WFH Jumat dan Pekerja Lajang, Sosiolog Ingatkan Pentingnya Waktu untuk Keluarga
Jam kerja panjang tidak hanya berdampak pada pekerja yang sudah menikah atau memiliki anak, tetapi juga bisa memengaruhi pekerja lajang dalam menjaga kedekatan dengan keluarga besar.
Pembahasan ini muncul di tengah wacana WFH hari Jumat yang dinilai dapat menjadi salah satu cara menata ulang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Sosiolog Universitas Nasional atau Unas, Nia Elvina, M.Si., mengatakan kelebihan jam kerja dapat memunculkan berbagai persoalan sosial, termasuk melemahnya ikatan keluarga.
Menurut dia, dampak itu tidak hanya terjadi pada hubungan suami-istri, ayah-anak, atau ibu-anak, tetapi juga pada pekerja yang belum berkeluarga.
“Dari beberapa kajian, banyak permasalahan yang muncul karena kelebihan jam kerja, seperti kurang kuatnya ikatan dalam keluarga, misalnya antara suami-istri, ayah-anak, ibu-anak dan terhadap keluarga besar,” kata Nia saat dihubungi Kompas.com, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: WFH Jumat untuk ASN, Sosiolog UI: Jangan Sekadar Pindah Kerja ke Rumah
Pekerja lajang juga butuh waktu keluarga
Selama ini, pembahasan soal keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi sering lebih banyak dikaitkan dengan pekerja yang sudah memiliki pasangan atau anak.
Padahal, pekerja lajang juga memiliki kebutuhan sosial dan emosional yang tidak kalah penting.
Nia mengatakan, pekerja yang masih sendiri dapat mengalami renggangnya hubungan dengan keluarga besar karena waktu bersama yang semakin terbatas.
“Bagi yang masih sendiri, hubungan dengan keluarga besar juga menjadi renggang karena minimnya waktu bersama keluarga besar,” ujar Nia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa waktu di luar pekerjaan tidak hanya penting untuk mengurus rumah tangga atau anak, tetapi juga untuk menjaga hubungan sosial yang lebih luas.
Bagi pekerja lajang, waktu bersama orangtua, saudara, atau keluarga besar tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Baca juga: WFH Jumat untuk ASN, Antara Fleksibilitas dan Beban Baru di Rumah
WFH Jumat bisa jadi ruang menata ulang waktu
Ilustrasi WFH, work from home. Sosiolog Unas menilai jam kerja panjang tidak hanya berdampak pada orangtua, tetapi juga bisa membuat pekerja lajang semakin renggang dengan keluarga besar.
Dalam konteks ini, wacana WFH hari Jumat dapat dibaca sebagai peluang untuk memberi ruang lebih besar bagi pekerja dalam mengatur waktu.
Nia menilai kebijakan WFH mungkin bisa menjadi jalan awal menuju sistem kerja empat hari.
Namun, ia menekankan bahwa perubahan tersebut hanya akan baik jika kualitas kerja tetap dapat diukur dengan jelas.
“Saya kira kebijakan WFH mungkin jalan awal menuju kerja cukup empat hari saja, akan tetapi kualitasnya yang lebih harus terukur,” kata Nia.
Artinya, fleksibilitas kerja tidak cukup hanya memberi tambahan waktu di rumah.
Kebijakan seperti WFH Jumat juga perlu memastikan bahwa pekerjaan tetap berjalan dengan kualitas yang baik dan tanggung jawab yang jelas.
Baca juga: WFH Jumat untuk ASN, Hemat Anggaran atau Cuma Pindah Tempat Kerja?
Kinerja tetap harus terukur
Nia menegaskan, WFH atau sistem kerja empat hari dapat menjadi kebijakan yang baik jika disertai ukuran kinerja yang berkualitas.
Hal ini terutama penting bagi aparatur sipil negara atau ASN, agar ruang lingkup kerja tetap jelas.
“Saya kira kebijakan WFH atau kerja hanya empat hari amat baik, jika sistem untuk mengukur kinerja berkualitas dan khususnya bagi ASN, ruang lingkup kerjanya jelas dan terukur,” ujar Nia.
Dengan sistem yang jelas, fleksibilitas kerja dapat memberi manfaat tanpa mengorbankan tanggung jawab pekerjaan.
Sebaliknya, tanpa ukuran yang terarah, WFH berisiko hanya menjadi perubahan lokasi kerja tanpa memperbaiki kualitas hidup maupun kualitas kerja.
Baca juga: Cerita Tabita ASN Gen Z Jalani WFH di Jakarta, Fleksibel tapi Harus Selalu Siaga
Keseimbangan hidup bukan hanya soal orangtua
Wacana WFH Jumat juga mengingatkan bahwa kebutuhan terhadap waktu pribadi tidak hanya dimiliki pekerja yang sudah berkeluarga.
Pekerja lajang juga membutuhkan ruang untuk menjaga relasi dengan keluarga besar, memulihkan energi, dan menjalani kehidupan sosial di luar pekerjaan.
Karena itu, pembahasan soal jam kerja panjang perlu dilihat lebih luas, bukan hanya dari sisi produktivitas.
Kualitas relasi keluarga dan waktu bersama orang terdekat juga menjadi bagian dari kesejahteraan pekerja.
Jika diterapkan dengan ukuran kinerja yang jelas, WFH Jumat dapat menjadi peluang untuk membangun pola kerja yang lebih seimbang bagi semua pekerja, termasuk mereka yang masih lajang.
Baca juga: WFH Setiap Jumat Berisiko Sebabkan ASN Gen Z Merasa Kesepian, Psikolog Bagikan Tips Mengatasinya
Tag: #jumat #pekerja #lajang #sosiolog #ingatkan #pentingnya #waktu #untuk #keluarga