Hadapi Dampak Perang Iran, Australia Kunci Pasokan Energi dari Asia Tenggara
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese berbicara dalam konferensi pers di Canberra pada 11 Agustus 2025.(AFP/HILARY WARDHAUGH)
18:16
17 April 2026

Hadapi Dampak Perang Iran, Australia Kunci Pasokan Energi dari Asia Tenggara

Pemerintah Australia mempercepat langkah diplomasi energi ke kawasan Asia Tenggara di tengah tekanan besar pada pasar energi global akibat konflik di Timur Tengah, khususnya yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz.

Serangkaian kunjungan Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese ke Malaysia, Brunei Darussalam, hingga negara mitra lain di kawasan menjadi bagian dari strategi mengamankan pasokan bahan bakar dan pupuk.

Langkah ini dilakukan saat gangguan rantai pasok global semakin terasa, seiring distribusi energi yang terganggu dan harga komoditas yang melonjak.

Baca juga: Australia Krisis Pupuk, Impor 250.000 Ton dari Indonesia

Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

Tekanan global dan Selat Hormuz

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menggambarkan situasi global saat ini sebagai kondisi yang tidak biasa dan penuh ketidakpastian.

“Kita benar-benar sedang menghadapi masa-masa pasca-norma. Perkembangan yang terjadi tidak terduga dan terus menghantui kita karena kita tidak mampu menyusun agenda ke depan secara adil dan jujur,” ujar Anwar, dikutip dari laman resmi Kantor Perdana Menteri Australia, Jumat (17/4/2026).

Ia menekankan, gangguan produksi dan rantai pasok menjadi tantangan utama yang dihadapi banyak negara. Bahkan, menurut dia, dunia saat ini terlihat sangat berbeda dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

“Selat Hormuz praktis tertutup selama hampir tujuh minggu. Pasar energi global berada di bawah tekanan berat. Rantai pasokan terganggu dan konsekuensinya menghantam tujuh samudra,” kata Anwar.

Baca juga: Datangi Wamentan, Australia dan India Jajaki Impor Urea Indonesia

Pernyataan tersebut menjadi latar penting bagi kunjungan Albanese ke sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara, di mana isu utama yang dibahas adalah ketahanan energi dan stabilitas rantai pasok.

Anthony Albanese telah berulang kali mengklaim satu-satunya kartu yang dibutuhkan warga Australia untuk menemui dokter umum adalah kartu Medicare mereka.ABC NEWS/ADAM KENNEDY via ABC INDONESIA Anthony Albanese telah berulang kali mengklaim satu-satunya kartu yang dibutuhkan warga Australia untuk menemui dokter umum adalah kartu Medicare mereka.

Diplomasi energi dan kerja sama regional

Dalam kunjungan Albanese ke Malaysia, Australia dan Malaysia sepakat memperkuat ketahanan rantai pasok energi di tengah dampak konflik Iran terhadap pasar global.

Kedua negara menegaskan pentingnya kerja sama regional untuk menjaga stabilitas pasokan.

Albanese menyatakan, kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memastikan pasokan energi tetap aman di tengah ketidakpastian global.

Baca juga: Stok BBM Tinggal 38 Hari, Australia Cari Pasokan ke Malaysia-Brunei

“Kami berkomitmen untuk memperkuat kerja sama guna memastikan ketahanan energi di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian,” tutuur Albanese.

Langkah ini sejalan dengan pendekatan Australia yang semakin aktif menjalin kemitraan regional, terutama dengan negara-negara Asia Tenggara yang memiliki peran strategis dalam rantai pasok energi.

Amankan pasokan solar dan pupuk

Selain kerja sama diplomatik, Australia juga mengambil langkah konkret dengan mengamankan pasokan energi dan komoditas penting.

Pemerintah Australia membeli sekitar 100 juta liter solar untuk memperkuat cadangan nasional di tengah krisis energi global.

Baca juga: 223 Ternak Impor dari Australia Mendarat di Bandara Juanda

Di sektor pertanian, Australia juga mengamankan tambahan pasokan pupuk melalui kerja sama dengan Indonesia. Pemerintah Australia bersama industri memfasilitasi pengadaan 250.000 ton urea dari Indonesia.

