Tren Olahraga Lari, Solusi Ampuh Cegah Diabetes pada Gen Z
6-6-6 walking workout diklaim efektif menurunkan berat badan sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh(Freepik/tirachardz)
11:45
19 April 2026

Tren Olahraga Lari, Solusi Ampuh Cegah Diabetes pada Gen Z

- Gelombang tren gaya hidup sehat perlahan mulai menjadi rutinitas generasi muda di berbagai kota besar.

Olahraga lari, misalnya, belakangan ini tidak lagi sekadar dipandang sebagai aktivitas fisik yang melelahkan, tetapi telah berubah menjadi bagian dari budaya da najang eksistensi sosial bagi Gen Z dan milenial muda.

Fenomena ini membawa angin segar di tengah tingginya kekhawatiran medis terhadap ancaman obesitas dan diabetes tipe 2 pada usia produktif.

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM mengatakan, kebiasaan berlari secara rutin terbukti mampu menciptakan adiksi atau kecanduan yang positif, sehingga pelakunya merasa ada yang "hilang" jika melewatkan jadwal latihannya.

"Orang yang running itu kalau sehari enggak lari tuh ada yang kurang karena sudah habit-nya, sudah ada kenikmatan ketika dia lari," ucap dia dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Baca juga: Menjalankan Gaya Hidup Sehat yang Hemat tapi Nikmat, Mungkinkah?

Kecanduan hal positif pengganti gaya hidup sedentari

Prof. Yunir mengungkap, perubahan perilaku pada individu yang rutin berolahraga memiliki penjelasan medis yang erat kaitannya dengan sistem saraf pusat.

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM, dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jumat (17/4/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM, dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jumat (17/4/2026).

Rasa nyaman dan bahagia yang timbul setelah berlari berasal dari pelepasan hormon dopamin di dalam otak.

Hormon dopamin inilah yang selama ini kerap dicari oleh generasi muda melalui konsumsi makanan manis atau minuman kopi kekinian saat mereka sedang nongkrong di kafe.

Baca juga: Makin Sadar Hidup Sehat, Gen Z Pilih Konsultasi ke Dokter Sebelum Sakit

Ketika pusat kesenangan di otak telah terprogram ulang untuk merespons aktivitas fisik secara positif, dorongan untuk mencari pelampiasan dari asupan tinggi gula akan menurun dengan sendirinya.

Menurut Prof. Yunir, efek menenangkan dari olahraga ini pada akhirnya mampu menggeser kebiasaan buruk lainnya yang kerap mengintai kaum urban.

Antusiasme dalam menjaga kesehatan ini rupanya dengan sangat mudah menyebar di dalam sebuah lingkaran pertemanan.

"Jadi, yang menular tuh bukan penyakit, tapi menular ke hobi yang menyenangkan itu. 'Oh ternyata enak kok'," kata Prof. Yunir.

Baca juga: 6 Kebiasaan Orang Finlandia, Negara Paling Bahagia di Dunia

Mengimbangi bahaya lingkungan perkotaan

Meningkatnya penderita obesitas dan diabetes tipe 2 pada usia dua puluhan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial.

Rutinitas perkotaan kerap memaksa warganya untuk lebih banyak duduk, baik saat bekerja di depan layar maupun ketika melepas penat bersama rekan sejawat.

Ilustrasi lari.Freepik/pressfoto Ilustrasi lari.

"Environment itu kan banyak di kota besar, duduk, nongkrong-nongkrong, ngopi bolak-balik," ujar Prof. Yunir.

Perilaku duduk berjam-jam sambil terus memesan minuman manis berulang kali jelas memicu penumpukan kalori yang berakhir pada resistensi insulin.

Namun, ancaman penyakit dari budaya komunal tersebut bisa diredam apabila generasi muda memiliki kesadaran untuk membakar kembali kalori yang telah mereka tumpuk.

Pakar endokrinologi ini menegaskan bahwa keseimbangan aktivitas fisik adalah kunci utama bagi kelompok muda yang masih ingin menikmati kehidupan sosialnya di kedai kopi.

"Asal dia nongkrong iya, tapi selagi itu dia pulang dia olahraga. Dikompensasi namanya," tutur Prof. Yunir.

Baca juga: Cara Mencegah Cedera Ringan saat Olahraga, Jangan Abaikan Nyeri

Transformasi fisik dan tantangan edukasi

Dampak nyata dari pergeseran hobi menuju olahraga lari ini sangat terlihat pada postur dan komposisi tubuh para pelakunya.

Pembakaran lemak viseral yang optimal akan menghindarkan mereka dari risiko obesitas sentral, yang merupakan salah satu gerbang utama menuju penyakit kronis.

"Jadi kan kita lihat kalau orang yang gitu-gitu (rutin berolahraga) badannya lebih langsing, ya kan? Perutnya enggak maju," ungkap Prof. Yunir.

Mereka yang aktif bergerak juga cenderung lebih selektif dalam memilih komunitas yang sefrekuensi. Lingkungan pertemanan yang saling mendukung dalam hal kebugaran akan memperkuat konsistensi mereka untuk tidak kembali pada gaya hidup masa lalu yang merusak tubuh.

Meskipun tren ini membawa dampak yang sangat baik, Prof. Yunir mengaku bahwa realitas di lapangan menunjukkan, jumlah anak muda yang benar-benar konsisten berlari belum sepenuhnya mendominasi.

Faktanya, fasilitas kesehatan masih terus menerima pasien usia muda yang menderita komplikasi akibat pola makan yang tidak dijaga.

"Yang ikut yang lari kan enggak banyak. Jadi yang ngopi masih sama," pungkas dia.

Baca juga: Studi Ungkap Olahraga Intensitas Tinggi Bisa Turunkan Risiko Penyakit

Tag:  #tren #olahraga #lari #solusi #ampuh #cegah #diabetes #pada

KOMENTAR