Minuman Manis dan Makanan Olahan Makin Digemari, Pakar Gizi Ingatkan Risikonya
Ilustrasi minuman manis. Pakar gizi IPB University mengingatkan bahwa konsumsi minuman manis dan makanan olahan yang berlebihan dapat membuat asupan gula harian terlampaui dan meningkatkan risiko penyakit.(freepik)
17:25
19 April 2026

Minuman Manis dan Makanan Olahan Makin Digemari, Pakar Gizi Ingatkan Risikonya

Konsumsi minuman manis dan makanan olahan kini semakin meningkat di Indonesia, terutama di kalangan anak dan remaja.

Kondisi ini menjadi perhatian karena berpotensi membuat asupan gula harian melampaui batas yang dianjurkan.

Pakar gizi mengingatkan bahwa kebiasaan ini bisa meningkatkan risiko berbagai penyakit jika tidak dikendalikan sejak dini.

Baca juga: Minuman Chia Seed Viral untuk Diet, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Ini

Minuman manis jadi sumber gula terbesar

Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Dr Zuraidah Nasution, menjelaskan bahwa konsumsi minuman berpemanis atau sugar sweetened beverages (SSB) terus meningkat dalam dua dekade terakhir.

Ia menyebut, batas asupan gula harian yang dianjurkan sekitar 50 gram atau setara empat sendok makan.

“Batas asupan gula yang dianjurkan per hari adalah sekitar 10 persen dari kebutuhan energi harian,” ujarnya, dikutip dari laman resmi IPB University, Rabu (25/3/2026).

Namun, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa konsumsi gula dari minuman saja sudah bisa mencapai sekitar 50 persen dari batas tersebut.

Baca juga: Makan Banyak Saat Lebaran Bikin Berat Badan Naik? Ini Kata Ahli Gizi

Akses mudah bikin konsumsi makin tinggi

ilustrasi makanan ultra proses. Pakar gizi IPB University mengingatkan bahwa konsumsi minuman manis dan makanan olahan yang berlebihan dapat membuat asupan gula harian terlampaui dan meningkatkan risiko penyakit.Freepik ilustrasi makanan ultra proses. Pakar gizi IPB University mengingatkan bahwa konsumsi minuman manis dan makanan olahan yang berlebihan dapat membuat asupan gula harian terlampaui dan meningkatkan risiko penyakit.

Tingginya konsumsi minuman manis tidak lepas dari kemudahan akses.

Berbagai minuman kemasan hingga minuman kekinian seperti teh manis, kopi susu, dan boba mudah ditemukan.

Selain itu, banyak produk yang tidak mencantumkan informasi kandungan gula secara jelas.

Kondisi ini membuat masyarakat sering tidak menyadari jumlah gula yang telah dikonsumsi dalam sehari.

Baca juga: Ahli Gizi: Makanan Lebaran Tidak Langsung Bikin Sakit atau Berat Badan Naik

Makanan olahan juga jadi sumber gula dan lemak

Selain minuman, makanan ultra-processed food (UPF) juga menjadi perhatian.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa UPF merupakan makanan yang telah melalui proses pengolahan sangat intensif.

“Makanan ultra processed itu mengalami pengolahan yang sangat banyak, sehingga bentuk makanan aslinya sudah tidak bisa kita lihat,” ujarnya, dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (14/4/2026).

Makanan jenis ini umumnya mengandung gula, garam, dan lemak dalam jumlah tinggi.

Baca juga: Prinsip 3C Saat Puasa: Cara Atur Kalori, Jenis Makanan, dan Jadwal Makan

Tinggi kalori, rendah zat gizi

Menurut dr. Karina, UPF sering kali tinggi kalori tetapi rendah nutrisi penting. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan kelebihan kalori tanpa diimbangi asupan serat, vitamin, dan mineral.

“Jika dikonsumsi berlebihan, anak berisiko kelebihan kalori tetapi kekurangan zat gizi penting,” jelasnya.

Contoh makanan ini antara lain camilan kemasan, minuman manis, serta produk olahan seperti nugget dan sosis.

Risiko kesehatan muncul sejak dini

Dampak konsumsi gula berlebih dan makanan olahan dapat dirasakan dalam jangka pendek maupun panjang.

Dalam jangka pendek, makanan tinggi gula dapat memicu masalah seperti karies gigi dan gangguan pencernaan.

Sementara dalam jangka panjang, risiko penyakit seperti obesitas, diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung dapat meningkat.

“Dengan sekumpulan risiko tersebut, dalam jangka panjang bisa berkembang menjadi penyakit degeneratif,” kata dr. Karina.

Baca juga: Awal Diet Paling Berat, Ini Tantangan Angga Turunkan Berat Badan 53 Kg

Kebiasaan terbentuk sejak kecil

Dr. Zuraidah menekankan bahwa kebiasaan konsumsi minuman manis sering terbentuk sejak usia anak. Kebiasaan ini dapat terbawa hingga dewasa jika tidak dikontrol.

Peran orangtua dinilai penting dalam membentuk pola makan yang lebih sehat.

Salah satu langkah sederhana adalah tidak menyetok minuman manis di rumah dan membiasakan membaca label gizi.

Perlu dibatasi, bukan dihindari sepenuhnya

Pakar gizi menegaskan bahwa makanan manis dan olahan tidak harus dihindari sepenuhnya. Namun, konsumsi perlu dibatasi dan diatur secara bijak.

“Boleh sekali-sekali, tetapi tidak setiap hari. Kita harus menyeimbangkan dengan makanan utuh,” ujar dr. Karina.

Ia juga menyarankan untuk memperbanyak konsumsi sayur, buah, serta menjaga aktivitas fisik dan pola hidup sehat.

Kesadaran jadi kunci menjaga pola makan

Tren meningkatnya konsumsi minuman manis dan makanan olahan menunjukkan pentingnya kesadaran dalam memilih makanan.

Asupan gula yang berlebihan sering kali tidak disadari karena berasal dari berbagai sumber.

Dengan memahami kandungan makanan dan membiasakan pola makan seimbang, risiko kesehatan dapat dikendalikan sejak dini.

Baca juga: Turun 36 Kg Tanpa Diet Ketat, Pria Ini Mengubah Cara Menghadapi Emosi

Tag:  #minuman #manis #makanan #olahan #makin #digemari #pakar #gizi #ingatkan #risikonya

KOMENTAR