Hantavirus Tak Mudah Jadi Pandemi seperti Covid-19, Ini Penjelasan Epidemiolog
Kapal pesiar mewah MV Hondius yang berangkat dari Argentina. Satu penumpangnya dikonfirmasi meninggal dunia akibat hantavirus.(DOK. ANTARTICA CRUISES)
15:36
7 Mei 2026

Hantavirus Tak Mudah Jadi Pandemi seperti Covid-19, Ini Penjelasan Epidemiolog

Kemunculan kasus hantavirus di kapal pesiar yang melintasi wilayah Argentina pada awal Mei 2026 memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat.

Sebagian bahkan membandingkannya dengan Covid-19 dan khawatir penyakit tersebut dapat berkembang menjadi pandemi global.

Namun, epidemiolog dari Griffith University Australia Dr. Dicky Budiman, PhD menegaskan bahwa hantavirus memiliki karakteristik penularan yang sangat berbeda dibandingkan virus penyebab Covid-19.

Menurut Dr. Dicky, hingga saat ini kemungkinan hantavirus berkembang menjadi pandemi seperti Covid-19 tergolong sangat kecil.

“Secara umum, penularan hantavirus itu berbeda jauh dengan Covid-19” kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, reservoir utama hantavirus adalah hewan pengerat, terutama tikus liar.

Penularan ke manusia paling sering terjadi melalui paparan lingkungan yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang telah mengering lalu terhirup dalam bentuk aerosol.

“Jadi penularannya terutama dari lingkungan yang terkontaminasi tikus terinfeksi, bukan dari manusia ke manusia,” ujarnya.

Dr. Dicky mengatakan, dalam kasus tertentu memang pernah ditemukan jenis hantavirus yang memungkinkan penularan terbatas antarmanusia.

Namun, kasus tersebut sangat jarang dan tidak menunjukkan pola penyebaran cepat seperti Covid-19.

Baca juga: Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Ini Penyebab dan Cara Penularannya

Apa itu hantavirus?

Hantavirus merupakan kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, salah satunya hantavirus pulmonary syndrome (HPS), yakni gangguan pernapasan berat yang menyerang paru-paru.

Virus ini pertama kali dikenali pada 1976 di Korea Selatan dan namanya diambil dari Sungai Hantan.

Sementara wabah yang paling banyak menarik perhatian dunia terjadi pada 1993 di wilayah Four Corners, Amerika Serikat.

Saat itu, strain Sin Nombre menyebabkan infeksi paru berat dengan tingkat kematian yang tinggi.

“Hantavirus dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah, kebocoran cairan, hingga gagal napas akut,” jelas Dr. Dicky.

Pada tahap awal, pasien biasanya mengalami demam, nyeri otot, lemas, mual, dan keluhan mirip flu.

Namun dalam beberapa hari, kondisi dapat berkembang cepat menjadi sesak napas berat akibat paru-paru terisi cairan.

Secara medis, kondisi ini menyerupai acute respiratory distress syndrome (ARDS), yaitu gangguan pernapasan akut yang dapat mengancam nyawa.

Menurut Dr. Dicky, fatalitas pada kasus berat dapat mencapai sekitar 40 persen, terutama jika diagnosis terlambat atau fasilitas perawatan intensif terbatas.

Ilustrasi tikus. Kasus Langka, WHO Sebut Hantavirus Menular dari Manusia ke Manusia, Siapa yang Paling Rentan Terinfeksi?Freepik/wirestock Ilustrasi tikus. Kasus Langka, WHO Sebut Hantavirus Menular dari Manusia ke Manusia, Siapa yang Paling Rentan Terinfeksi?

Risiko di Indonesia dinilai masih rendah

Meski demikian, Dr. Dicky menilai risiko hantavirus bagi populasi umum di Indonesia saat ini masih relatif rendah.

Namun, ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sejumlah faktor yang membuat kewaspadaan tetap diperlukan, seperti populasi tikus yang tinggi, banjir musiman, sanitasi perkotaan, hingga kondisi pelabuhan dan pergudangan yang padat.

Kelompok yang dinilai lebih rentan antara lain petugas kebersihan, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, petani, serta masyarakat yang sering terpapar lingkungan dengan banyak tikus.

Selain itu, hantavirus juga dinilai berpotensi tidak terdiagnosis karena gejalanya dapat menyerupai penyakit lain seperti leptospirosis, demam berdarah dengue, maupun pneumonia berat.

Baca juga: Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Bikin 150 Orang Tertahan, Kenali Gejala dan Cara Penularannya

Menjaga kebersihan dari rumah tanpa panik

Dr. Dicky juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing informasi yang belum jelas kebenarannya di media sosial.

Menurut dia, kewaspadaan paling penting dimulai dari menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi paparan terhadap tikus.

Ia menyarankan masyarakat memastikan rumah bebas dari tikus, menyimpan makanan dengan baik, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang kotor atau berisiko terkontaminasi kotoran tikus.

“Waspada tetap perlu, tetapi harus rasional, jaga pola hidup bersih di segala aspek, jaga kebersihan lingkungan, usahakan di rumah itu nggak ada tikus, ya,” ujar Dr. Dicky.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih selektif dalam menerima informasi kesehatan dan memastikan sumber informasi berasal dari tenaga medis atau lembaga kredibel.

Tag:  #hantavirus #mudah #jadi #pandemi #seperti #covid #penjelasan #epidemiolog

KOMENTAR