Sosiolog: Obrolan Seksual di Grup Chat Pria Bukan Hal Wajar
- Dugaan pelecehan seksual berbasis elektronik yang menyeret 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) terhadap banyak mahasiswi dan dosen perempuan terus menjadi sorotan publik.
Para mahasiswa tersebut disinyalir secara aktif menjadikan para korban sebagai obyek perbincangan bernada vulgar dan tidak pantas di sebuah group chat tertutup.
Tangkapan layar dari percakapan tersebut sempat beredar luas di media sosial dan memicu kemarahan masyarakat.
Mencuatnya kasus ini mengungkap fenomena perbincangan bernada seksual yang diam-diam sering terjadi di dalam grup pertemanan laki-laki. Namun, apakah fenomena itu wajar?
"Obrolan yang mengarah ke seksual dalam grup laki-laki sering kali dianggap 'wajar' karena ia telah lama menjadi bagian dari praktik sosial yang direproduksi secara terus-menerus," kata Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Syaifudin, M.Kesos, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/4/202).
Baca juga: 7 Tuntutan BEM UI untuk Kasus Dugaan Pelecehan Lewat Grup Chat
Konstruksi sosial dan pengaruh pola asuh
Seringnya sebuah tindakan menyimpang yang dilakukan oleh kelompok tertentu, tidak lantas menjadikannya sebuah norma yang benar.
Syaifudin menuturkan, perilaku ini sangat lekat dengan konsep habitus dalam ilmu sosiologi, yang mana lingkungan sekitar yang keliru secara bertahap membentuk toleransi masyarakat terhadap perilaku pelecehan verbal.
Normalisasi dan validasi maskulinitas
Syaifudin menegaskan bahwa batas-batas etika dalam bersosialisasi tidak boleh dikompromikan dengan alasan apa pun.
"Dalam perspektif sosiologis, frekuensi terjadinya suatu praktik tidak otomatis membuatnya dapat dibenarkan secara normatif," ucap dosen Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ itu.
Baca juga: Awal Mula Kasus Pelecehan di Grup Chat oleh 16 Mahasiswa FH UI
Seseorang sering kali tak sadar meniru apa yang ada di sekitarnya, sehingga hal yang salah terasa sangat normal untuk dilakukan berulang kali.
"Individu membentuk pola pikir dan tindakan berdasarkan lingkungan sosial yang membiasakan candaan seksual sebagai bentuk keakraban dan solidaritas maskulin," jelas Syaifudin.
Menjadikan perempuan sebagai obyek dalam kelompok pertemanan laki-laki bukanlah fenomena yang muncul secara alami.
Terdapat motif terselubung di balik perilaku tersebut demi mendapatkan validasi dari sesama pria di lingkaran pertemanannya.
"Dalam banyak kasus, obrolan tersebut menjadi sarana untuk menunjukkan identitas kelelakian, sekaligus menghindari stigma 'tidak maskulin'," tambah dia.
Baca juga: 16 Mahasiswa FH UI Lecehkan Mahasiswi di Grup Chat, Ini Tanggapan Kampus
"Ruang aman" untuk kekerasan simbolik
Lingkungan pertemanan yang eksklusif kerap menjebak anggotanya untuk menoleransi obrolan merendahkan demi menjaga keutuhan dan harmoni grup.
"Secara teori groupthink, dijelaskan bahwa dalam kelompok yang kohesif, kritik terhadap perilaku menyimpang sering kali ditekan demi menjaga harmoni," terang Syaifudin.
Ketiadaan teguran dan penolakan di dalam pertemanan ini membuat lingkup pergaulan dengan mudah mereproduksi norma pelecehan tanpa adanya koreksi sedikit pun.
"Batas antara candaan dan kekerasan menjadi kabur ketika isi percakapan mengandung objektifikasi, pelecehan, atau fantasi tanpa persetujuan," ungkapnya dia.
Baca juga: Layanan Korban Kekerasan Seksual di Indonesia Belum Merata
Tanggung jawab kolektif di dalam sebuah grup perpesanan sering membuat setiap individu di dalamnya merasa kebal dari kesalahan pribadi, karena mereka melakukannya bersama-sama.
"Selain itu, terdapat fenomena diffusion of responsibility, yang mana tanggung jawab moral tersebar di antara anggota kelompok, sehingga tidak ada individu yang merasa sepenuhnya bersalah," papar Syaifudin.
Pentingnya mendidik anak laki-laki sejak dini
Kasus FH UI turut membuktikan bahwa pendidikan akademik yang tinggi tak selalu menjamin seseorang memiliki empati dan pemahaman atas batasan etika.
Dikutip dari Kompas.com, Kamis, persoalan kekerasan seksual juga mengakar kuat pada faktor psikologis dan riwayat pengasuhan di dalam keluarga.
Baca juga: No Viral No Justice, Mengapa Banyak Kasus Kekerasan Seksual Baru Ditangani Polisi Setelah Viral?
"Kasus ini menunjukkan bahwa bentuk kekerasan seksual tidak selalu terjadi secara fisik, tetapi juga bisa muncul dari cara berbicara dan berpikir," jelas Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., Selasa (14/4/2026).
Perilaku melecehkan orang lain sering kali lahir dari didikan keluarga yang selalu menuruti kehendak anak laki-lakinya tanpa mengajarkan batasan yang tegas.
Mengenai hal tersebut, Danti memaparkan, anak laki-laki yang terbiasa merasa keinginannya harus dipenuhi, bisa tumbuh menjadi sosok dengan cara pandang seperti itu.
"Anak yang tidak diajarkan memahami perasaan orang lain akan sulit menyadari dampak dari tindakannya," pungkas Danti.
Baca juga: Psikolog Jelaskan Akar Kekerasan Seksual, dari Pola Asuh hingga Lingkungan
Tag: #sosiolog #obrolan #seksual #grup #chat #pria #bukan #wajar