Besok ''Rebalancing MSCI'', OJK Beri Sinyal Ada Saham RI yang Terdepak dari Indeks
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi saat konferensi pers di Menara Radius Prawiro, Jakarta, Kamis (7/5/2026).(KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU)
19:16
11 Mei 2026

Besok ''Rebalancing MSCI'', OJK Beri Sinyal Ada Saham RI yang Terdepak dari Indeks

- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberi sinyal adanya saham Indonesia yang berpotensi keluar dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam rebalancing global yang akan digelar Selasa (12/5/2026).

Meski demikian, OJK meminta pelaku pasar tidak panik dan menilai langkah MSCI itu bagian dari reformasi pasar modal domestik yang sudah dijalankan sejak beberapa waktu lalu.

Dalam rebalancing, MSCI akan menerapkan perlakuan khusus terhadap saham tertentu, terutama saham yang dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, dalam proses rebalancing indeks MSCI kemungkinan ada saham asal Indonesia mengalami penyesuaian. Proses itu dipandang normal karena mekanisme rebalancing indeks dilakukan secara berkala oleh MSCI untuk menyesuaikan komposisi saham berdasarkan kriteria tertentu.

Baca juga: Besok Ada Rebalancing MSCI, OJK Yakin Kasta Bursa RI Aman, Pasar Diminta Tak Panik

MSCI sebelumnya telah menyampaikan kebijakan penghentian sementara penambahan saham baru dari Indonesia ke dalam indeks. Karena itu, pada evaluasi kali ini tidak akan ada emiten baru yang masuk ke indeks MSCI. Meski demikian, saham-saham lama yang sebelumnya sudah berada di dalam indeks tetap berpotensi keluar apabila tidak lagi memenuhi persyaratan yang ditetapkan MSCI.

“Kan kemungkinan ada saham yang akan disesuaikan ya. Ini namanya rebalancing index kan. Jadi ya kalaupun besok pengumumannya kita tunggu, kan mereka udah bilang freeze kan, jadi gak ada yang baru yang masuk, tapi yang lama mungkin akan keluar,” ujar Friderica saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/5/2026).

Rebalancing index merupakan proses penyesuaian komposisi saham dalam suatu indeks. Langkah ini dilakukan secara berkala agar indeks tetap mencerminkan kondisi pasar terkini berdasarkan sejumlah kriteria yang telah ditentukan, seperti kapitalisasi pasar, tingkat likuiditas saham, hingga sektor industri emiten.

Untuk diketahui, Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berpotensi terdepak dari indeks MSCI. Keduanya masuk dalam kategori kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration, yang kini menjadi isu utama dalam evaluasi indeks global tersebut.

MSCI dalam tinjauan terbarunya untuk Mei 2026 masih mempertahankan pembatasan terhadap saham Indonesia. Salah satu kebijakan yang ditegaskan ialah pengeluaran saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi yang dinilai berisiko terhadap likuiditas dan aksesibilitas investasi.

Friderica menilai penyesuaian jangka pendek yang mungkin terjadi akibat evaluasi MSCI harus dipandang sebagai konsekuensi dari proses pembenahan pasar modal Indonesia. Dia memandang, reformasi dan perbaikan yang dilakukan regulator dapat menimbulkan tekanan sementara di pasar, namun langkah tersebut diyakini akan memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan pasar modal domestik.

Ia mengibaratkan proses perbaikan itu seperti tubuh yang mungkin terasa tidak nyaman untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya akan menjadi lebih sehat. Karena itu, OJK memastikan reformasi fundamental perlu terus dilakukan guna memperkuat kualitas, integritas, dan daya tahan pasar modal Indonesia.

Meski demikian, Friderica menegaskan segala kemungkinan tetap dapat terjadi sehingga seluruh pelaku pasar perlu mengantisipasi berbagai skenario yang mungkin muncul dari hasil evaluasi MSCI.

“Dan kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai shorten pain lah, tapi insya Allah long term gain. Jadi kalau kita melakukan perbaikan-perbaikan, tentu kan kalau badan rasanya mungkin agak gak enak dikit, tapi ke depan semakin sehat pasar modal kita,” paparnya.

“Jadi kalau kita mau lakukan perbaikan, itu supaya kita kan melakukan perbaikan fundamental, segala kemungkinan bisa terjadi,” beber wanita yang akrab disapa Kiki.

Selain reformasi integritas, OJK juga terus mendorong pendalaman pasar modal melalui peningkatan kualitas emiten, penguatan penegakan hukum, dan perluasan basis investor domestik.

Pendalaman pasar menjadi penting untuk menjaga stabilitas pasar modal Indonesia di tengah gejolak global.

Kiki menambahkan, struktur investor domestik Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan beberapa dekade lalu. Jumlah investor pasar modal domestik kini telah mencapai sekitar 26 juta investor.

“Kalau sekarang ya kan investor kita 26 juta gitu, dan kemudian semakin banyak investor yang di pasar kita, baik itu retail dan kita dorong, supaya bagaimana institusi juga semakin banyak masuk ke pasar saham Indonesia,” tukas dia.

Baca juga: MSCI Tunda Rebalancing, Pasar RI Terhindar Outflow Rp 120 Triliun, Ketidakpastian Membayangi

Tag:  #besok #rebalancing #msci #beri #sinyal #saham #yang #terdepak #dari #indeks

KOMENTAR