Hari Kartini 2026, Puan: Indonesia Tak Bisa Terbang Tinggi Hanya dengan Satu Sayap
– Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan bahwa Indonesia tidak akan bisa mencapai kemajuan optimal tanpa keterlibatan setara antara perempuan dan laki-laki.
Pesan itu disampaikan Puan dalam peringatan Hari Kartini, Selasa (21/4/2026), dengan menekankan bahwa perempuan merupakan salah satu “sayap” penting dalam perjalanan bangsa.
“Ketika kita maju, kita maju bersama. Ketika kita terbang, kita terbang bersama. Bangsa yang ingin terbang tinggi membutuhkan kedua sayapnya, yaitu perempuan dan laki-laki,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.
Puan menilai, perempuan saat ini bukan lagi sekadar pelengkap atau objek pembangunan, melainkan subjek aktif yang berperan dalam menentukan arah bangsa.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi saat ini bukan lagi soal kemampuan perempuan, tetapi sejauh mana sistem memberikan ruang bagi mereka untuk berkontribusi.
“Pertanyaan hari ini bukan lagi ‘apakah’, melainkan ‘seberapa jauh’ dan ‘dengan sistem seperti apa’ (perempuan dapat berperan). Di sinilah momentum Hari Kartini menjadi relevan,” kata Puan.
Baca juga: Sejarah R.A. Kartini: Dari Pingitan hingga Jadi Simbol Emansipasi Perempuan Indonesia
Ia menambahkan, perempuan tidak cukup hanya hadir dalam ruang pengambilan keputusan, tetapi juga perlu terlibat dalam merancang sistem dan prosesnya.
“Perspektif perempuan, yang mencakup sekitar setengah dari populasi Indonesia, harus menjadi bagian dalam pembangunan,” jelasnya.
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu menekankan bahwa perempuan memiliki pengalaman hidup yang berbeda dari laki-laki, sehingga perspektifnya penting dalam kebijakan publik.
Puan menyebut, kontribusi perempuan di berbagai bidang sudah terbukti, sehingga yang dibutuhkan saat ini adalah memastikan pengalaman tersebut hadir dalam proses pengambilan keputusan.
Perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu juga mengingatkan agar makna “merawat” tidak dipersempit hanya pada ranah domestik.
“Jangan sampai makna ‘merawat’ direduksi menjadi persoalan domestik semata, seolah tidak berkaitan dengan kemajuan bangsa,” ucap Puan.
Baca juga: Sisi Lain Kehidupan RA Kartini: Lahir di Keluarga Bangsawan tapi Hidup Penuh Diskriminasi
Menurut mantan Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) itu, pelibatan perempuan bukan sekadar kebijakan afirmatif, melainkan bentuk penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sekaligus strategi memperkuat bangsa.
“Menyertakan perempuan merupakan kesadaran atas penghargaan harkat dan martabat manusia dan pilihan yang benar untuk menguatkan daya dari bangsa Indonesia itu sendiri,” tegas Puan.
Refleksi warisan Kartini
Dalam momentum Hari Kartini 2026, Puan mengajak masyarakat merefleksikan perjuangan tokoh perempuan bangsa, termasuk Raden Ajeng Kartini.
Ia menilai, para pendahulu telah meletakkan dasar bahwa perempuan merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya memajukan bangsa.
“Kartini tidak menunggu sistemnya sempurna untuk mulai menulis. Ia menulis, dan sistemnya berubah. Perempuan Indonesia hari ini tidak sedang menunggu. Mereka sudah memimpin, merawat, dan mengubah,” ungkap Puan.
Baca juga: Mengenal RMP Sosrokartono, Kakak RA Kartini Sang Poliglot Penguasa 26 Bahasa
Cucu Bung Karno itu menegaskan, selama salah satu “sayap” belum diberi ruang untuk berkembang, potensi bangsa tidak akan sepenuhnya terwujud.
Puan meyakini, kepemimpinan perempuan yang didukung ilmu dan kepekaan akan mendorong perubahan yang signifikan bagi Indonesia.
“Selamat memperingati Hari Kartini 2026 untuk seluruh perempuan Indonesia. Mari terus melangkah dan membawa bangsa ini semakin maju,” tuturnya.
Baca juga: Sejarah Hari Kartini 21 April: Mengenang Tokoh Emansipasi Perempuan Indonesia
Tag: #hari #kartini #2026 #puan #indonesia #bisa #terbang #tinggi #hanya #dengan #satu #sayap