Cara China Diam-diam Menopang Iran di Tengah Perang dan Sanksi AS
Presiden China Xi Jinping melambaikan tangan saat bertemu Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam To Lam di Hanoi, 14 April 2025.(AFP/POOL/NHAC NGUYEN)
16:18
7 April 2026

Cara China Diam-diam Menopang Iran di Tengah Perang dan Sanksi AS

- Di tengah sanksi maksimum dan perang yang diluncurkan Amerika Serikat untuk melumpuhkan ekonomi Iran, Teheran justru berhasil mempertahankan napas finansialnya. 

Kunci ketahanan tersebut berada di tangan satu negara, yakni China.

Dikutip dari Wall Street Journal, Negeri Panda ini secara dramatis meningkatkan pembelian minyak Iran hingga mencakup hampir seluruh total produksi Teheran. 

Berdasarkan data Kpler, China diperkirakan membeli sekitar 1,4 juta barel minyak per hari dari Iran pada tahun 2025, melonjak dua kali lipat dibandingkan periode 2017.

Namun, di balik layar, Beijing dinilai waspada terhadap kemungkinan terlihat secara terbuka melanggar sanksi, yang dapat memicu kemarahan Washington dan merusak hubungannya dengan negara-negara Teluk lainnya.

Baca juga: China Tiba-tiba Tutup Langit 40 Hari, Larang Terbang Tanpa Penjelasan

AS beri Tekanan maksimum pada Iran

Beberapa tahun lalu, ketika sanksi terhadap Teheran tidak terlalu ketat, perusahaan minyak milik negara China secara terbuka membeli minyak mentah Iran, seperti halnya banyak pembeli lain di seluruh dunia.  

Namun, pemerintahan Obama memperketat aturan, sehingga jauh lebih sulit untuk berbisnis dengan Iran. 

Sanksi kemudian dilonggarkan setelah mencapai kesepakatan nuklir dengan Teheran pada 2015. Banyak negara, termasuk India, Italia, dan Yunani, meningkatkan pembelian minyak Iran.

Baca juga: China Rencanakan Sistem Energi Baru, Hadapi Krisis Minyak akibat Perang Iran

Segalanya berubah ketika Trump pertama kali menjabat. Dia membatalkan kesepakatan nuklir Obama dan meluncurkan kampanye tekanan maksimum dengan sanksi terberat hingga saat ini.

AS mengancam akan menghukum siapa pun yang membeli atau membiayai pembelian minyak Iran.

Menurut Kpler, penjualan minyak Iran anjlok dari hampir 2,8 juta barel per hari pada Mei 2018 menjadi sekitar 200.000 barel per hari pada Agustus 2019, karena para pembeli menarik diri dari pasar.

Namun, Iran dengan cepat merespons dengan bantuan China.

Baca juga: AS Dicap Arogan dan Melemah, Begini Cara China Membingkai Perang Iran

Jaringan perdagangan rahasia

Untuk memuluskan transaksi ini, Beijing dan Teheran membangun jaringan penghindaran sanksi yang sangat masif. 

Perdagangan dilakukan melalui faktur palsu yang mengeklaim minyak tersebut berasal dari negara lain, seperti Oman atau Malaysia.

"China adalah mitra utama Iran dalam menghindari sanksi," kata Max Meizlish dari Foundation for Defense of Democracies, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Washington. 

"Iran tidak akan mampu melawan perang ini tanpa dukungan bertahun-tahun yang telah diterimanya dari China," sambungnya.

Selain manipulasi dokumen, mereka disebut memanfaatkan armada "tanker bayangan" untuk mengangkut minyak dengan mematikan sinyal posisi dan memindahkan muatan antar-kapal di tengah laut guna menyamarkan asal-usul komoditas tersebut.

Baca juga: Iran Tembak Jatuh Drone China, Tuding UEA-Saudi Ikut Perang

Peran kilang 'Teapot' dan bank kecil

Foto dari kantor kepresidenan Iran ini menunjukkan Presiden China Xi Jinping menyambut Presiden Iran Ebrahim Raisi (kiri) selama kunjungannya di Beijing pada 14 Februari 2023.KANTOR KEPRESIDENAN IRAN via AFP Foto dari kantor kepresidenan Iran ini menunjukkan Presiden China Xi Jinping menyambut Presiden Iran Ebrahim Raisi (kiri) selama kunjungannya di Beijing pada 14 Februari 2023.

Strategi China juga melibatkan penggunaan kilang minyak swasta kecil yang dijuluki "teapot". 

Berbeda dengan raksasa energi milik negara yang takut terkena sanksi AS, kilang-kilang independen ini terus menyerap minyak Iran yang ditawarkan dengan diskon besar.

Perusahaan-perusahaan ini kurang rentan terhadap sanksi karena dianggap membayar minyak dari Iran menggunakan yuan, bukan dollar AS.

Beijing secara bertahap meningkatkan jumlah minyak yang dapat diimpor oleh perusahaan-perusahaan minyak. 

Baca juga: DK PBB Berselisih soal Perang Iran, Rusia-China Bentrok dengan AS

Sebelumnya, jumlah minyak yang dapat diimpor dibatasi oleh kuota yang ditetapkan oleh negara.  

Kuota impor minyak mentah China untuk perdagangan non-negara pun meningkat dari 140 juta metrik ton pada 2018 menjadi 257 juta metrik ton tahun ini, menurut data resmi China.

Dari sisi finansial, pembayaran dialirkan melalui bank-bank kecil China dengan operasi global terbatas, seperti Bank of Kunlun. 

Lembaga keuangan ini menjadi pilihan utama karena risikonya kecil jika diputus dari sistem keuangan AS, mengingat mereka beroperasi menggunakan mata uang yuan.

Tag:  #cara #china #diam #diam #menopang #iran #tengah #perang #sanksi

KOMENTAR