Saat Jaranan Bertemu Senja, Atraksi Budaya Baru Banyuwangi Curi Perhatian
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur menghadirkan inovasi dalam mengemas seni tradisi yang mereka miliki, salah satunya seni jaranan.
Jaranan adalah kesenian rakyat yang menampilkan sekelompok penari menunggangi kuda tiruan dari anyaman bambu.
Kesenian tersebut identik dengan keramaian dan stigma negatif.
Namun kini, secara perlahan Banyuwangi berhasil mengangkatnya menjadi pertunjukan budaya yang estetis, tertata, dan memukau ribuan pengunjung, seperti dalam gelaran Jaranan Senja di Agro Wisata Tamansuruh (AWT), Selasa (2/6/2026).
Baca juga: Liburan Bandung-Banyuwangi dengan Kereta Kian Diminati, KA Sangkuriang Jadi Favorit
Berbalut tata cahaya panggung yang artistik, iringan gamelan yang menghentak, serta panorama perbukitan yang mempesona saat matahari mulai tenggelam, jaranan tampil dengan wajah baru yang elegan tanpa kehilangan ruh tradisinya.
Pemilihan AWT sebagai lokasi pertunjukan bukan tanpa alasan.
Selain merupakan aset strategis milik Pemkab Banyuwangi, destinasi ini tengah dikembangkan sebagai kawasan wisata terpadu yang menawarkan berbagai pengalaman dalam satu tempat, mulai dari wisata alam, berkuda, ATV, kuliner, hingga sajian seni dan budaya.
Perpaduan antara keindahan alam dan pertunjukan budaya menjadikan AWT memiliki daya tarik yang berbeda dibanding destinasi lainnya.
Konsep tersebut menjadi terobosan, sehingga kesenian yang selama ini lebih sering tampil di ruang terbuka dan lingkungan kampung, kini dikemas secara profesional menjadi atraksi wisata yang nyaman dinikmati oleh seluruh kalangan, termasuk wisatawan dan generasi muda.
Baca juga: Seblang Bakungan Banyuwangi, Ritual Sakral 400 Tahun yang Jadi Magnet Wisata
Riuh tepuk tangan penonton pecah saat grup Jaranan Bhagaskara memasuki arena pertunjukan.
Ribuan pengunjung tampak larut menikmati setiap gerakan penari, dentuman gamelan, hingga atraksi khas jaranan yang berpadu harmonis dengan kemegahan panggung dan suasana senja AWT.
Salah seorang penari, Panji, mengaku bangga melihat jaranan mendapatkan ruang pertunjukan yang begitu terhormat.
Menurutnya, apresiasi masyarakat yang tinggi menjadi energi baru bagi para seniman untuk terus melestarikan budaya daerah.
"Jaranan yang selama ini sering dipandang sebelah mata ternyata bisa tampil sangat indah dan berkelas. Kami bangga karena budaya yang kami cintai mendapat tempat yang layak dan diapresiasi oleh masyarakat," ujarnya.
Kekaguman serupa disampaikan Vidya, wisatawan lokal yang hadir bersama keluarganya.
Ia mengaku mendapatkan pengalaman berbeda yang tidak pernah dirasakan sebelumnya saat menyaksikan pertunjukan Jaranan.
Baca juga: KA Sangkuriang Permudah Perjalanan ke Bali, Begini Caranya
"Biasanya saya melihat jaranan di lapangan atau di jalan. Tapi malam ini berbeda sekali. Dengan latar perbukitan, lampu-lampu yang cantik, suasana yang tertata, ditambah bisa berinteraksi langsung dengan para penari, rasanya sangat berkesan. Ini bisa menjadi alasan wisatawan datang ke Banyuwangi, bukan hanya menikmati alamnya tetapi juga budayanya," urainya.
Antusiasme pengunjung menjadi bukti bahwa seni tradisi memiliki daya tarik luar biasa ketika dikemas dengan sentuhan kreativitas dan manajemen pertunjukan yang baik.
Jaranan tidak lagi sekadar menjadi tontonan rakyat, tetapi telah bertransformasi menjadi atraksi budaya yang mampu memperkuat identitas daerah sekaligus mendukung sektor pariwisata.
Melihat tingginya animo masyarakat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi berencana menjadikan Jaranan Senja di Agro Wisata Tamansuruh sebagai agenda rutin setiap awal bulan.
Program ini diproyeksikan menjadi salah satu atraksi unggulan yang wajib dikunjungi wisatawan saat berada di Banyuwangi.
Tag: #saat #jaranan #bertemu #senja #atraksi #budaya #baru #banyuwangi #curi #perhatian