BI Geser Fokus ke Stabilitas, Peluang Penurunan BI-Rate Menyempit
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai ruang penurunan suku bunga acuan atau BI-Rate semakin terbatas. Kondisi ini dipengaruhi ketidakpastian global yang meningkat akibat konflik di Timur Tengah.
“Meskipun BI-Rate kami pertahankan 4,75 persen, tampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama semakin tertutup dan kami juga harus menyikapi untuk stabilitas,” kata Perry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI di Jakarta, Rabu.
BI mulai memperkuat instrumen moneter untuk menjaga stabilitas. Salah satu langkah yang ditempuh melalui penguatan lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejak awal tahun.
Langkah ini diarahkan untuk menyeimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah, intervensi pasar, serta menahan aliran modal keluar.
“SRBI yang tahun lalu kami mampu turunkan secara cepat, ini memang harus kita lakukan rekalibrasi supaya memang menarik inflow,” kata dia.
Baca juga: Bank Sentral Kembali Pertahankan BI Rate di Level 4,75 Persen
BI juga memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga. Uang primer atau M0 tercatat tumbuh sekitar 13,3 persen pada Februari 2026.
Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder juga terus dilakukan. Hingga saat ini, realisasi pembelian secara year to date mencapai Rp90,05 triliun.
“Inilah beberapa rekalibrasi di mana kebijakan moneter memang bobotnya sekarang lebih banyak untuk pro-stability,” kata Perry.
Perry menjelaskan prospek ekonomi global semakin memburuk. Kondisi ini dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Dampaknya merambat ke berbagai sektor. Jalur komoditas mengalami kenaikan harga, terutama minyak. Jalur perdagangan terganggu akibat masalah rantai pasok. Jalur finansial menghadapi peningkatan ketidakpastian.
Harga minyak dunia melonjak sejak Februari hingga Maret dan sempat menyentuh 122,95 dolar AS per barel. Harga emas juga terus meningkat sepanjang 2025 dan bertahan di level tinggi.
Baca juga: Harga Emas dan Perak Melemah di Tengah Ancaman Perang dan Tekanan Suku Bunga
Kondisi global turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), baik tenor dua tahun maupun 10 tahun.
Yield yang sebelumnya menurun kini berbalik naik tajam sejak konflik memanas. Kenaikan ini dipengaruhi pelebaran defisit fiskal Amerika Serikat, termasuk untuk pembiayaan perang.
Dampaknya terasa ke Indonesia. Tekanan muncul dari sisi fiskal akibat kenaikan harga minyak serta dari pasar keuangan.
Aliran modal ke negara berkembang mulai berbalik arah. Tahun lalu masih menunjukkan tren masuk, tetapi sejak awal tahun terjadi outflow cukup besar pada obligasi, saham, dan instrumen lain.
Penguatan dollar AS turut menambah tekanan di pasar keuangan global.
“Dan ini membuat kenapa dari sisi Bank Indonesia kami perlu merekalibrasi berbagai kebijakan yang kami lakukan,” kata Perry.
BI sebelumnya tidak lagi menyinggung peluang penurunan suku bunga dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026.
“(Dengan adanya) dampak perang Timur Tengah, itu kenapa kami dalam pernyataan ini tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga. Itu kami hilangkan dari pernyataan ini karena memang kemungkinan kami akan tetap mempertahankan BI-Rate selama ini,” kata Perry pada Selasa (17/3).
BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen pada Maret 2026. Suku bunga acuan tersebut tidak berubah sejak Oktober 2025, setelah sebelumnya turun 150 basis poin sejak September 2024 atau 125 basis poin sepanjang 2025.
Tag: #geser #fokus #stabilitas #peluang #penurunan #rate #menyempit