Restrukturisasi, Meta PHK 8.000 Karyawan dan Pindahkan 7.000 Pegawai ke Divisi AI
Ilustrasi logo Meta, nama baru induk Facebook, WhatsApp, dan Instagram.(Reuters/ Carlos Barria)
08:30
21 Mei 2026

Restrukturisasi, Meta PHK 8.000 Karyawan dan Pindahkan 7.000 Pegawai ke Divisi AI

- Meta Platforms mulai melakukan restrukturisasi besar-besaran di tengah fokus perusahaan pada pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Perusahaan dilaporkan memangkas sekitar 8.000 pegawai secara global sekaligus memindahkan sekitar 7.000 karyawan lain ke divisi AI baru.

Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi Meta untuk memperkuat pengembangan AI dan meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

Gelombang PHK dimulai pada Rabu, 20 Mei 2026. Karyawan Meta di Singapura menjadi gelombang awal PHK massal Meta.

Dilaporkan Business Times, karyawan terdampak mendapat e-mail pemecatan sekitar pukul 04.00 waktu setempat. Pegawai di Inggris, Amerika Serikat (AS), dan negara lain juga dijadwalkan menerima pemberitahuan sesuai zona waktu masing-masing.

Baca juga: Meta PHK Massal, Karyawan di Singapura Dapat E-mail Pemecatan Jam 4 Pagi

Pada April lalu, Meta sudah memberi tahu pegawai bahwa sekitar 10 persen tenaga kerja perusahaan akan terkena PHK pada 20 Mei.

Sementara itu, pada Senin, 18 Mei lalu, perusahaan mengumumkan bahwa sekitar 7.000 pegawai dipindahkan ke inisiatif AI baru, termasuk pengembangan produk dan agen AI.

Perusahaan yang menaungi Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu memiliki kurang dari 80.000 pegawai pada akhir Maret, sebelum proses relokasi dan PHK dilakukan.

Menurut sumber yang mengetahui rencana perusahaan, PHK terbaru terutama menyasar tim engineering dan produk. Bahkan, pemangkasan pegawai tambahan masih mungkin terjadi hingga akhir tahun.

Kepala SDM Meta, Janelle Gale, mengatakan perusahaan kini ingin menerapkan struktur organisasi yang lebih datar dengan tim kecil agar dapat bergerak lebih cepat.

“Kami sekarang berada pada tahap di mana banyak organisasi dapat beroperasi dengan struktur yang lebih datar, dengan tim kecil berbentuk pod/cohort yang bisa bergerak lebih cepat dan memiliki tanggung jawab lebih besar,” tulis Gale dalam memo internal yang ditinjau Bloomberg News.

“Kami percaya ini akan membuat kami lebih produktif dan pekerjaan menjadi lebih memuaskan,” lanjutnya.

Transformasi tersebut terjadi ketika CEO Meta Mark Zuckerberg menjadikan AI sebagai prioritas utama perusahaan.

Baca juga: Meta Buka Kacamata Pintar Ray-Ban untuk Aplikasi dan Game Pihak Ketiga

Investasi besar untuk AI

Tahun ini, Meta berkomitmen menggelontorkan lebih dari 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.764 triliun) untuk investasi AI, bahkan total belanja modal perusahaan diperkirakan mencapai 125 miliar hingga 145 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.205 triliun - Rp 2.557 triliun).

Dana tersebut sebagian besar dialokasikan untuk memperkuat pengembangan AI agar Meta tetap mampu bersaing dengan perusahaan seperti Alphabet dan OpenAI.

Sebagai bagian dari strategi baru itu, Meta membentuk divisi baru bernama Applied AI and Engineering yang dipimpin Wakil Presiden Engineering Maher Saba.

Dalam e-mail kepada para manajer bulan ini, Meta meminta mereka menekankan kepada pegawai bahwa proyek AI baru tersebut merupakan “inisiatif prioritas tinggi, langsung dari Mark.”

Divisi baru tersebut kini berisi sekitar 2.000 pegawai dan disebut akan menggunakan data dari program pelacakan internal perusahaan untuk mengembangkan berbagai alat AI.

Meta juga merancang struktur tim yang lebih ramping dibanding divisi lain, dengan sekitar 50 pegawai melapor kepada satu manajer. Perusahaan menegaskan bahwa partisipasi pegawai dalam program tersebut tidak bersifat opsional.

Namun, perubahan besar ini memicu keresahan di kalangan pegawai.

Baca juga: Meta Rilis Instants, Aplikasi untuk Kirim Foto Sekali Lihat

Pada Rabu, kantor Meta diperkirakan sebagian besar kosong setelah perusahaan meminta pegawai bekerja dari rumah.

Menurut sejumlah pegawai, sebagian pekerja bahkan mulai mengambil camilan gratis dan charger laptop dari kantor karena khawatir kehilangan pekerjaan sebelum akhir pekan.

Di dinding kantor, beberapa pegawai juga memasang poster berisi petisi untuk menghentikan program pelacakan data pegawai untuk kebutuhan pelatihan AI.

Program tersebut menuai kritik karena Meta disebut dapat mengumpulkan data rinci dari perangkat pegawai, mulai dari tombol keyboard yang ditekan, gerakan mouse, hingga isi layar komputer.

Lebih dari 1.000 pegawai dilaporkan telah menandatangani petisi penolakan terhadap program tersebut. Sebagian pegawai lain juga menyampaikan kritik terhadap pimpinan perusahaan melalui forum internal.

Engineer Meta, Mack Ward, dalam posting internal yang mendapat lebih dari 2.000 tanda suka, menilai perkembangan AI saat ini perlu dipertimbangkan secara lebih hati-hati.

“AI itu seperti kereta barang yang melaju kencang, tapi masa depan belum ditentukan sepenuhnya. Belum terlambat untuk menginjak rem dan memikirkan bagaimana kita sebagai masyarakat ingin menghadapi ini,” tulis Ward.

“Bersuara memang tidak mudah, tapi ‘mudah’ bukan alasan kalian direkrut,” lanjutnya, dikutip KompasTekno dari The New York Times.

Baca juga: Meta Resmi Cabut Fitur Enkripsi di DM Instagram

Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, juga mengakui banyak pegawai merasa cemas terkait masa depan mereka.

“Ada sangat banyak pegawai yang merasa cemas tentang masa depan mereka,” kata Bosworth dalam sesi tanya jawab internal.

“Semuanya buruk. Saya tidak akan mencoba mempermanis situasi ini,” lanjutnya.

Gelombang restrukturisasi Meta ini terjadi di tengah tren serupa di industri teknologi. Pekan lalu, Cisco juga mengumumkan penghapusan sekitar 4.000 pekerjaan untuk mengalihkan lebih banyak sumber daya ke AI.

Microsoft, Block, dan Coinbase juga telah melakukan PHK atau buyout terkait transformasi teknologi AI.

Tag:  #restrukturisasi #meta #8000 #karyawan #pindahkan #7000 #pegawai #divisi

KOMENTAR