China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
- Dampak perang Iran yang telah berlangsung lebih dari sebulan di Timur Tengah mulai dirasakan hingga ke China.
Kenaikan harga bensin dan plastik memicu dorongan diplomatik bagi Beijing untuk menghentikan konflik.
Sebagai negara perekonomian terbesar kedua di dunia, China menghadapi sejumlah pertimbangan strategis dalam menyikapi hubungan dengan Iran dan dinamika kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Jurus China Tetap Tenang Meski Selat Hormuz Ditutup, Ketahanan Energi Harga Mati
Bagaimana hubungan China-Iran kini?
Foto dari kantor kepresidenan Iran ini menunjukkan Presiden China Xi Jinping menyambut Presiden Iran Ebrahim Raisi (kiri) selama kunjungannya di Beijing pada 14 Februari 2023.Hubungan ekonomi antara China dan Iran selama ini dinilai lebih bersifat transaksional dibandingkan aliansi ideologis.
"China tertarik pada Iran terutama sebagai sumber minyak dengan harga diskon," ujar William Figueroa, ahli hubungan China-Iran dari Universitas Groningen, dikutip dari AFP pada Selasa (31/3/2026).
Iran yang berada di bawah sanksi berat bergantung pada pembelian minyak oleh China sebagai sumber utama pendapatan negara.
Data dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan, lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran dibeli oleh China tahun lalu.
Meski demikian, kontribusi minyak Iran hanya sekitar 13 persen dari total impor minyak mentah China melalui jalur laut.
Figueroa menyebut bahwa China tidak sepenuhnya bergantung pada Iran karena negara-negara Teluk menawarkan pasokan energi serupa dengan kondisi lebih stabil dan dekat dengan Amerika Serikat (AS).
Hubungan dagang China dengan Iran juga relatif kecil dibandingkan dengan mitra lain di kawasan.
Nilai perdagangan China dengan Iran tercatat sebesar 9,96 miliar dollar AS (Rp 169,12 triliun) pada tahun lalu.
Angka tersebut jauh di bawah perdagangan China dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang masing-masing mencapai 108 miliar dollar AS (Rp 1,83 kuadriliun), serta Irak sebesar 51 miliar dollar AS (Rp 866 triliun).
Kesepakatan investasi senilai 400 miliar dollar AS (Rp 6,79 kuadriliun) selama 25 tahun yang disepakati pada 2021 juga belum menunjukkan realisasi signifikan.
Baca juga: China Petakan Dasar Samudra, Diduga Persiapan Perang Kapal Selam Lawan AS
Sikap China ke Iran terpengaruh
Menteri Luar Negeri China Wang Yi.Ketimpangan ekonomi ini turut memengaruhi sikap China terhadap konflik yang melibatkan Iran.
"Negeri Panda" memilih respons hati-hati dan tidak memberikan dukungan militer langsung kepada Teheran.
"Beijing menahan diri dari keterlibatan militer secara terang-terangan, menekankan pengekangan dan diplomasi," kata John Calabrese, peneliti senior di Middle East Institute, Washington.
China memang mengecam pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, tetapi pada saat yang sama juga mengkritik serangan Iran di kawasan Teluk.
Beberapa laporan menyebut Iran kemungkinan menggunakan sistem navigasi satelit BeiDou milik China untuk meningkatkan akurasi serangan drone dan rudal.
Mantan direktur intelijen Perancis Alain Juillet mengatakan dalam podcast Tocsin, sistem tersebut berpotensi digunakan dalam operasi militer Iran.
Figueroa juga menyebut bahwa China sebelumnya telah memasok drone, bahan kimia dwiguna, serta kemungkinan berbagi intelijen dengan Iran.
Pemerintah Amerika Serikat bahkan menuduh perusahaan semikonduktor milik negara China, SMIC, menjual peralatan pembuatan chip kepada militer Iran.
Namun, tidak terdapat pakta militer formal antara kedua negara, dan kepemimpinan China berupaya menghindari keterlibatan langsung dalam konflik Timur Tengah.
