Di Balik Drone Shahed Iran, Peran Rahasia China Mulai Terungkap
Sejumlah perusahaan China dilaporkan memasok komponen penting yang dapat digunakan untuk memproduksi drone tempur Iran, Shahed.
Pada Selasa (5/4/2026), di tengah serangan militer antara pihak-pihak yang bertikai, sebuah email dari perusahaan China, Xiamen Victory Technology, menawarkan penjualan mesin buatan Jerman yang digunakan untuk menggerakkan drone serang satu arah.
Mesin tersebut, Limbach L550, diketahui menjadi komponen penting dalam drone Shahed-136 milik Iran.
Baca juga: Aliansi CICA Bisa Jadi Jalan Keluar Perang Iran, Apa Itu?
Dalam pesannya, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal, perusahaan itu menyatakan, “Kami sangat terkejut dan marah atas agresi terhadap Iran, dan hati kami bersama Anda.”
Penawaran itu bahkan menampilkan gambar drone bergaya Shahed di situs mereka, disertai slogan inovasi mesin penerbangan.
Seorang peneliti dari Wisconsin Project on Nuclear Arms Control, John Caves, mengatakan, “Mereka secara aktif mencoba menjual mesin Limbach L550 ke Iran—dan melakukannya dengan cukup terang-terangan.”
Namun, perwakilan perusahaan yang mengidentifikasi diri sebagai Kristoff Chen mengeklaim bahwa pihaknya belum mengekspor mesin tersebut ke Iran maupun Rusia.
Ia menyebut email itu dibuat menggunakan kecerdasan buatan untuk menjangkau klien luar negeri.
Rantai pasok yang sulit dibendung
Data bea cukai China menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di negara itu mengirim ratusan kontainer berisi barang “dual-use” ke Iran dan Rusia. Barang tersebut mencakup mesin, chip komputer, kabel serat optik, hingga giroskop—komponen yang dapat digunakan untuk kebutuhan sipil maupun militer.
Menurut pejabat dan analis, sebagian eksportir sebelumnya sengaja salah memberi label pada pengiriman untuk menghindari sanksi.
Namun kini, dalam banyak kasus, praktik tersebut tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Mantan pejabat Departemen Keuangan AS menyebut China telah lama menjadi titik transit bagi komponen buatan Barat yang kemudian dialihkan ke pabrik drone di Iran dan Rusia.
Kini, komponen tersebut semakin banyak diproduksi langsung di dalam negeri China, terutama oleh perusahaan kecil yang tidak terlalu khawatir terhadap sanksi Barat.
“Mereka membiarkan aliran itu terus berlangsung bahkan ketika perannya sudah berulang kali terungkap dalam laporan publik dan penetapan sanksi,” kata Miad Maleki, mantan pejabat yang menangani program sanksi.
“Mereka tidak peduli atau memilih untuk tidak ikut campur.”
Peran penting drone Shahed
Drone Shahed-136 milik Iran. Drone Shahed. Spesifikasi drone Shahed.
Drone Shahed menjadi perhatian utama AS karena kemampuannya menjangkau hingga sekitar 1.000 mil dengan hulu ledak, serta biaya produksi yang relatif murah, sekitar 20.000 hingga 50.000 dollar AS (sekitar Rp 346 juta hingga Rp 867 juta). Drone ini terbukti efektif menembus atau menghindari pertahanan udara.
Dalam investigasi sebelumnya, ditemukan bahwa versi awal drone Shahed menggunakan berbagai komponen dari AS dan Eropa yang dialihkan melalui distributor resmi ke China atau Hong Kong, sebelum akhirnya dikirim ke Iran atau Rusia.
Pembayaran sering dilakukan melalui perusahaan cangkang di Hong Kong untuk menyamarkan tujuan akhir pengiriman. Meski jaringan tersebut telah dikenai sanksi, jaringan baru terus bermunculan.
Baca juga: China Dukung Iran atas Energi Nuklinya, Sebut Teheran Punya Hak
Lonjakan ekspor
Data perdagangan menunjukkan lonjakan ekspor dari China untuk barang-barang yang relevan dengan teknologi drone.
Ekspor kabel serat optik dan baterai lithium-ion meningkat tajam, seiring penggunaan drone dalam konflik.
Seorang peneliti dari Atlantic Council, Joseph Webster, mengatakan, “Hampir tidak ada penjelasan yang masuk akal selain bahwa ini digunakan untuk kepentingan militer. Ini sangat terang-terangan.”
Lonjakan serupa juga terlihat pada ekspor ke Iran setelah konflik dengan Israel, yang diikuti penggunaan drone oleh kelompok yang didukung Iran dalam serangan terhadap target militer.
Respons China
Menanggapi tudingan tersebut, Kementerian Luar Negeri China menyatakan, pihaknya secara konsisten mengontrol ekspor barang “dual-use” sesuai hukum dan kewajiban internasional.
Sementara itu, pejabat AS mengakui sulit menghentikan aliran komponen tersebut sepenuhnya.
Sebagai alternatif, Washington berupaya menekan sumber pendanaan Iran, termasuk dengan menargetkan pembeli dan pengangkut minyaknya.
“Kami fokus pada pendapatan, karena ketika kami memotong sumber utamanya, di situlah kami bisa memberikan dampak jangka panjang,” ujar seorang pejabat AS.
Baca juga: AS Nyatakan Operation Epic Fury di Iran Berakhir, Masuk Fase Baru
Tag: #balik #drone #shahed #iran #peran #rahasia #china #mulai #terungkap