Harga Minyak Tinggi, Rupiah Tertekan, Obligasi Tenor Pendek Jadi Pilihan Menarik
Ilustrasi obligasi. (SHUTTERSTOCK/OK-PRODUCT STUDIO)
11:40
19 Mei 2026

Harga Minyak Tinggi, Rupiah Tertekan, Obligasi Tenor Pendek Jadi Pilihan Menarik

Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Israel-AS-Iran mulai memberi tekanan berlapis bagi ekonomi domestik, mulai dari pelemahan rupiah, potensi pembengkakan subsidi energi, hingga ruang penurunan suku bunga yang makin terbatas. Di tengah situasi itu, obligasi tenor pendek dinilai tetap menarik karena menawarkan imbal hasil kompetitif dengan risiko durasi yang lebih rendah.

Pasar keuangan global juga masih bergerak fluktuatif seiring ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait distribusi minyak dunia dan Selat Hormuz yang masih tertutup.

Senior Portfolio Manager Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Syuhada Arief mengatakan, sentimen pasar saat ini masih sangat dipengaruhi perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah.

Baca juga: Rupiah Tembus 17.500, Purbaya Siap Intervensi Pasar Obligasi

“Ke depannya kami memandang sentimen di pasar akan tetap headline driven sampai ada kepastian kapan jalur pelayaran distribusi minyak dapat kembali normal,” ujar Syuhada dalam publikasi Seeking Alpha Mei 2026.

Menurut dia, kondisi harga energi yang bertahan tinggi juga membuat arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed menjadi lebih rumit.

Meski kenaikan suku bunga belum menjadi skenario utama, tingginya harga minyak membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga acuan.

Ekspektasi pasar pun berubah. Jika pada awal tahun pasar memperkirakan ada peluang penurunan Fed Funds Rate sebesar 50 basis poin, kini pasar lebih melihat suku bunga AS bertahan sepanjang tahun ini.

Baca juga: Purbaya Tahan Aktivasi Bond Stabilization Fund, Pemerintah Pilih Stabilkan Obligasi Pakai Kas Negara

Rupiah dan APBN Hadapi Tekanan Bersamaan

Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat 5,61 persen secara tahunan (year on year/YoY), tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Namun di saat yang sama, rupiah terus mengalami tekanan.

Syuhada menilai pemerintah menghadapi trade-off sulit antara menjaga daya beli masyarakat atau mempertahankan stabilitas fiskal dan nilai tukar rupiah.

“Kebijakan yang pro-pertumbuhan, seperti mempertahankan harga BBM bersubsidi dan menaikkan subsidi energi, dipandang positif untuk menjaga daya beli masyarakat, walau akan meningkatkan beban APBN dan menekan rupiah,” kata dia.

Sebaliknya, penyesuaian harga energi memang dapat membantu menjaga kredibilitas APBN dan menopang rupiah, tetapi berisiko menekan konsumsi masyarakat.

Baca juga: Bond Stabilization Fund Disiapkan Redam Gejolak Obligasi, Ekonom Sebut Hanya “Membeli Waktu”

Menurut Syuhada, pemerintah kemungkinan masih mempertahankan kebijakan pro-pertumbuhan selama konflik Timur Tengah tidak berlangsung terlalu lama.

Risiko fiskal juga meningkat seiring kenaikan harga minyak dunia. Hingga Maret 2026, defisit APBN tercatat mencapai 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih lebar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,43 persen.

MAMI mencatat setiap kenaikan 1 dollar AS harga minyak dapat memperlebar defisit APBN sekitar Rp 6,8 triliun. Dengan asumsi harga minyak rata-rata berada di level 90 dollar AS per barrel, defisit fiskal diperkirakan bisa bertambah sekitar 0,5 persen terhadap PDB.

Namun, kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah dinilai masih memberi ruang untuk menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen terhadap PDB.

Baca juga: Purbaya Sebut Defisit APBN Tetap Dijaga di Bawah 3 Persen

Obligasi Tenor Pendek Dinilai Lebih Menarik

Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi geopolitik, persepsi investor terhadap kebijakan ekonomi domestik, serta tingginya permintaan dollar AS di kuartal II-2026.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia turun dari 156,47 miliar dollar AS pada akhir Desember 2025 menjadi 146,20 miliar dollar AS per akhir April 2026.

Syuhada mengatakan, kondisi tersebut membuat ruang penurunan suku bunga BI menjadi lebih terbatas di tengah tekanan terhadap rupiah yang masih tinggi.

Karena itu, MAMI saat ini lebih memilih obligasi tenor pendek dalam strategi portofolionya.

“Saat ini strategi portofolio memiliki preferensi pada obligasi tenor pendek, mempertimbangkan kurva imbal hasil yang relatif flat,” ujar Syuhada.

Ia menjelaskan, yield SBN tenor 5 tahun berada di kisaran 6,5 persen, relatif mendekati tenor 10 tahun yang berada di level 6,6 persen. Kondisi itu membuat obligasi tenor pendek dinilai menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko durasi lebih rendah.

Syuhada juga mengingatkan investor untuk tetap disiplin dan fokus pada tujuan investasi jangka panjang di tengah volatilitas pasar.

“Diversifikasi portofolio menjadi strategi utama,” kata dia.

Tag:  #harga #minyak #tinggi #rupiah #tertekan #obligasi #tenor #pendek #jadi #pilihan #menarik

KOMENTAR