Geopolitik Panas, Diplomasi Energi Jadi Kunci RI
— Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk kembali menguji ketahanan energi global dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi, termasuk bagi Indonesia yang masih bergantung pada pasokan energi dari luar negeri.
Langkah Amerika Serikat yang pada 13 April mengumumkan blokade akses pelabuhan Iran diperkirakan akan menghambat 20 juta barrel per hari minyak mentah dan minyak hasil kilang. Kondisi ini mendorong harga minyak kembali menembus 100 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1.650.000 per barrel (asumsi kurs Rp 16.500 per dollar AS).
“Diplomasi energi merupakan ‘pintu pembuka’ bagi keamanan energi suatu negara,” ujar Arcandra Tahar, Board of Experts Prasasti.
“Melalui hubungan antar pemerintah atau government-to-government diplomacy, Indonesia dapat membangun aliansi politik tingkat tinggi yang memungkinkan akses langsung terhadap aset energi strategis di berbagai negara,” lanjutnya.
Baca juga: Stok BBM Aman, Ketergantungan Impor Jadi Titik Rawan Energi RI
Arcandra menilai, dinamika geopolitik kini semakin menentukan akses terhadap energi global. Sumber daya energi di kawasan seperti Timur Tengah, menurut dia, kerap membutuhkan dukungan hubungan antarnegara agar dapat diakses secara optimal.
Dalam situasi tersebut, hubungan antarnegara tidak hanya membuka peluang kerja sama, tetapi juga memberikan kepastian politik bagi investasi energi di luar negeri. Namun, strategi ini perlu dijalankan secara hati-hati di tengah kompleksitas geopolitik global.
“Dengan posisi yang tidak terikat pada blok kekuatan tertentu, Indonesia memiliki ruang diplomasi yang cukup luas,” kata Arcandra.
“Jika dimanfaatkan secara tepat, hubungan politik antarnegara dapat diterjemahkan menjadi kerja sama produksi jangka panjang yang memperkuat keamanan pasokan energi nasional,” tambahnya.
Baca juga: Wakil Ketua MPR Nilai Indonesia di Zona Aman Ketahanan Energi Imbas Pasokan Minyak Rusia
Selat Hormuz dan risiko pasokan energi
Ketegangan di kawasan Teluk juga kembali menyoroti peran Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi global yang sangat vital. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati jalur ini, menjadikannya salah satu chokepoint energi paling strategis.
Gangguan keamanan di kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan ketidakpastian terhadap stabilitas pasokan energi global, sekaligus memicu lonjakan risiko dalam perdagangan minyak dunia.
Halim Alamsyah, Board of Experts Prasasti, menilai dampak situasi ini tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga berpotensi memengaruhi kemampuan Indonesia menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Ia menekankan pentingnya komunikasi pemerintah kepada publik terkait dampak geopolitik global, agar masyarakat memiliki pemahaman yang utuh dan ekspektasi yang realistis terhadap kondisi ekonomi.
“Dalam jangka pendek, pemerintah mungkin perlu menjaga stabilitas harga energi domestik melalui kebijakan fiskal dan pengelolaan pasar yang hati-hati,” ujar Halim.
“Di saat yang sama, selain diplomasi energi, aktivitas trading energi harus dioptimalkan agar pemerintah memiliki fleksibilitas dalam meredam gejolak harga global,” lanjutnya.
Strategi bertahap perkuat ketahanan energi
Dalam jangka menengah, pemerintah dinilai perlu memperkuat struktur pasokan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi domestik serta penguatan cadangan energi strategis.
Langkah ini menjadi penting agar Indonesia memiliki bantalan yang lebih kuat ketika terjadi gangguan pasokan global yang bersifat mendadak.
Sementara itu, dalam jangka panjang, ketahanan energi nasional perlu dibangun secara lebih fundamental. Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai upaya tersebut mencakup pengurangan ketergantungan pada jalur distribusi energi berisiko tinggi, serta penguatan sumber energi domestik.
“Upaya mengurangi ketergantungan pada jalur distribusi energi yang berisiko tinggi, memperluas sumber energi domestik, serta mendorong transisi energi secara realistis dengan mempertimbangkan kapasitas fiskal dan kesiapan infrastruktur nasional,” jelas Piter.
“Pendekatan bertahap seperti ini penting agar kebijakan energi tidak hanya mampu merespons tekanan jangka pendek, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu,” tambahnya.
Prasasti menilai, perkembangan di Selat Hormuz menunjukkan bahwa jalur energi global semakin sensitif terhadap dinamika kawasan. Dalam kondisi ini, kemampuan Indonesia menjaga stabilitas pasokan sekaligus mengelola risiko eksternal menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.