Reshuffle Menteri dari Ketum Parpol Diprediksi Agak Sulit Terjadi
Pengamat politik sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno berpose setelah diwawancarai KOMPAS.com dalam program Gaspol di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta pada, Jumat (13/12/2024).(KOMPAS.com/FREDERIKUS TUTO KE SOROMAKING)
15:18
1 Mei 2026

Reshuffle Menteri dari Ketum Parpol Diprediksi Agak Sulit Terjadi

- Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai perombakan kabinet yang menyasar menteri dari kalangan ketua umum partai politik (ketum parpol) cenderung sulit dilakukan.

Menurut Adi, hal tersebut berkaitan erat dengan posisi strategis ketum parpol sebagai penopang utama stabilitas dan dukungan politik dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Setiap reshuffle itu salah satu yang dipertimbangkan adalah soal potensi gejolak dan stabilitas politiknya. Apa salah satunya? Rasanya reshuffle itu agak sulit terjadi pada ketum-ketum partai itu agak rumit. Karena ketum partai yang jadi menteri itu kan adalah bandul bagaimana dukungan politik itu ada," kata Adi dalam tayangan YouTube Gaspol Kompas.com, Jumat (1/5/2026).

Baca juga: Tiga Jenis Pejabat dalam Reshuffle Kabinet Terbaru Prabowo

Tercatat empat nama ketum parpol yang saat ini masih menjadi menteri Prabowo.

Antara lain Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Golkar, menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) Ketua Umum Partai Demokrat, menjabat Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.

Zulkifli Hasan atau Zulhas Ketua Umum PAN, menjabat Menteri Koordinator Bidang Pangan.

Juga, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin Ketua Umum PKB menjabat Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (PM).

Baca juga: Gaspol Hari Ini: Ada Menteri Prabowo Tak Tersentuh Reshuffle?

Ia menjelaskan, dalam setiap keputusan reshuffle, presiden tidak hanya mempertimbangkan kinerja, tetapi juga potensi gejolak politik yang bisa muncul akibat perubahan komposisi kabinet.

Selain itu, prinsip menjaga keseimbangan jatah kursi partai dalam kabinet juga menjadi pertimbangan penting.

Adi menyebut, pengurangan jatah partai berisiko mengganggu ritme hubungan politik di internal koalisi.

“Yang kedua, prinsipnya jangan sampai ngurangin jatah partai. Kalau partai ada 5 atau 6, jangan dikurangin. Kalau pun toh dikurangin, mungkin dikasih di tempat yang lain," ungkapnya.

Baca juga: Qodari Di-reshuffle Jadi Kepala Bakom: Presiden Melihat Akumulasi Pengalaman

Meski demikian, Adi melihat posisi tawar partai-partai dalam pemerintahan saat ini tidak sepenuhnya kuat.

Sebab, Presiden dinilainya memiliki banyak opsi dukungan politik dari partai lain di luar koalisi.

Ia mencontohkan potensi dukungan dari PDI Perjuangan (PDI-P), Partai Nasdem, hingga Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

“Rasa-rasanya melihat Pak Prabowo hari ini, partai-partai yang ada di dalam kekuasaan sekalipun jumlah partainya atau jumlah menterinya itu dikurangin, enggak bakal protes kok. Kenapa? Karena Pak Prabowo sudah begitu banyak cadangan partai yang siap bekerja sama," kata Adi.

"Ada PDI-P di situ, ada Nasdem di situ, ada PKS di situ. Ya kalau kau ngambek ya enggak apa-apa. Ada partai lain yang masuk ke dalam," lanjutnya.

Akankah ada reshuffle lagi?

Lebih lanjut, ia menilai reshuffle kabinet kemungkinan tetap akan terjadi dalam waktu dekat, tetapi dilakukan secara terbatas untuk menghindari gejolak politik.

“Yang terakhir, bagi saya reshuffle ini memang dicicil Pak. Ya adalah untuk mengantisipasi gejolak-gejolak itu. Mungkin dalam hitungan beberapa bulan ke depan akan ada yang direshuffle," katanya.

"Tapi tidak banyak. Satu atau dua. Enggak lama lagi satu atau dua," tambahnya.

Tag:  #reshuffle #menteri #dari #ketum #parpol #diprediksi #agak #sulit #terjadi

KOMENTAR