Perang Iran Kuras Senjata AS, Pentagon Minta Bantuan Pabrik Mobil
- Pentagon dikabarkan tertarik melibatkan produsen mobil Amerika Serikat (AS) agar menggunakan kapasitas pabriknya untuk meningkatkan produksi amunisi dan persenjataan.
Hal ini dilakukan untuk mengatasi persediaan persenjataan AS yang terkuras akibat perang di Ukraina dan Iran.
Dikutip dari Wall Street Journal, Rabu (15/4/2026), menurut sumber yang mengetahui diskusi tersebut, para pejabat senior pertahanan AS telah mengadakan pembicaraan tentang produksi senjata dan perlengkapan militer dengan para eksekutif beberapa perusahaan, termasuk Mary Barra dari General Motors dan Jim Farley dari Ford Motor.
Baca juga: Cekik Iran Jelang Negosiasi, AS Umumkan Sanksi Baru untuk Teheran
Selain itu, GE Aerospace serta produsen kendaraan dan mesin Oshkosh termasuk di antara perusahaan yang terlibat dalam pembicaraan dengan para pejabat pertahanan.
Para pejabat mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan ini mungkin dibutuhkan untuk mendukung perusahaan pertahanan tradisional AS.
“Departemen Pertahanan berkomitmen untuk memperluas basis industri pertahanan secara cepat dengan memanfaatkan semua solusi dan teknologi komersial yang tersedia,” kata seorang pejabat Pentagon.
Baca juga: AS Optimis Capai Kesepakatan dengan Iran, Peringatkan Tekanan Ekonomi jika Menolak
Penguatan produksi senjata jadi masalah keamanan nasional
Sejumlah kendaraan militer AS tampak berpatroli di pinggiran kota Qamishli, Suriah, pada 4 Desember 2022. (Foto: AP/Baderkhan Ahmad)
Tekanan konflik terhadap persediaan amunisi menunjukkan bahwa militer AS membutuhkan lebih banyak mitra komersial untuk meningkatkan pasokan amunisi dan senjata taktis dengan cepat.
Selama pembicaraan dengan para eksekutif manufaktur AS, pejabat pertahanan menggambarkan penguatan produksi senjata sebagai masalah keamanan nasional.
Mereka juga meminta para eksekutif untuk mengidentifikasi hambatan dalam mengerjakan pekerjaan pertahanan tambahan, mulai dari persyaratan kontrak hingga rintangan dalam proses penawaran.
Pentagon semakin khawatir tentang kapasitas manufaktur senjata AS setelah mereka mulai mentransfer sejumlah besar senjata ke Ukraina menyusul invasi skala penuh Rusia pada 2022.
Baca juga: Iran Beri Peringatan soal Blokade Selat Hormuz, Ancam Tenggelamkan Kapal AS
Terbaru, perang dengan Iran yang berlangsugn dalam kurang lebih enam pekan juga menimbulkan kerugian besar bagi Militer AS.
Dilansir Kompas.com, Jumat (27/3/2026), sejumlah aset militer canggih bernilai miliaran dolar rusak hingga hancur akibat serangan balasan Iran.
Serangan tersebut didominasi oleh rudal balistik dan drone yang menghantam berbagai target di darat maupun fasilitas militer sekutu AS.
Akibatnya, biaya kerusakan dan penggantian alutsista terus membengkak dan menjadi beban besar bagi Pentagon.
Total kerugian dalam tiga minggu pertama perang diperkirakan mencapai sekitar 1,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 23 triliun) hingga 2,9 miliar dollar AS (sekitar Rp 49 triliun).
Tag: #perang #iran #kuras #senjata #pentagon #minta #bantuan #pabrik #mobil