanda Pasangan Punya Masalah Kepercayaan

3. Hilangnya sikap saling menghormati

Hilangnya rasa hormat bisa muncul dalam berbagai wujud nyata, mulai dari sikap meremehkan hingga secara sengaja merendahkan harga diri pasangan di depan umum.

"Dalam kasus lain, itu bisa melibatkan ejekan atau mengolok-olok pendapat atau minat orang lain secara terang-terangan," kata Cherry.

Perlakuan tidak menyenangkan dan penolakan ini sering memicu berbagai emosi negatif yang mendalam, seperti rasa sakit hati, rasa malu, rasa bersalah, kesepian, hingga kecemasan sosial.

4. Terjebak dalam komunikasi yang buruk

Kunci utama dari ikatan yang kuat adalah komunikasi yang efektif. Sebaliknya, hubungan yang tidak sehat kerap diwarnai dengan keengganan berdiskusi, sikap defensif, atau harapan tidak masuk akal agar pasangan bisa membaca pikiran.

Kegagalan dalam berkomunikasi ini bahkan telah terbukti secara ilmiah menjadi faktor pemicu perceraian yang dampaknya jauh lebih fatal dibandingkan masalah stres, komitmen, maupun perbedaan kepribadian.

Baca juga: 5 Bahasa Cinta dan Arti Pentingnya dalam Komunikasi

5. Munculnya sikap manipulatif dan saling menyalahkan

Ilustrasi pasangan sedang berkonflik.FREEPIK Ilustrasi pasangan sedang berkonflik.

Seiring berjalannya waktu, tekanan hidup bisa memicu seseorang untuk menggunakan mekanisme pertahanan diri yang merusak kelancaran hubungan

Dinamika ini sering ditandai dengan munculnya pengkhianatan, kebiasaan saling menyalahkan, gaslighting, hingga manipulasi finansial.

"Dalam hubungan yang tidak sehat, kamu mungkin merasa harus berhati-hati di sekitar pasangan, atau kamu mungkin merasa selalu harus menyembunyikan apa yang sebenarnya kamu pikirkan atau rasakan," tutur Cherry.

"Kamu bahkan mungkin merasa harus mengorbankan hal-hal yang benar-benar kamu inginkan agar orang lain tetap bahagia," sambung dia.

Baca juga: 3 Tanda Hubungan Kamu dan Dia Akan Langgeng 

Indikator lainnya adalah dinamika hubungan sepihak, dimana hanya satu orang yang menguras tenaga dan emosi untuk mempertahankan ikatan tersebut.

Pada akhirnya, pihak yang berjuang sendirian ini akan merasa tidak didukung, terisolasi, dan mengalami kelelahan mental yang luar biasa.

"Terkadang, perilaku tidak sehat dapat muncul selama masa stres ekstrem. Dalam kasus lain, pola perilaku tidak sehat yang terus-menerus dapat memburuk dari waktu ke waktu, atau muncul selama berbagai tahap hubungan," kata Cherry.

Beberapa masalah mungkin masih bisa diperbaiki melalui strategi self--help atau bantuan tenaga profesional kesehatan mental.

Namun, jika hubunganmu sudah melibatkan pelecehan fisik, verbal, atau seksual, prioritas utamamu haruslah mencari jalan keluar demi memastikan keselamatan diri.

Baca juga: Bukan Sekadar Bosan, Ini 4 Tanda Pasangan Sudah Tidak Cinta Lagi

Tag:  #waspada #dominasi #kontrol #berlebih #ciri #hubungan #asmara #sehat

KOMENTAR