Petani Tebu Sebut Produksi Molase Cukup untuk E10, tapi Harga Pertamina Rendah
Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen saat ditemui di sela-sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Jakarta, Senin (25/5/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)
10:04
26 Mei 2026

Petani Tebu Sebut Produksi Molase Cukup untuk E10, tapi Harga Pertamina Rendah

- Ketua Umum Asosaiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen, menyebut produksi molase sebenarnya cukup untuk menopang program E10.

Program itu mencampurkan 90 persen bensin dengan 10 persen bioetanol guna menekan volume impor bahan bakar.

Soemitro mengatakan, produksi tebu nasional yang dalam setahun mencapai 40 juta ton menghasilkan 2 juta kilo liter molase (5 persen) atau 500 ribu liter etanol.

“Konsumsi kita kurang lebih 5 juta kiloliter kalau kita itu E10, bisa E10,” kata Soemitro saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Baca juga: APTRI: Gula Harus Masuk Bantuan Pangan, Petani Butuh Kesejahteraan

Namun, tidak seluruh produksi molase itu digunakan untuk kebutuhan energi hijau/ Sebagian di antaranya juga digunakan untuk industri kosmetik.

Meski volume produksi molase itu cukup untuk E10, namun petani tebu menilai harga beli dari pihak Pertamina terlalu murah.

Perusahaan minyak dan gas negara itu hanya menawar molase petani Rp 957 per kilogram. Sementara, harga jual kepada eksportir Rp 1.500 per kilogram.

“Hitung-hitungan Pertamina NRE (New & Renewable Energy) waktu itu dengan harga etanol sekarang Pertamina ini ini ini etanol kita ini maaf molases kita bahan baku etanol cuma dihargai di bawah Rp 1.000,” ujar Soemitro.

Menurutnya, petani tebu pernah menjual berhasil menjual molase dengan harga Rp 3.000 per kilogram.

Soemitro menyebut, jika eksportir berani membeli Rp 1.500 per kilogram artinya mereka masih bisa menjual molase dengan harga lebih tinggi.

Komoditas itu tetap laku dan eksportir mendapatkan keuntungan.

“Eksportirnya kan bukan saya tapi pedagang-pedagang yang mau diekspor tadi pedagang-pedagang mereka ekspor tapi dia beli dari kita kurang lebih Rp 1.400-Rp 1.500 pasti ekspornya di atas itu,” kata dia.

Soemitro berharap, pemerintah menghargai petani tebu dengan mematok harga molase yang kompetitif.

Menurutnya, BUMN tidak melulu harus meraup keuntungan ekonomi namun memberikan nilai sosial bagi masyarakat.

“Kami ingin molases ini yang kemarin biasanya kita laku Rp 2.500 per kilogram turun menjadi seturun-turunnya saja masih Rp 1.000-Rp 1.200 kemarin itu ada pernah dijual Rp 900, jangan kita itu tidak dihargai apalagi ini pemerintah,” tuturnya.

Baca juga: Kembalikan Kejayaan Petani Tebu, Bupati Blora Minta Pengurus Baru APTRI Jalin Sinergi

Tag:  #petani #tebu #sebut #produksi #molase #cukup #untuk #tapi #harga #pertamina #rendah

KOMENTAR