Aliansi CICA Bisa Jadi Jalan Keluar Perang Iran, Apa Itu?
Ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah memunculkan kembali peran Conference on Interaction and Confidence-Building Measures in Asia (CICA) sebagai salah satu jalur alternatif untuk meredakan konflik Iran.
Di tengah gagalnya gencatan senjata, mandeknya perundingan damai, dan berlanjutnya blokade di Selat Hormuz, forum ini dinilai mampu menjaga ruang dialog tetap terbuka bagi negara-negara yang bertikai, termasuk Iran dan Israel.
Kondisi ini juga menyoroti keterbatasan mekanisme keamanan global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan NATO, yang tertekan akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak Februari.
Baca juga: Proyek Kebebasan AS Tak Mempan, Iran Masih Pegang Kendali Selat Hormuz
Apa itu Cica?
CICA merupakan forum multilateral beranggotakan 28 negara yang berfokus pada dialog keamanan dan pembangunan kepercayaan di Asia.
Anggotanya mencakup negara-negara kunci Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Palestina, dan Mesir, serta kekuatan besar seperti China, Rusia, dan India.
Organisasi ini pertama kali diusulkan oleh Presiden pertama Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev, pada 1992 dalam Sidang Majelis Umum PBB.
Kini, negara-negara anggotanya mencakup hampir 90 persen wilayah Asia, sekitar setengah populasi dunia, dan menyumbang sekitar separuh produk domestik bruto (PDB) global.
Meski tidak memiliki mandat intervensi langsung seperti aliansi militer, CICA berfungsi sebagai ruang dialog ketika hubungan bilateral antarnegara memburuk.
Sekretaris Jenderal CICA, Kairat Sarybay, menegaskan bahwa forum ini unik karena mempertemukan semua aktor utama kawasan, termasuk pihak-pihak yang sedang berkonflik.
“CICA adalah platform multilateral unik di mana semua aktor utama kawasan—termasuk Israel dan Iran, serta Palestina dan negara-negara Arab lainnya—menjadi anggota penuh dan setara,” ujarnya, seperti dikutip South China Morning Post, Rabu (6/4/2026).
Peran Cica di tengah krisis Iran
Warga Iran mengibarkan bendera negara dalam aksi mendukung angkatan bersenjata di Teheran, 25 Maret 2026.
Menurut Sarybay, krisis Timur Tengah saat ini menjadi ujian besar bagi komunitas internasional, termasuk CICA. Namun justru krisis ini menegaskan pentingnya keberadaan forum tersebut.
“Mandat CICA bukan diplomasi koersif atau intervensi langsung dalam krisis; mandat kami adalah membangun kepercayaan,” katanya.
“Peran utama kami adalah memastikan bahwa bahkan ketika hubungan bilateral sepenuhnya runtuh, ruang dialog multilateral tetap terbuka.”
Ia juga memuji negara-negara anggota yang tetap menjaga “meja perundingan tetap terbuka” dan memanfaatkan jalur komunikasi melalui CICA.
Berbeda dengan NATO yang berfokus pada pertahanan militer kolektif, CICA menekankan kerja sama non-militer di berbagai bidang, mulai dari keamanan, ekonomi, lingkungan, hingga isu kemanusiaan.
Baca juga: AS Nyatakan Operation Epic Fury di Iran Berakhir, Masuk Fase Baru
Peran China
Sarybay menekankan bahwa CICA bukan blok militer. “CICA memungkinkan negara anggota untuk memproyeksikan soft power mereka, dan sama sekali bukan aliansi yang bersifat militer,” ujarnya.
China disebut memainkan peran penting sejak awal berdirinya organisasi. Sarybay memuji posisi proaktif Beijing dalam mendorong dialog dan normalisasi hubungan di Timur Tengah.
“Peran China sebagai pusat baru diplomasi internasional sangatlah tak tergantikan,” katanya.
Ia juga menilai pendekatan China—yang menekankan non-intervensi dan dialog berbasis konsensus—sejalan dengan prinsip CICA.
Tantangan CICA
Meski memiliki potensi besar, efektivitas CICA tetap bergantung pada kemauan politik negara anggotanya.
Semua keputusan di forum ini harus diambil secara konsensus, bahkan negara kecil memiliki hak veto yang setara dengan kekuatan besar seperti China dan Rusia.
“CICA menyediakan arsitektur untuk de-eskalasi; ujian sebenarnya adalah kemauan politik negara anggota untuk memanfaatkannya,” ujar Sarybay.
Ke depan, organisasi ini tengah mendorong adopsi piagam yang mengikat secara hukum untuk memperkuat statusnya sebagai organisasi antar-pemerintah penuh.
Sarybay menegaskan bahwa di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dan kecenderungan unilateralisme, dunia membutuhkan multilateralisme yang kuat.
“Di era persaingan geopolitik, ketika kekuatan besar tidak sepakat, kita membutuhkan dukungan kuat terhadap multilateralisme,” katanya.
Baca juga: AS Minta China Rayu Iran untuk Membuka Selat Hormuz, Mulai Angkat Tangan?
Tag: #aliansi #cica #bisa #jadi #jalan #keluar #perang #iran