Studi: Rajin Mengasah Otak Sejak Kecil Bantu Turunkan Risiko Alzheimer
Ilustrasi Alzheimer. Aktor Thor Chris Hemsworth membuka cerita soal risiko genetik Alzheimer yang membuatnya menata ulang karier dan kehidupan keluarga.(SHUTTERSTOCK/SewCream)
19:35
4 Mei 2026

Studi: Rajin Mengasah Otak Sejak Kecil Bantu Turunkan Risiko Alzheimer

- Merawat kesehatan otak sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik lantaran otak yang sehat mampu mempertahankan ketajaman pikiran.

Sama halnya dengan otot yang perlu dilatih secara rutin agar tidak menyusut, otak juga membutuhkan stimulasi intelektual yang konsisten.

Ada sebuah riset yang dipublikasi pada Februari 2026 dalam Neurology, jurnal medis milik American Academy of Neurology, yang membahas hal tersebut.

"Studi kami melihat pengayaan kognitif dari masa kanak-kanak hingga kehidupan di masa tua, berfokus pada aktivitas dan sumber daya yang merangsang pikiran," kata salah satu peneliti dari Rush University Medical Center di Chicago, Andrea Zammit, PhD, melansir Martha Stewart, Senin (4/5/2026).

Baca juga: 9 Kebiasaan Pagi yang Membantu Menjaga Kesehatan Otak

Dampak stimulasi intelektual bagi otak

Riset membuktikan, berbagai aktivitas yang merangsang otak secara intelektual dapat memperlambat penurunan fungsi kognitif.

Kegiatan sederhana yang konsisten dilakukan sepanjang hidup, seperti rajin membaca, menulis, atau mempelajari bahasa asing, memiliki kaitan erat dengan penurunan risiko penyakit Alzheimer di masa tua.

"Temuan kami menunjukkan bahwa kesehatan kognitif di masa tua sangat dipengaruhi oleh paparan seumur hidup terhadap lingkungan yang merangsang secara intelektual," ujar Zammit.

Penundaan gejala Alzheimer hingga lima tahun

Temuan ilmiah ini dipublikasikan secara resmi di jurnal Neurology milik American Academy of Neurology pada Februari 2026.

Baca juga: Fase Perkembangan Otak Manusia, Puncaknya di Usia 30-an

Ilustrasi membaca bukufreepik.com Ilustrasi membaca buku

Laporan tersebut memperlihatkan bahwa individu dengan tingkat pembelajaran seumur hidup tertinggi berhasil mengalami penundaan gejala Alzheimer.

Kelompok ini rata-rata baru mengembangkan penyakit tersebut lima tahun lebih lambat dibandingkan dengan kelompok yang kurang melatih otak.

Selain Alzheimer, gangguan kognitif ringan juga terbukti muncul tujuh tahun lebih lambat pada kelompok yang rajin menstimulasi kinerja otaknya.

Baca juga: Chris Hemsworth Ungkap Risiko Alzheimer, Ini Pengakuannya yang Mengubah Prioritas Hidup

Adapun riset ini melibatkan sebanyak 1.939 partisipan di Amerika Serikat yang memiliki usia rata-rata 80 tahun. Pada awal fase penelitian, seluruh peserta dipastikan dalam kondisi sehat dan tidak memiliki riwayat demensia.

Selama delapan tahun masa tindak lanjut, para peneliti memastikan bahwa subjek di 10 persen teratas dalam pengayaan kognitif menikmati penurunan risiko yang signifikan.

Mereka memiliki risiko 38 persen lebih rendah mengidap Alzheimer, dan 36 persen lebih rendah menderita gangguan kognitif ringan jika disandingkan dengan kategori 10 persen terbawah.

Partisipan dengan tingkat pengayaan seumur hidup tertinggi rata-rata didiagnosis menderita Alzheimer pada usia 94 tahun.

Di sisi lain, kelompok terendah mulai mengalaminya lebih cepat pada usia 88 tahun. Untuk gangguan kognitif ringan, kelompok tertinggi rata-rata baru mengalaminya di usia 85 tahun, sedangkan kelompok terendah sudah merasakannya sejak usia 78 tahun.

Baca juga: Studi Ungkap Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Orang Dewasa

Analisis kebiasaan mengasah otak dalam tiga fase kehidupan

Ilustrasi bagian dalam Museum Nasional Indonesia di Jakarta Pusat.Dok. Indonesian Heritage Agency Ilustrasi bagian dalam Museum Nasional Indonesia di Jakarta Pusat.

Guna mengukur dampak pasti dari berbagai aktivitas mental, para peneliti menganalisis riwayat kebiasaan partisipan yang dibagi ke dalam tiga fase kehidupan berbeda.

Pada masa kanak-kanak hingga remaja, peneliti melihat seberapa sering mereka dibacakan buku sebelum mencapai usia 18 tahun.

Baca juga: Benarkah Ada Orang Tidak Suka Membaca Buku?

Ketersediaan akses terhadap surat kabar maupun buku atlas di lingkungan rumah juga menjadi faktor penentu. Selain itu, peneliti turut mencatat apakah peserta pernah mempelajari bahasa asing selama lebih dari lima tahun di masa mudanya.

Memasuki fase paruh baya, indikator bergeser pada ketersediaan sumber daya literasi di dalam rumah tangga. 

Frekuensi partisipan dalam menghabiskan waktu luang untuk mengunjungi museum atau perpustakaan kota juga menjadi pertimbangan penting.

Pada fase kehidupan selanjutnya yang dimulai pada usia rata-rata 80 tahun, pengukuran difokuskan pada jumlah waktu rutinitas harian.

Aktivitas ini meliputi durasi membaca, menulis, serta keterlibatan bermain aneka permainan yang mampu mengasah kemampuan otak. Faktor pendapatan peserta juga dimasukkan sebagai variabel pelengkap.

Baca juga: 4 Aktivitas Bonding Time Anak Sesuai Usia, Sensory Play hingga Puzzle

Ilustrasi lansia dengan Alzheimer. Alzheimer bisa membuat penderitanya melupakan keluarga, bahkan kepribadiannya. shutterstock Ilustrasi lansia dengan Alzheimer. Alzheimer bisa membuat penderitanya melupakan keluarga, bahkan kepribadiannya.

Investasi literasi demi kesehatan kognitif di masa depan

Perlu dicatat, para peserta melaporkan secara mandiri detail pengalaman masa kecil hingga paruh baya mereka saat sudah berusia lanjut. Jadi, ada kemungkinan mereka idak dapat mengingat setiap peristiwa secara sempurna.

Studi jangka panjang ini sebatas menunjukkan asosiasi, tetapi tidak membuktikan secara langsung bahwa rutinitas pembelajaran seumur hidup pasti meniadakan risiko Alzheimer.

Meskipun memiliki keterbatasan, hasil akhir yang didapatkan tetap memberikan harapan besar serta berpotensi memengaruhi berbagai kebijakan kesehatan masyarakat di masa mendatang.

"Temuan kami menggembirakan, menunjukkan bahwa secara konsisten terlibat dalam berbagai aktivitas yang merangsang mental sepanjang hidup dapat membuat perbedaan dalam kognisi," tutur Zammit.

Baca juga: 5 Kebiasaan Kecil agar Otak Tidak Mudah Lupa

Tag:  #studi #rajin #mengasah #otak #sejak #kecil #bantu #turunkan #risiko #alzheimer

KOMENTAR