China juga menolak permintaan Presiden AS Donald Trump untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.
Baca juga: Analis China Ungkap Cara Iran Tembak F-35, Jet Tempur Siluman Tercanggih AS
Posisi diplomatik canggung
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping (kanan).Dalam konteks diplomasi, China menempatkan stabilitas kawasan sebagai prioritas utama.
"Prioritas China adalah stabilitas dan keberlanjutan: Menjaga aliran energi tetap terbuka, melindungi hubungan komersial, dan memosisikan diri untuk pengaruh pasca-perang," kata Calabrese.
Menteri Luar Negeri Wang Yi telah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak di kawasan, sementara utusan khusus Zhai Jun melakukan kunjungan untuk mendorong gencatan senjata.
Meski demikian, pengaruh China dalam konflik ini dinilai terbatas.
Andrea Ghiselli dari Universitas Exeter menyebut posisi Beijing sebagai "posisi diplomatik yang canggung".
China tidak secara langsung mengecam Iran, tetapi tetap mengkritik pelanggaran kedaulatan terhadap negara-negara Teluk.
"China berharap perang akan segera berakhir dengan sendirinya, mungkin dengan kekalahan Amerika. Namun, kemampuan dan kemauannya untuk membentuk situasi ke arah itu tidak boleh dilebih-lebihkan," ujar Ghiselli.
China juga menginginkan Iran menghentikan serangan terhadap mitra-mitranya di kawasan, meskipun upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Keberhasilan China dalam menengahi hubungan Iran dan Arab Saudi pada 2023 sempat menunjukkan pengaruh diplomatik yang meningkat.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan keterbatasan peran tersebut, terutama setelah serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi tidak dapat dicegah.
Baca juga: Tantangan Strategis China Pasca-Kematian Khamenei
Risiko besar bagi China
Turis China dan luar negeri menikmati pemandangan distrik keuangan Pudong di Shanghai pada 29 Oktober 2013. China mulai 17 Februari 2026 membebaskan visa bagi pendatang dari Inggris dan Kanada, berlaku hingga 31 Desember 2026.Di sisi lain, konflik ini juga menghadirkan peluang sekaligus risiko bagi Beijing.
Figueroa menilai bahwa secara diplomatik, situasi ini menguntungkan China karena Amerika Serikat dianggap merusak reputasinya sendiri di panggung global.
"Secara diplomatik, perang ini merupakan hadiah besar bagi Kementerian Luar Negeri China, yang hanya perlu duduk diam dan membiarkan AS merusak prestise dan reputasi globalnya sendiri," kata Figueroa.
Akan tetapi, dampak ekonomi dari konflik ini justru menjadi ancaman serius.
Kenaikan harga minyak dan ketidakstabilan ekonomi regional dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi China.
Henry Tugendhat dari Washington Institute for Near East Policy menyoroti potensi dampak pada pasar ekspor China.
"Kerentanan terbesarnya adalah dampak yang akan ditimbulkan pada pasar ekspor China," kata Tugendhat.
Pelemahan ekonomi di kawasan lain, termasuk Eropa sebagai salah satu pasar utama, dapat menurunkan permintaan terhadap produk China.
Kondisi ini menjadi tantangan karena ekonomi China masih bergantung pada permintaan luar negeri untuk menjaga target pertumbuhan domestik.
Secara keseluruhan, Beijing memandang Iran sebagai mitra strategis yang berguna sekaligus penyeimbang terhadap Amerika.
Akan tetapi, China tidak menginginkan Iran memiliki senjata nuklir atau memperparah ketidakstabilan kawasan.
"Mereka lebih menyukai rezim yang sudah dikenal di Teheran, tetapi cukup pragmatis untuk beradaptasi dengan perubahan politik, seperti yang mereka lakukan dalam banyak kasus lain, seperti di Iran setelah Shah," ujar Calabrese.
Baca juga: Riset China Ungkap Pertahanan AS Tak Sejago Teori, Rudal Iran Ini Jadi Bukti
Tag: #china #mulai #terdampak #perang #iran #bisa #picu #risiko #besar