Dulu Kereta Api Melintas sampai Bantul, Ini Peninggalannya hingga Sekarang
Di tengah wacana pengembangan jalur kereta api di wilayah Kabupaten Bantul, tak banyak yang mengetahui bahwa daerah ini sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam dunia perkeretaapian sejak masa kolonial Belanda.
Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Bantul pernah menjadi salah satu titik penting dalam jaringan rel yang dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Belanda Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).
Jalur kereta api di Bantul memang tidak menjangkau kawasan wisata pantai, seperti Parangtratis. Namun, membentang dari Stasiun Tugu Yogyakarta ke selatan melewati pusat Kabupaten Bantul sampai daerah Palbapang, Srandakan, dan Sewugalur.
Rel yang menghubungkan industri dan mobilitas warga
Pada masa kejayaannya, jalur Yogyakarta – Srandakan – Sewugalur (Yogyakarta-Bantul) ini berperan sebagai penghubung utama antara Bantul, pusat Kota Yogyakarta, dan wilayah lain di sekitarnya.
Keberadaan jalur ini juga tidak terlepas dari perkembangan pesat industri gula di masa kolonial.
Sejumlah pabrik gula seperti PG Padokan, PG Cebongan, hingga PG Pundong memanfaatkan moda kereta api untuk mengangkut hasil perkebunan ke berbagai titik distribusi.
Baca juga: Viral Foto Rel Kereta Api Muncul di Bantul, Begini Ceritanya
Selain melayani kepentingan industri, jalur kereta tersebut juga digunakan masyarakat sebagai sarana transportasi sehari-hari. Warga memanfaatkan perjalanan kereta untuk berdagang, bepergian ke pusat ekonomi, hingga mengakses berbagai layanan di Kota Yogyakarta.
Kereta lokal di jalur ini bahkan dikenal dengan sebutan “Sepur Pancen”, yang menjadi bagian dari kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Bantul saat itu.
Matinya kereta api Yogyakarta-Bantul
Memasuki era 1970-an hingga 1980-an, industri gula mulai meredup dan peran jalur kereta secara perlahan digantikan oleh moda transportasi darat lain seperti angkutan umum dan kendaraan pribadi yang lebih canggih dan cepat.
Seiring menurunnya kebutuhan logistik dan transportasi, operasional jalur kereta api di Bantul akhirnya berhenti sepenuhnya.
Jalur-jalur rel yang dulu ramai kini terbengkalai, sebagian tertutup oleh pembangunan jalan, pemukiman, maupun fasilitas umum lain yang berkembang mengikuti zaman.
Jejak kereta api Yogyakarta-Bantul
Meski tak lagi beroperasi, sejumlah peninggalan infrastruktur kereta api di Bantul hingga kini masih dapat ditemukan. Beberapa di antaranya bahkan masih berdiri cukup utuh meski tak lagi difungsikan.
Berikut beberapa bekas stasiun yang masih dapat dilihat:
Eks Stasiun Ngabean di tengah Jalur Kereta Yogyakarta-Bantul (2016).
Eks Stasiun Ngabean – Bangunan stasiun masih berdiri di belakang Taman Parkir Ngabean.
Eks Stasiun Winongo di tengah Jalur Kereta Yogyakarta-Bantul (2016).
Eks Stasiun Winongo – Struktur bangunan stasiun masih tampak, meski kini telah dialihfungsikan.
Eks Stasiun Bantul di tengah Jalur Kereta Yogyakarta-Bantul (2016).
Eks Stasiun Bantul – Salah satu bangunan stasiun yang kondisinya relatif terjaga.
Plang di Terminal Palbapang, Eks Stasiun Palbapang di tengah Jalur Kereta Yogyakarta-Bantul (2016).
Eks Stasiun Palbapang – Bangunan stasiun masih ada dan kini telah dialihfungsikan menjadi terminal.
Jejak-jejak rel lama juga masih bisa ditemukan di beberapa titik, terutama di kawasan Jalan Bantul, sebelum wilayah tersebut mengalami pelebaran dan perbaikan jalan.
Baca juga: 2 Kereta Tujuan Jakarta–Jawa Timur Ini Kini Makin Nyaman Berkat Rangkaian Baru
Tag: #dulu #kereta #melintas #sampai #bantul #peninggalannya #hingga #sekarang