Kesepakatan antara Incitec Pivot Fertilisers dan PT Pupuk Indonesia (Persero) tersebut mencakup sekitar 20 persen dari kebutuhan pupuk tersisa untuk musim tanam saat ini.

Albanese menegaskan pentingnya pasokan pupuk bagi ketahanan pangan.

Ilustrasi pupuk NPK. SHUTTERSTOCK/CRINIGER OLIO Ilustrasi pupuk NPK.

“Ini adalah hasil yang signifikan bagi para petani kita. Kami memahami betapa pentingnya pupuk bagi petani Australia, bagi sistem produksi pangan kita, dan ketahanan pangan di wilayah kita,” tutur Albanese.

Baca juga: Perang Ganggu Pasokan Urea Dunia, Australia dan India Dekati Indonesia

Ia juga menekankan bahwa kerja sama regional menjadi kunci dalam menghadapi krisis global.

“Kesepakatan ini juga menunjukkan mengapa sangat penting bagi kita untuk memiliki hubungan yang kuat dengan mitra regional kita,” tambah Albanese.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyatakan bahwa Australia terus bekerja sama dengan mitra internasional, khususnya di kawasan, untuk memperkuat ketahanan energi dan pangan.

“Australia bekerja sama dengan mitra internasional kami, khususnya di kawasan ini, untuk memperkuat keamanan energi dan pangan bersama kita,” papar Wong.

Baca juga: Australia Pangkas Pajak BBM 50 Persen, Harga Turun Rp 3.000 per Liter

Adapun Menteri Pertanian Australia Julie Collins menekankan bahwa pasokan pupuk menjadi krusial bagi keberlanjutan produksi pangan.

“Hal ini menjamin pasokan pupuk kepada petani Australia pada saat kritis ini,” kata Collins.

Brunei Darussalam sebagai mitra strategis

Kunjungan ke Brunei mempertegas pentingnya negara tersebut dalam rantai pasok energi Australia. Albanese menyebut, Brunei menyuplai sekitar 9 persen impor diesel Australia dan 11 persen impor pupuk urea.

“Brunei memasok sembilan persen impor solar Australia, dan lebih dari itu, 11 persen impor urea kelas pupuk kita,” terang Albanese.

Baca juga: Australia Alami Krisis BBM, Pesan Pasokan Darurat dari AS

Dalam pertemuan bilateral, kedua negara menandatangani pernyataan bersama terkait keamanan energi dan pangan, yang menegaskan komitmen menjaga kelancaran distribusi barang penting.

PM Anthony Albanese memberikan pernyataan soal Gaza saat bertemu dengan rekan-rekannya di Partai Buruh.ABC NEWS/IAN CUTMORE via ABC INDONESIA PM Anthony Albanese memberikan pernyataan soal Gaza saat bertemu dengan rekan-rekannya di Partai Buruh.

Albanese juga menyoroti potensi peningkatan pasokan dari Brunei, khususnya untuk pupuk.

“Kami membahas potensi peningkatan pasokan, terutama untuk pupuk, dan diskusi ini berlangsung sangat positif,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah Australia memastikan bahwa Brunei tidak akan memberlakukan pembatasan ekspor ke Australia.

Baca juga: Kopi Indonesia Makin Diminati, Ekspor ke Australia Tembus Rp 114 Miliar

“Yang pasti adalah mereka tidak mempertimbangkan untuk memberlakukan pembatasan ekspor terhadap Australia,” kata Albanese.

Dampak konflik dan respons kebijakan

Pemerintah Australia menilai konflik di Timur Tengah memiliki dampak langsung terhadap kawasan Asia, terutama melalui gangguan distribusi energi.

“Konflik di Timur Tengah memang jauh, tetapi dampaknya sangat terasa, terutama di Asia, karena hubungan antar pemasok yang datang melalui Selat Hormuz,” ucap Albanese.

Ia menambahkan, Australia mendorong deeskalasi konflik dan pemulihan aktivitas ekonomi global.

