Perang Iran Kuras Stok Senjata, NATO Gelar Rapat Darurat
– Para kepala militer dari 32 negara anggota NATO menggelar rapat darurat di Markas Besar NATO di Brussels, Belgia, pada Selasa (19/5/2026).
Pertemuan penting ini dipimpin oleh Panglima Tertinggi Sekutu Eropa (SACEUR) Jenderal Alexus G Grynkewich, dan dihadiri langsung oleh Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Pertemuan ini difokuskan pada pembahasan mendesak untuk meningkatkan produksi senjata dalam skala besar.
Baca juga: Zelensky Tuding Rusia Pertimbangkan Rencana Serang NATO
Mereka kekhawatiran bahwa kampanye militer Amerika Serikat (AS) di Iran mulai menguras persediaan senjata kelas atas aliansi tersebut, termasuk sistem pencegat rudal.
Militer AS dilaporkan telah menghabiskan amunisi berkualitas tinggi dalam jumlah besar, termasuk sebagian besar sistem pertahanan udara dan rudal Patriot yang sangat mahal.
Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon pada 12 Mei, perang di Iran telah menelan biaya lebih dari 29 miliar dollar AS bagi militer AS.
Di satu sisi, tidak ada tanda-tanda konflik akan segera berakhir, sebagaimana dilansir Euronews.
Baca juga: AS Kembali Ingatkan NATO, Minta Bergerak untuk Bebaskan Selat Hormuz
Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan sekutu NATO.
Mereka khawatir, perangkat militer kompleks yang memperkuat jaminan keamanan aliansi tidak dapat dipulihkan tepat waktu untuk mengimbangi tingginya konsumsi persediaan militer AS.
Dampak domino dari penipisan senjata ini juga mengancam Eropa.
Senjata dan sistem pertahanan AS yang dibeli oleh negara-negara Eropa anggota NATO untuk digunakan oleh militer Ukraina kemungkinan besar tidak akan dikirimkan tepat waktu, atau bahkan tidak dikirim sama sekali.
Seorang sumber militer senior NATO mengungkapkan bahwa perang di Iran menjadi alarm keras bagi aliansi tersebut.
Baca juga: Drone dari Wilayah Rusia Jatuh di Latvia, NATO Langsung Terbangkan Jet Temnpur
"Kami telah mengatakan selama bertahun-tahun bahwa produksi militer perlu ditingkatkan secara eksponensial karena perang di Ukraina. Tetapi perang Iran menunjukkan kepada kita bahwa hal ini jauh lebih penting untuk dilakukan sekarang," ujar sumber militer senior NATO tersebut.
"Kami membutuhkan banyak sumber daya dan amunisi serta kemampuan untuk meningkatkan produksi dengan cepat. Kami belum memilikinya, dan kami membutuhkannya dengan sangat cepat," lanjutnya.
Sumber tersebut menambahkan, konflik di Iran saat ini telah melumpuhkan rantai pasokan global untuk minyak, gas, dan komoditas lainnya dari Teluk akibat penutupan Selat Hormuz.
Selain itu, perang di sana juga menjadi contoh nyata mengapa NATO seharusnya meningkatkan produksi senjata sejak lama.
"Ini memang tentang Iran, tetapi sebenarnya ini juga merupakan kesadaran bahwa kami harus siap menghadapi konflik yang terjadi secara bersamaan," tambahnya.
Baca juga: Naik Turun Hubungan AS dengan Sekutu NATO
Ancaman keamanan regional
Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di samping Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick selama pertemuan bilateral di sela-sela pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada 21 Januari 2026.
Di tengah konsumsi senjata yang cepat, para kepala militer NATO juga memeriksa dampak situasi ini terhadap kemampuan kolektif dan daya gentar aliansi, terutama saat Rusia terus menebar ancaman terhadap para sekutu.
Ketegangan regional terbukti nyata ketika peringatan serangan udara dikeluarkan di Finlandia pada 15 Mei.
Militer Finlandia mendeteksi sejumlah drone memasuki wilayah udaranya, yang menyebabkan Bandara Helsinki ditutup sementara serta memicu pembatalan dan pengalihan banyak penerbangan.
Selain masalah pasokan senjata, agenda utama lain dalam pertemuan ini adalah penyampaian penilaian militer oleh SACEUR mengenai kemampuan keseluruhan NATO saat ini.
Hal ini mencakup evaluasi atas dampak keputusan mendadak Washington yang membatalkan pengiriman satu brigade pasukan yang terdiri dari lebih dari 4.000 tentara ke Polandia.
Keputusan AS tersebut diambil secara tiba-tiba, bahkan ketika sebagian tentara dan peralatan militer sudah berada dalam perjalanan.
"SACEUR perlu melihat hal ini dari perspektif AS dan Eropa untuk memutuskan apakah perlu menyesuaikan postur kekuatan di benua tersebut," jelas sumber militer itu.
Baca juga: Jepang Dekati RI-Filipina untuk Lawan China, Tawarkan Armada Kelas NATO
Tag: #perang #iran #kuras #stok #senjata #nato #gelar #rapat #darurat