Momentum Hari Kartini, Saatnya Ibu Kenali Proteksi Listrik di Rumah
Momentum Hari Kartini menjadi pengingat penting bagi ibu untuk lebih peka terhadap risiko kebocoran arus listrik demi menjaga keamanan keluarga di rumah.(Dok. istimewa)
18:45
21 April 2026

Momentum Hari Kartini, Saatnya Ibu Kenali Proteksi Listrik di Rumah

— Setiap pagi, banyak ibu biasa memulai hari lebih awal dari anggota keluarga lain. Mulai dari menyiapkan sarapan hangat, memastikan bekal anak tidak tertinggal, mengecek seragam sudah rapi, hingga menyalakan air hangat untuk mandi dikerjakan.

Tak berhenti di situ, ibu juga memastikan rumah dalam keadaan bersih dan rapi agar anggota keluarga nyaman.

Kenyamanan hunian memang menjadi prioritas utama keluarga. Suhu ruangan yang sejuk dari pendingin udara, lampu yang cukup terang untuk belajar dan beraktivitas, kulkas yang menyimpan bahan makanan tetap segar, hingga mesin cuci yang membantu pekerjaan rumah terasa lebih ringan.

Rumah modern hari ini pun nyaris tak pernah terlepas dari peran listrik. Di balik kenyamanan itu, ada satu aspek yang kerap luput dari perhatian, yakni keamanan sistem kelistrikan di dalam rumah.

Perayaan Hari Kartini tahun ini menjadi momentum tepat bagi ibu untuk lebih peka terhadap bahaya kebocoran arus listrik di rumah. Bagaimanapun, Hari Kartini bukan hanya tentang kiprah perempuan di ruang publik, melainkan juga tentang peran strategis perempuan dalam menjaga kualitas hidup keluarga.

Risiko yang tak terlihat

Berbeda dengan korsleting yang biasanya ditandai percikan api atau listrik padam mendadak, kebocoran arus listrik sering kali tidak terlihat secara kasat mata. Arus bocor bisa terjadi ketika ada bagian instalasi atau peralatan listrik yang rusak, lembap, atau mengalami penurunan kualitas isolasi.

Dalam kondisi tertentu, arus bocor dapat mengalir ke permukaan logam peralatan rumah tangga. Jika tersentuh, risiko sengatan listrik bisa terjadi, terutama pada anak-anak yang aktif bergerak dan sering menyentuh berbagai benda di rumah.

Hanum Lily Rahma (30), seorang ibu serta kreator konten, merasakan sendiri betapa berbahaya arus bocor di rumah. Ia hampir kehilangan nyawa saat hendak membersihkan anaknya pada Oktober 2025.

Diberitakan Kompas.id, Senin (13/4/2026), tubuh bagian kanannya tiba-tiba kaku tak bisa digerakkan ketika memegang selang hand shower. Pandangannya gelap. Ia pun merasa maut begitu dekat.

Hanum kemudian berjuang keras menggunakan sisi kiri tubuhnya untuk berpegangan pada kusen pintu. Akhirnya, ia pun berhasil terbebas dari aliran listrik.

Setelah ditelusuri, sengatan listrik tersebut ternyata berasal dari arus bocor. Arus bocor ini juga mengalir pada shower pada dua kamar mandi lain di rumahnya. Ancaman ini tak pernah terdeteksi sebelumnya.

Pengalaman serupa dialami Anne Permata. Lewat video yang diunggah di akun TikTok @annepermata pada Jumat (3/10/2025), ia bercerita bahwa plafon rumahnya sempat bocor saat hujan deras dan memicu korsleting pada kipas yang baru saja dipasang.

"Enggak bikin kebakaran saja sudah bersyukur karena ternyata saat musim hujan, risiko korsleting listrik dan arus bocor itu meningkat," ujarnya dalam unggahan video tersebut.

Hal yang membuat kedua kejadian itu kian mengejutkan, rumah Hanum dan Anne sudah dilengkapi miniature circuit breaker (MCB), alat pengaman listrik yang lazim terpasang di hampir setiap rumah di Indonesia. Ternyata, MCB tidak mampu mendeteksi kebocoran arus listrik seperti yang mereka alami.

Mengapa MCB saja tidak cukup?

Banyak orang mengira MCB yang terpasang di rumah sudah cukup untuk melindungi seluruh sistem listrik. Padahal, fungsi utama MCB adalah memutus aliran listrik saat terjadi beban berlebih atau hubungan arus pendek (korsleting).

MCB tidak dirancang untuk mendeteksi kebocoran arus dalam skala kecil yang tetap berpotensi membahayakan manusia.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kamis (2/10/2025), hasil pengukuran arus sisa terhadap 1.000 instalasi oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian ESDM pada 2025 menunjukkan, 7 persen instalasi rumah tangga masuk kategori rawan dan 9 persen masuk kategori sangat rawan. Kondisi ini berisiko memicu kebakaran.

