Iran Kewalahan Hadapi Blokade AS, Strategi Lama Tak Lagi Efektif
Iran kini menghadapi tekanan besar setelah strategi lama untuk bertahan dari sanksi Amerika Serikat tak lagi efektif.
Selama hampir lima dekade, Teheran mampu mengandalkan penjualan minyak secara terselubung, terutama ke China, untuk menjaga ekonomi tetap berjalan.
Namun, blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat dalam konflik terbaru membuat jalur tersebut praktis terputus. Kondisi ini menempatkan Iran dalam situasi sulit, baik secara ekonomi maupun politik.
Baca juga: Trump Kata-katai Kanselir Jerman Usai Dikritik soal Perang Iran
Blokade AS lumpuhkan jalur minyak Iran
Selama bertahun-tahun, Iran mengandalkan jaringan kapal bayangan untuk menghindari sanksi dan tetap mengekspor minyak.
Kapal-kapal ini biasanya mematikan pelacak di laut sebelum memindahkan muatan secara diam-diam ke tujuan akhir seperti China.
Namun, menurut laporan The Wall Street Journal, Kamis (30/4/2026), blokade oleh Angkatan Laut AS kini berhasil menutup celah tersebut. Kapal-kapal tanker Iran bahkan dilaporkan dikejar hingga ke Samudra Hindia dan tidak mampu menembus kepungan kapal perang AS.
Analis menilai kondisi ini menjadi titik balik. “Di Hormuz, Iran mampu menciptakan krisis kepercayaan pasar. Tetapi gangguan bukan berarti kendali,” kata David Des Roches, mantan pejabat Pentagon.
“Dengan blokade AS, Iran menghadapi perhitungan besar,” imbuhnya.
Dampak ekonomi dari konflik dan blokade sangat besar. Lebih dari satu juta orang kehilangan pekerjaan, harga pangan melonjak, dan gangguan internet berkepanjangan menghantam bisnis digital.
Nilai mata uang Iran juga merosot tajam, dengan nilai tukar dolar AS mencapai 1,81 juta rial.
Upaya alternatif tak cukup
Iran mencoba mencari jalur alternatif dengan mengirim minyak melalui kereta ke China serta mengimpor bahan pangan lewat jalur darat dari kawasan Kaukasus dan Pakistan.
Namun, upaya ini tidak cukup untuk menggantikan jalur laut yang diblokade. Asosiasi Pelayaran Iran menyebut hanya sekitar 40 persen perdagangan yang bisa dialihkan dari pelabuhan yang diblokade.
Perpecahan internal
Tekanan dari blokade memicu perpecahan di dalam pemerintahan Iran. Kelompok moderat, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, mendorong negosiasi dengan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik.
Mereka menilai masyarakat Iran mulai lelah dengan perang setelah sempat mengalami lonjakan nasionalisme di awal konflik.
Baca juga: Trump Beri Restu, Iran Dipastikan ke AS untuk Tampil di Piala Dunia
“Rezim harus melakukan sesuatu untuk memecahkan kebuntuan ini,” kata Saeid Golkar dari University of Tennessee.
“Kelompok moderat menginginkan kesepakatan karena mereka melihat lebih banyak kehancuran sebagai bunuh diri politik.”
Sebaliknya, kelompok garis keras berpendapat bahwa Iran harus meningkatkan tekanan militer, termasuk memicu kenaikan harga minyak global agar menekan AS.
Mereka menganggap blokade tersebut sebagai bentuk perang yang harus dibalas secara militer.
Ancaman eskalasi konflik
Para pekerja dan sukarelawan Iran berkumpul di lokasi serangan Israel-Amerika yang menurut laporan media lokal menghancurkan Sinagoge Rafi-Nia dan bangunan tempat tinggal di dekatnya di Teheran, pada 7 April 2026.
Ketegangan terus meningkat dengan berbagai ancaman dari pihak Iran. Pemimpin tertinggi Iran,
Mojtaba Khamenei, memperingatkan AS dalam pernyataan yang disiarkan televisi. “Orang asing yang melakukan kejahatan pantas berada di kedalaman air,” ujarnya.
Sejumlah pejabat Iran juga mengisyaratkan kemungkinan penggunaan senjata yang belum pernah dipakai, mulai dari kapal selam hingga metode tidak konvensional seperti gangguan kabel komunikasi bawah laut di Selat Hormuz. Ancaman ini berpotensi mengganggu lalu lintas internet global.
Analis menilai blokade kini dipandang sebagai bentuk perang itu sendiri. “Blokade semakin dilihat di Teheran bukan sebagai pengganti perang, tetapi sebagai manifestasi lain dari perang,” kata Hamidreza Azizi.
“Akibatnya, pengambil keputusan Iran mungkin segera melihat konflik baru sebagai opsi yang lebih murah dibanding terus menahan blokade jangka panjang.”
Adu ketahanan Iran dan AS
Iran sempat menawarkan untuk menghentikan serangan di Selat Hormuz dengan imbalan penghentian perang, pencabutan blokade, dan penundaan pembicaraan nuklir.
Namun, AS justru bersiap mempertahankan blokade lebih lama. Presiden Trump bahkan menyebut kebijakan tersebut efektif. “Blokade ini jenius, oke, blokade ini 100 persen tanpa celah,” ujarnya.
Militer AS melaporkan puluhan kapal komersial Iran terpaksa berbalik atau kembali ke pelabuhan, tanpa ada bukti minyak Iran berhasil menembus blokade. Sementara itu, Iran menyatakan akan mencari cara untuk “menetralkan pembatasan” tersebut.
Baca juga: Iran Dipaksa Menyerah, AS Terus Tekan Ekonomi dan Adu Domba
Tag: #iran #kewalahan #hadapi #blokade #strategi #lama #lagi #efektif