Baca juga: Panic Buying BBM dan Krisis Energi Bayangi Ekonomi Australia

“Australia ingin melihat penurunan ketegangan dan dimulainya kembali aktivitas ekonomi normal yang sangat penting bagi perekonomian global,” kata dia.

Untuk mengantisipasi gangguan pasokan, pemerintah juga mengambil langkah intervensi kebijakan, termasuk melalui Export Finance Australia (EFA) yang digunakan untuk menjamin pembelian bahan bakar oleh sektor swasta.

Langkah ini memungkinkan perusahaan untuk mengakses pasokan tambahan dari pasar global.

“Secara harfiah, kapal-kapal berisi tambahan bahan bakar sedang tiba di Australia, yang ditujukan untuk komunitas regional di mana bahan bakar tersebut paling dibutuhkan,” terang Albanese.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese berjalan saat tiba di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma di Jakarta, Indonesia, (14/5/2025). Ini merupakan kunjungan luar negeri pertamanya setelah terpilih kembali.AFP/YASUYOSHI CHIBA Perdana Menteri Australia Anthony Albanese berjalan saat tiba di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma di Jakarta, Indonesia, (14/5/2025). Ini merupakan kunjungan luar negeri pertamanya setelah terpilih kembali.

Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, RI Alihkan Impor LPG ke Australia

Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan bagian dari alur normal, melainkan tambahan pasokan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Tekanan ekonomi dan kekhawatiran global

Dalam diskusi dengan para pemimpin dunia, Albanese mengakui adanya kekhawatiran luas terhadap dampak ekonomi dari konflik global.

“Ada banyak kekhawatiran, tentang dampak yang ditimbulkan oleh konflik Timur Tengah ini,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pengurangan pasokan energi global dalam jumlah besar akan berdampak signifikan terhadap ekonomi dunia.

Baca juga: Australia Setop Penyelidikan Dumping Baja RI, Mendag: Sinyal Positif

“Anda tidak bisa mengurangi pasokan global sebanyak itu tanpa menimbulkan konsekuensi bagi perekonomian global,” kata Albanese.

Pemerintah Australia menyatakan, meskipun tidak dapat sepenuhnya menghindari dampak global, berbagai langkah telah diambil untuk meminimalkan risiko terhadap domestik.

“Kami melakukan segala yang kami bisa di semua lini untuk melindungi Australia sebaik mungkin, tetapi kami tidak kebal terhadapnya,” ujarnya.

Peran kawasan Asia Tenggara dalam ketahanan energi Australia

Kunjungan Albanese ke Malaysia, Brunei, Indonesia, dan negara lain di kawasan menunjukkan bahwa Asia Tenggara menjadi bagian penting dalam strategi energi Australia.

Baca juga: INKA Ekspor 3 Platform Lokomotif ke Australia

Wong menegaskan bahwa kerja sama regional menjadi kunci dalam menghadapi dampak jangka panjang konflik global.

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong.AFP PHOTO/SAEED KHAN Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong.

“Tujuan kunjungan ini adalah untuk mengenali tantangan yang dihadapi dunia dan memastikan kita memiliki kemitraan yang kuat, andal, dan terpercaya,” ungkap Wong.

Ia menambahkan, tekanan pasokan global diperkirakan akan berlangsung dalam jangka waktu tertentu, bahkan jika konflik mereda.

“Meskipun gencatan senjata kembali diberlakukan, tekanan pasokan global akan terus berlanjut untuk beberapa waktu,” katanya.

Baca juga: BPS Perbarui Kerja Sama dengan Australia untuk Pengembangan Statistik Modern

Kerja sama ini tidak hanya mencakup energi, tetapi juga pangan, di mana aliran pupuk dan hasil pertanian saling terhubung dalam ekosistem regional.

Dengan latar ketidakpastian global dan tekanan pada rantai pasok, langkah Australia memperkuat kemitraan di Asia Tenggara menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan energi dan pangan, sekaligus merespons dinamika geopolitik yang terus berkembang.

Tag:  #hadapi #dampak #perang #iran #australia #kunci #pasokan #energi #dari #asia #tenggara

KOMENTAR