Rupiah Loyo: Sektor Saham Mana yang Untung dan Rugi?
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) diperkirakan menekan sejumlah sektor di pasar saham Indonesia.
Emiten yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku, belanja modal berbasis dollar AS, hingga utang valuta asing (valas) dinilai rentan terkena dampak negatif dari penguatan mata uang Paman Sam.
Di sisi lain, kondisi itu justru menjadi sentimen positif bagi emiten berbasis ekspor karena pendapatan mereka menggunakan dollar AS, sementara sebagian besar biaya operasional masih dalam rupiah.
Baca juga: Rupiah Melemah, Bank Dihadapkan Risiko Tekanan Kinerja dan Kualitas Aset
Ilustrasi Rupiah. Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas mengingatkan pemerintah agar mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi saat ini.
Kurs rupiah pada Kamis (7/5/2026) pagi bergerak menguat 62 poin atau 0,36 persen menjadi Rp 17.325 per dollar AS, sama dengan penutupan Rabu (6/5/2026) di level Rp 17.387 per dollar AS.
Sebelumnya, mata uang Garuda sempat anjlok ke posisi Rp 17.400 per dollar AS.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pelemahan rupiah berpotensi memicu efek cost push inflation atau kenaikan biaya produksi yang signifikan bagi perusahaan yang memiliki eksposur impor tinggi.
Menurutnya, sektor farmasi menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak pelemahan rupiah.
Baca juga: Kurs Rupiah Naik Tipis ke Rp 17.387, Dipicu Harapan Redanya Konflik Timur Tengah
Itu lantaran industri farmasi nasional bergantung pada impor bahan baku obat.
Penguatan dollar AS dapat menggerus margin laba emiten farmasi, terutama apabila perusahaan tidak menaikkan harga jual produk kepada konsumen.
Kendati, kenaikan harga jual juga memiliki risiko terhadap penurunan daya beli masyarakat.
Ilustrasi obat, industri farmasi.
“Ini kan bisa menciptakan cost push ya, kan cost push. Kalau sektor atau emiten yang paling beresiko farmasi pastinya. Karena exposure import-nya tinggi ya kan, sebagian besar bahan baku obat kan masih diimpor bisa 90 persen loh,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com.
Baca juga: Skenario Terburuk Rupiah Rp 18.300, Ekonom Soroti Peran Minyak dan Arus Modal
“Jadi kenaikan dollar AS akan bisa menggerus margin laba, apalagi apabila emiten farmasi tidak menaikan harga jual ke konsumen seperti itulah di dilemanya,” paparnya.
Selain sektor farmasi, emiten ritel dan elektronik juga diperkirakan menghadapi tekanan cukup besar.
Menurut Nafan, produk yang dijual sektor tersebut sebagian besar berbasis harga global atau impor sehingga sangat sensitif terhadap pergerakan kurs dollar AS.
Ia menilai tekanan terhadap daya beli masyarakat juga dapat memperburuk kondisi sektor ritel dan elektronik.
Baca juga: Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Rupiah Malah Loyo ke Rp 17.400
Ketika harga barang naik akibat pelemahan rupiah, volume penjualan berpotensi ikut menurun.
“Ada juga yang exposure import tinggi, ada juga sektor retail, sektor elektronik juga bisa ya kan karena mereka sangat sensitif karena produk mereka kan yang dijual berbasis harga global atau import seperti itu ya,” tukas dia.
Selain sektor berbasis impor, emiten yang memiliki utang dalam denominasi dollar AS juga diproyeksikan menghadapi tekanan tambahan akibat risiko kerugian kurs.
Nafan menilai risiko tersebut akan semakin besar apabila perusahaan tidak memiliki strategi lindung nilai atau hedging yang memadai.
Baca juga: Rupiah Melemah dan Gas Mahal, Industri Keramik: Ibarat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga...
Lebih jauh, sektor telekomunikasi dan infrastruktur menjadi kelompok yang cukup rentan karena memiliki kebutuhan capital expenditure (capex) berbasis dollar AS.
Ilustrasi saham.
Sementara itu, sektor aviasi atau penerbangan juga diperkirakan menghadapi tekanan cukup berat.
Sebab, sebagian besar biaya operasional maskapai seperti avtur dan sewa pesawat menggunakan mata uang dollar AS.
Di tengah tekanan tersebut, pelemahan rupiah justru dinilai menjadi berkah bagi emiten berbasis ekspor.
Baca juga: Rupiah Undervalue, Ini 7 Jurus Bank Indonesia Perkuat Rupiah
Perusahaan eksportir dinilai diuntungkan karena pendapatan mereka dalam bentuk dollar AS, sementara sebagian besar biaya operasional masih menggunakan rupiah.
“Nah, yang diuntungkan tentu eksportir karena pendapatan mereka dalam bentuk dollar AS. Sementara biaya operasionalnya dalam rupiah,” lanjut Nafan.
Ia menyebut sektor energi, khususnya emiten batu bara yang tergabung dalam IDX Energy, menjadi salah satu kelompok yang berpotensi menikmati sentimen positif dari pelemahan rupiah.
Selain itu, sektor basic materials, terutama emiten metal dan pertambangan, juga diperkirakan memperoleh keuntungan dari penguatan dollar AS.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Level 17.400, Bos BI Sebut karena Faktor Global dan Musiman
Sektor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah juga dinilai mendapat sentimen positif karena memiliki basis ekspor yang kuat.
Emiten sawit yang masuk sektor non-cyclicals dinilai masih memiliki peluang mencatatkan kinerja positif.
Nafan mencontohkan sejumlah saham berbasis komoditas dan ekspor yang masih menunjukkan tren penguatan, seperti PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).
Sebaliknya, sejumlah saham yang dinilai masih mengalami tekanan seiring pelemahan rupiah dan perlambatan daya beli antara lain PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), hingga PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).
Ilustrasi pasar saham.
Baca juga: Rupiah Anjlok, Airlangga: Faktor Haji dan Dividen Dongkrak Permintaan Dollar AS
Menurut Nafan, tekanan terhadap saham-saham tersebut sebenarnya sudah mulai tecermin dari tren pergerakan harga saham di pasar.
Sementara itu, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, memandang risiko depresiasi rupiah menuju level Rp 17.500 per dollar AS masih menjadi katalis utama terjadinya arus keluar dana asing atau foreign outflow dari pasar keuangan domestik.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat emiten dengan komposisi kepemilikan asing yang besar menjadi kelompok paling rentan terhadap tekanan volatilitas pasar, terutama saham-saham sektor perbankan yang selama ini menjadi tujuan utama investasi investor global.
Azharys menyebut ketika rupiah terus melemah, investor asing cenderung mengurangi eksposur aset di emerging market, termasuk Indonesia, untuk meminimalkan risiko nilai tukar.
Baca juga: Rupiah Diklaim Lebih Tahan Banting dari Mata Uang Negara Lain
Dampaknya, saham-saham big caps perbankan yang memiliki porsi kepemilikan asing tinggi berpotensi mengalami tekanan jual lebih besar dibandingkan sektor lainnya.
“Risiko depresiasi rupiah menuju level Rp 17.500 tetap menjadi katalis utama outflow asing, sehingga emiten dengan komposisi kepemilikan asing yang besar, khususnya di sektor perbankan, menjadi kelompok yang paling rentan terhadap volatilitas pasar saat ini,” kata Azharys saat dihubungi Kompas.com.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.