Iran Kaji Usulan Kesepakatan Damai, Trump Klaim Dialog Jalan Terus
Foto dari Islamic Consultative Assembly News Agency (ICANA) ini memperlihatkan para anggota parlemen Iran berseragam Korps Garda Revolusi (IRGC) meneriakkan Matilah Amerika dalam pertemuan di Teheran, 1 Februari 2026.(ICANA NEWS AGENCY via AFP)
07:27
3 Juni 2026

Iran Kaji Usulan Kesepakatan Damai, Trump Klaim Dialog Jalan Terus

- Iran tengah mengkaji usulan perjanjian dengan Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan. 

Di satu sisi, komunikasi antara kedua pihak dilaporkan sempat terhenti beberapa hari terakhir. 

Akan tetapi, klaim tersebut langsung dibantah Presiden AS Donald Trump, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (2/6/2026).

Baca juga: Israel Sebut UEA Sahabat Sejati, Hubungan Makin Erat Saat Perang Iran

Media Iran melaporkan, Teheran belum merespons teks final usulan perjanjian sementara tersebut. 

Kantor berita Mehr News Agency, mengutip seorang sumber, menyebut Iran mengambil sikap "keras" mengingat sejarah panjang ketidakpatuhan AS dan ketidakpercayaan yang sudah berakar lama.

Kantor berita semi-resmi Fars turut melaporkan bahwa pertukaran pesan terkait kemungkinan kesepakatan, atau nota kesepahaman, telah berhenti beberapa hari lalu. 

Pesan terakhir diklaim merupakan pesan tegas Teheran soal Lebanon, di mana Iran menuntut penghentian invasi Israel terhadap Hezbollah, sekutu utamanya.

Baca juga: Kerusakan AS di Perang Iran Ternyata Lebih Luas, 20 Fasilitas Militer Rusak

Trump menepis laporan itu. 

"Pernyataan itu salah dan keliru," tegasnya melalui unggahan di media sosial. 

"Percakapan antara kami terus berlangsung tanpa henti, termasuk empat hari lalu, tiga hari lalu, dua hari lalu, kemarin, dan hari ini," tambahnya.

Nuklir Iran masuk meja perundingan

Sehari sebelumnya, Trump menyatakan akan ada kesepakatan dalam pekan ini untuk memperpanjang gencatan senjata yang mulanya disepakati awal April lalu, sekaligus membuka kembali Selat Hormuz. 

Sejak pertengahan Maret, Trump berkali-kali mengklaim dirinya sudah dekat dengan sebuah kesepakatan yang akan menunda isu-isu pelik, termasuk masa depan program nuklir Iran.

Baca juga: Skenario Politik dan Diplomasi Iran jika Masoud Pezeshkian Mundur

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang juga menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional Trump, mengungkapkan kepada anggota Kongres bahwa Iran telah setuju untuk menegosiasikan aspek-aspek program nuklirnya yang sebelumnya ditolak untuk dibahas. 

Namun, Rubio mengingatkan, hal itu bukan jaminan bahwa perundingan akan berujung pada kesepakatan.

"Iran dikenai sanksi karena pengayaan uranium tingkat tinggi. Iran dikenai sanksi karena aktivitas nuklir mereka. Jika mereka setuju melepaskan hal-hal itu, akan ada keringanan sanksi yang dikaitkan dengan komitmen dan kepatuhan mereka terhadap perjanjian tersebut," ujar Rubio.

Trump sendiri menegaskan penghentian Iran dari memperoleh senjata nuklir adalah prioritas utamanya. 

Teheran selama ini selalu membantah ingin membangun bom nuklir, dengan dalih program atomnya semata-mata untuk tujuan damai.

Baca juga: Drone Canggih AS Ditembak Iran, Washington Balas Hancurkan Radar

Iran cari kesepakatan terbatas

Di balik meja perundingan, sumber-sumber Iran mengungkapkan bahwa Teheran mendorong perjanjian sementara yang terbatas. 

Tujuannya adalah meringankan tekanan ekonomi tanpa harus memberikan konsesi besar atas program nuklirnya.

Iran menginginkan penghentian permusuhan di semua lini termasuk Lebanon serta akses terhadap miliaran dolar pendapatan minyak yang tertahan.

Iran juga menuntut pengecualian ekspor minyak mentah, pencabutan blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran, serta mempertahankan kendali atas Selat Hormuz sebagai kartu negosiasi.

Baca juga: Netanyahu Terus Cari Cara Gagalkan Perdamaian AS-Iran, Diduga Tak Mau Perang Berakhir

Trump sendiri berada di bawah tekanan untuk membuka kembali selat tersebut dan menekan harga bahan bakar di dalam negeri, tanpa terlihat mengalah kepada Iran.

Gencatan senjata yang disepakati awal April ini sebetulnya masih relatif bertahan.

Namun, Iran dan AS beberapa kali saling balas serangan dalam sepekan terakhir. 

Konflik yang dimulai oleh serangan AS dan Israel pada 28 Februari itu telah menewaskan ribuan orang, sebagian besar di Iran dan Lebanon.

Baca juga: Trump Murka Oman Terlalu Dekat dengan Iran, UEA dan Saudi Ikut Kesal

Tag:  #iran #kaji #usulan #kesepakatan #damai #trump #klaim #dialog #jalan #terus

KOMENTAR