Siapa yang Boleh Membawa Baki Saat Sangjit? Ini Aturan dan Maknanya
Ilustrasi sangjit.()
19:35
6 Mei 2026

Siapa yang Boleh Membawa Baki Saat Sangjit? Ini Aturan dan Maknanya

- Dalam tradisi pertunangan adat Tionghoa, pemilihan pembawa baki ternyata tidak dilakukan secara sembarangan. 

Ada aturan tidak tertulis yang berkaitan erat dengan doa, simbol, serta harapan baik bagi perjalanan rumah tangga calon pengantin.

Menurut Owner Sangjit Couture, Jennifer Saputra, orang-orang yang ditunjuk untuk membawa baki memiliki makna simbolis tersendiri. 

Baca juga: Isi Baki Sangjit Lengkap Beserta Maknanya, Calon Pengantin Wajib Tahu

“Dalam prosesi Sangjit, ada total 10 baki yang terdiri dari 8 baki calon pengantin wanita dan 2 baki untuk pria,” kata Jennifer saat ditemui The Garden of Everlasting Heritage, Where Traditions and Timeless Love Blossom, di Fairmont Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2026).

Menurut Jennifer, tradisi ini berkaitan erat dengan doa-doa baik yang ingin disematkan kepada pasangan yang akan menikah.

Mengapa pemilihan pembawa baki penting?

Dalam budaya Tionghoa, hampir setiap elemen dalam sangjit memiliki filosofi. Mulai dari jumlah baki, isi seserahan, hingga orang yang membawanya dipercaya membawa simbol dan harapan tertentu.

Jennifer menuturkan, ada satu aturan utama yang menjadi perhatian keluarga saat memilih pembawa baki.

“Sebenarnya yang bawa ataupun menerima baki itu tidak boleh yang sudah bercerai,” ujarnya.

Larangan ini lahir dari kepercayaan bahwa prosesi sangjit merupakan momen sakral yang sarat doa untuk keberlangsungan rumah tangga calon pengantin.

Oleh karenanya, orang-orang yang terlibat dalam penyerahan baki diharapkan dapat merepresentasikan harapan akan hubungan yang harmonis, utuh, dan langgeng.

Bagi sebagian keluarga, aturan ini masih dijalankan secara ketat sebagai bentuk penghormatan terhadap adat. Namun, ada pula yang menyesuaikannya dengan kondisi keluarga masing-masing.

Mengapa orang lajang justru diperbolehkan?

Menariknya, status lajang tidak menjadi halangan untuk terlibat dalam prosesi membawa baki. 

Baca juga: Mengenal Jenis Angpao dalam Prosesi Sangjit Beserta Maknanya

Bahkan, dalam tradisi tertentu, orang yang belum menikah justru dianggap membawa doa baik.

“Lebih dianjurkannya mereka yang single, tapi yang sudah menikah pun boleh membawa baki (asalkan jang yang bercerai),” kata Jennifer.

Ia menjelaskan, keterlibatan orang lajang memiliki makna simbolis tersendiri.

“Untuk yang single itu diperbolehkan bawa baki seperti didoakan agar cepat menyusul ke jenjang pernikahan,” jelasnya.

Makna ini berangkat dari keyakinan bahwa keterlibatan dalam prosesi sakral seperti sangjit, dapat menjadi bentuk harapan baik bagi mereka yang belum menemukan pasangan.

Tak heran jika saudara kandung, sepupu, atau sahabat dekat yang masih lajang kerap dipercaya menjadi pembawa baki dalam acara sangjit.

Makna bagi pembawa baki yang sudah menikah

Selain orang lajang, mereka yang sudah menikah juga sangat dianjurkan untuk menjadi pembawa baki.

Menurut Jennifer, status pernikahan mereka dianggap membawa simbol rumah tangga yang telah terbina.

“Sementara itu, untuk yang sudah menikah diperbolehkan bawa baki karena doanya agar pernikahannya langgeng seperti mereka,” katanya.

Dalam konteks ini, pasangan yang telah menjalani kehidupan rumah tangga harmonis dipercaya membawa energi positif bagi calon pengantin.

Doa yang disematkan bukan sekadar agar pasangan segera menikah, tetapi juga agar mereka dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh kebahagiaan, kesetiaan, dan keharmonisan.

Karena itu, keluarga biasanya memilih kerabat dekat yang dinilai memiliki rumah tangga baik sebagai representasi doa tersebut.

Mengapa duda dan janda sebaiknya tidak membawa baki?

Jennifer menjelaskan, mereka yang telah bercerai maupun ditinggal pasangan meninggal dunia sebaiknya tidak terlibat sebagai pembawa baki.

“Jadi janda maupun duda yang bercerai atau ditinggal meninggal sebaiknya tidak membawa baki,” ujarnya.

Baca juga: Daftar Seserahan Lamaran El Rumi untuk Syifa Hadju, Ada Rolex Rp 341 Juta

Aturan ini bukan dimaksudkan sebagai bentuk diskriminasi, melainkan lebih kepada simbolisme dalam tradisi.

Prosesi sangjit dipandang sebagai awal perjalanan rumah tangga baru, sehingga orang-orang yang terlibat diharapkan membawa representasi hubungan yang utuh dan langgeng.

Meski begitu, dalam praktik modern, banyak keluarga mulai menyesuaikan aturan ini dengan kondisi serta nilai yang mereka anut.

Yang terpenting, lanjut Jennifer, adalah memahami makna di balik tradisi tersebut agar prosesi sangjit tetap berlangsung khidmat dan penuh doa baik bagi pasangan yang akan melangkah ke jenjang pernikahan.

Tag:  #siapa #yang #boleh #membawa #baki #saat #sangjit #aturan #maknanya

KOMENTAR