Bagaimana Menyadarkan Ayah yang Enggan Menafkahi Anak? Ini Kata Psikolog
Fenomena ayah yang belum menunaikan nafkah anak pasca perceraian masih menjadi perhatian, termasuk di Surabaya.
Dalam perspektif hukum maupun psikologi, kewajiban tersebut tidak terputus meski hubungan pernikahan telah berakhir.
Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi., menilai bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan tekanan atau sanksi semata.
Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh untuk menyadarkan ayah agar kembali menjalankan tanggung jawabnya.
Pendekatan kognitif: meluruskan cara pandang
Langkah awal yang penting adalah memperbaiki cara berpikir.
Tak sedikit para ayah yang masih keliru memaknai nafkah sebagai bentuk bantuan kepada mantan istri, bukan sebagai hak anak.
Dalam aturan seperti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, kewajiban orangtua untuk memelihara dan memenuhi kebutuhan anak tetap berlaku setelah perceraian.
Artinya, nafkah merupakan bagian dari kebutuhan dasar anak, mulai dari kebutuhan fisik, pendidikan, hingga kesejahteraan hidup.
"Secara kognitif, penting memberikan edukasi yang jelas bahwa dalam perspektif hukum dan psikologi perkembangan, nafkah merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan dasar anak (fisik, pendidikan, dan kesejahteraan), sehingga tidak bergantung pada relasi dengan mantan pasangan," ujar Meity saat dihubungi Kompas.com, beberapa waktu yang lalu.
Baca juga: Mengapa Ayah Tetap Wajib Menafkahi Anak Pasca Bercerai? Ini Alasannya
Pendekatan emosional: membangun kembali keterikatan
Selain pemahaman, aspek emosional juga perlu disentuh.
Menurut Meity, dalam banyak kasus, ayah yang enggan menafkahi anak sebenarnya mengalami jarak emosional atau bahkan “memutus keterikatan” setelah perceraian.
Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak sebaiknya berfokus pada menyalahkan, melainkan membangun kembali empati dan kedekatan dengan anak.
“Dalam ruang praktek saya, pendekatan yang efektif seringkali bukan menyalahkan si ayah, tetapi mengajak ayah melihat dirinya sebagai figur penting yang tetap dibutuhkan anak, terlepas dari perceraian,” jelasnya.
Ketika keterikatan emosional kembali terbangun, kesadaran untuk memenuhi tanggung jawab biasanya akan ikut menguat.
Baca juga: Istri Bekerja atau IRT, Nafkah Tetap Kewajiban Suami
Pendekatan sosial: peran lingkungan dan norma
Perubahan juga tidak bisa hanya dibebankan pada individu. Lingkungan sosial memiliki peran besar dalam membentuk cara pandang terhadap peran ayah.
Kampanye publik, figur teladan, hingga norma sosial yang menegaskan bahwa menjadi ayah adalah peran seumur hidup dapat membantu membangun kesadaran kolektif.
Dalam hal ini, masyarakat juga berperan untuk tidak menormalisasi sikap abai terhadap kewajiban orangtua, serta mendorong adanya tanggung jawab yang berkelanjutan.
Baca juga: Di Balik Ribuan Ayah yang Abai Menafkahi Anak di Surabaya, Ini Penjelasan Psikolog
Kunci perubahan ada pada kesadaran
Pada akhirnya, menyadarkan ayah yang enggan menafkahi anak bukan perkara instan. Dibutuhkan kombinasi antara edukasi, pendekatan emosional, dukungan sosial, serta penegakan hukum yang konsisten.
Ketika ayah mampu melihat bahwa nafkah bukan sekadar kewajiban, tetapi bentuk kehadiran dan tanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak, maka perubahan pola pikir akan lebih mudah terjadi.
Tag: #bagaimana #menyadarkan #ayah #yang #enggan #menafkahi #anak #kata #psikolog