Siaga Satu, Iran Bersumpah Balas Setiap Serangan AS
Para anggota Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Angkatan Laut Iran saat melakukan latihan militer di Teluk untuk memulai rangkaian simulasi militer di Selat Hormuz pada 16 Februari 2026.(SEPAH NEWS via AFP)
10:54
1 Mei 2026

Siaga Satu, Iran Bersumpah Balas Setiap Serangan AS

- Iran mengancam akan melancarkan serangan panjang dan menyakitkan terhadap posisi militer Amerika Serikat (AS) jika Washington nekat memperbarui serangan militernya.

Ancaman ini muncul di tengah kebuntuan upaya resolusi konflik yang telah berlangsung selama dua bulan antara AS-Israel melawan Iran, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (1/5/2026). 

Jalur pelayaran vital, Selat Hormuz, hingga kini masih ditutup oleh Iran, yang mengakibatkan tersumbatnya 20 persen pasokan minyak dan gas dunia serta melonjaknya harga energi global.

Baca juga: Trump Kata-katai Kanselir Jerman Usai Dikritik soal Perang Iran

Seorang pejabat senior Korps Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa setiap serangan baru dari AS, meski dalam skala terbatas, akan memicu langsung balasan

Senada dengan hal tersebut, Komandan Angkatan Udara Iran Majid Mousavi juga memperingatkan konsekuensi bagi armada laut AS di kawasan tersebut.

"Kami telah melihat apa yang terjadi pada pangkalan regional Anda, kami akan melihat hal yang sama terjadi pada kapal perang Anda," ujar Mousavi sebagaimana dikutip media lokal Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, dalam pesan tertulisnya kepada rakyat Iran, juga menyatakan niat Teheran untuk terus mempertahankan kendali atas Selat Hormuz.

"Orang asing yang datang dari ribuan kilometer jauhnya... tidak memiliki tempat di sana kecuali di dasar perairannya," tegas Khamenei.

Baca juga: Trump Beri Restu, Iran Dipastikan ke AS untuk Tampil di Piala Dunia

Rencana AS

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan pada mengenai rencana serangkaian serangan militer baru. 

Langkah ini bertujuan untuk memaksa Iran bernegosiasi guna mengakhiri konflik.

Laporan mengenai rencana serangan ini sempat memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga mencapai lebih dari 126 dollar AS per barrel, sebelum akhirnya turun kembali ke kisaran 114 dollar AS.

Selain opsi serangan udara, muncul pula rencana untuk mengerahkan pasukan darat guna mengambil alih sebagian wilayah selat agar jalur perdagangan internasional dapat dibuka kembali.

Baca juga: Para Tokoh yang Kini Memegang Kendali Pemerintahan Iran

Meskipun situasi memanas, Trump sempat melontarkan pernyataan mengenai keikutsertaan Iran dalam Piala Dunia mendatang di AS.

Dia mengaku tidak masalah jika Iran berpartisipasi, setelah adanya desakan dari Presiden FIFA Gianni Infantino.

Di sisi lain, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menilai harapan untuk mencapai hasil instan dalam negosiasi saat ini adalah hal yang tidak realistis.

"Mengharapkan hasil dalam waktu singkat, terlepas dari siapa mediatornya, menurut pendapat saya, tidak terlalu realistis," ungkap Baghaei.

Baca juga: Iran Dipaksa Menyerah, AS Terus Tekan Ekonomi dan Adu Domba

Tenggat waktu

Ancaman Iran tersebut juga disampaikan saat Trump menghadapi tenggat waktu terkait operasi militer AS terhadap Iran.

Dilansir dari AFP, UU perang AS, War Powers Act, negara mewajibkan pemerintah menghentikan operasi militer jika tidak ada otorisasi resmi dari Kongres setelah 60 hari.

Batas waktu ini berkaitan dengan kewajiban konstitusional untuk mendapatkan persetujuan Kongres dalam melanjutkan perang.

Perang Iran sendiri dimulai secara efektif pada 28 Februari dan jika dihitung berdasarkan UU yang ada, 60 hari jatuh pada Kamis (30/4/2026) malam.

Namun, tenggat tersebut diperkirakan tidak akan langsung menghentikan rencana militer yang sedang berjalan.

Baca juga: Iran Ejek Blokade AS, Sebut Tak Efektif dan Tantang Diperpanjang 30 Hari

Warga Iran mengibarkan bendera negara saat menghadiri pemakaman para komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel, di Lapangan Enghelab, Teheran, 11 Maret 2026.AFP/ATTA KENARE Warga Iran mengibarkan bendera negara saat menghadiri pemakaman para komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel, di Lapangan Enghelab, Teheran, 11 Maret 2026.

Sementara itu, pemerintahan Trump menolak interpretasi tersebut dan berargumen bahwa hitungan 60 hari seharusnya dihentikan sementara.

Mereka menyebut gencatan senjata yang diumumkan pada April sebagai dasar penghentian sementara hitungan waktu.

Seorang pejabat senior pemerintah mengatakan, tidak ada baku tembak antara AS dan Iran sejak gencatan senjata tercapai pada 7 April.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga menyampaikan pandangan serupa di hadapan anggota parlemen.

Dia mengatakan, pemerintah meyakini hitungan 60 hari berhenti atau terhenti selama periode gencatan senjata.

Baca juga: AS Buka Opsi Gunakan Senjata Hipersonik untuk Lanjut Serang Iran, Bisa Jadi yang Pertama

Tag:  #siaga #satu #iran #bersumpah #balas #setiap #serangan

KOMENTAR