Data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkar) Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan, dari 1.656 kebakaran pada 2025, 1.017 atau 61,41 persen diduga disebabkan oleh arus listrik.

Tahun sebelumnya juga demikian. Sebanyak 61,12 persen dari total 1.969 kejadian kebakaran diduga dipicu oleh arus listrik.

Data kebakaran 2024-2025 pun mengungkap bahwa bangunan rumah konsisten menjadi obyek yang paling sering terbakar.

Cegah kebocoran arus listrik dengan GPAS

Untuk mengantisipasi risiko kebocoran arus listrik, perangkat ground fault protection atau lebih dikenal dengan gawai proteksi arus (GPAS) perlu dipasang sebagai pelindung tambahan bersama MCB.

Dikutip dari laman gatrik.esdm.go.id, perangkat ini bekerja dengan cara mendeteksi selisih arus yang mengindikasikan keberadaan kebocoran listrik. Jika terdapat kebocoran, GPAS secara otomatis memutus aliran listrik dalam waktu sangat singkat.

Dengan mekanisme tersebut, risiko sengatan listrik dapat diminimalkan sebelum menimbulkan dampak yang lebih serius.

Secara sederhana, jika MCB berfungsi melindungi instalasi dan peralatan dari kerusakan akibat beban berlebih, GPAS dirancang untuk melindungi manusia dari risiko sengatan akibat arus bocor.

Dalam rumah tangga modern yang memiliki banyak peralatan elektronik, keberadaan proteksi tambahan seperti GPAS menjadi semakin relevan. Terlebih bagi keluarga dengan anak kecil atau lansia yang lebih rentan terhadap dampak sengatan listrik.

Perlu diingat, pemasangan GPAS harus dilakukan oleh teknisi atau instalatur listrik bersertifikat guna memastikan fungsinya bekerja optimal sesuai standar keselamatan.
Di pasaran, GPAS tersedia dalam beberapa jenis. Pertama, residual current circuit breaker (RCCB) yang berfungsi khusus mendeteksi dan memutus arus bocor.

Kedua, residual current circuit breaker with overcurrent protection (RCBO). Jenis GPAS ini merupakan kombinasi RCCB dan MCB dalam satu perangkat. Fungsinya melindungi dari arus bocor serta beban berlebih dan korsleting.

GPAS jenis tersebut menjadi solusi yang dipilih oleh Hanum dan Anne karena perlindungannya lebih komprehensif usai mengalami sendiri kejadian arus bocor di rumah mereka.

Perempuan dan literasi keamanan rumah

Kesadaran terhadap keamanan rumah tidak lagi hanya menjadi urusan teknisi atau kepala keluarga semata. Ibu juga punya peran penting terhadap hal ini dengan memahami risiko arus bocor dan cara penanggulangannya.

Momentum perayaan Hari Kartini dapat menjadi pengingat bahwa perempuan masa kini dengan akses informasi yang luas dapat mengambil keputusan penting bagi keluarganya.

Ibu sebagai pengelola rumah tangga memiliki peran strategis dalam memastikan instalasi listrik diperiksa secara berkala.

Langkah sederhana seperti tidak menumpuk colokan pada satu titik, memastikan kabel tidak terjepit atau terkelupas, serta berkonsultasi dengan teknisi listrik bersertifikat saat melakukan renovasi merupakan bagian dari upaya pencegahan. Termasuk pula pemasangan proteksi tambahan seperti GPAS demi kenyamanan dan keamanan anggota keluarga.

Perlu diketahui, rumah nyaman tak hanya berasal dari desain interior dan peralatan yang lengkap. Rasa nyaman sejati juga lahir dari rasa aman. Rasa tenang saat anak bermain di ruang keluarga atau saat seluruh anggota keluarga beristirahat di malam hari tanpa khawatir risiko arus bocor.

Memasang sistem proteksi tambahan seperti GPAS tidak semata mengikuti tren teknologi, tetapi investasi jangka panjang untuk keselamatan.

Pada akhirnya, semangat Kartini hari ini bukan hanya soal perempuan yang harus dilindungi, melainkan juga perempuan yang aktif melindungi.

Seperti yang ditunjukkan Hanum dan Anne, kepekaan terhadap risiko di rumah dan keberanian dalam mengambil langkah nyata mencerminkan peran ibu yang sesungguhnya, tidak hanya merawat, tetapi juga memastikan rumah benar-benar menjadi tempat aman bagi tumbuh kembang keluarga.

Tag:  #momentum #hari #kartini #saatnya #kenali #proteksi #listrik #rumah

KOMENTAR