Harga Emas Loyo, Saham Tambang Tertekan Konflik di Timur Tengah
- Harga emas melemah pada perdagangan Senin pagi (23/3/2026), seiring investor terus mengurangi eksposur terhadap logam mulia tersebut.
Pelemahan harga emas ikut memberikan dampak lanjutan terhadap saham perusahaan tambang.
Sektor ini sebelumnya mencatat lonjakan signifikan saat harga emas meroket sebelum pecahnya konflik di Timur Tengah.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini 23 Maret 2026: Antam, Galeri 24 Pegadaian, dan UBS
Ilustrasi emas. Perang di Timur Tengah mengganggu penerbangan dari Dubai, membuat pedagang menawarkan diskon emas hingga 30 dollar AS per ons.
Saham perusahaan tambang dikenal memiliki volatilitas tinggi karena pergerakannya cenderung mengikuti harga emas.
Saat harga emas naik, saham tambang biasanya melonjak lebih tajam.
Sebaliknya, ketika terjadi aksi jual, penurunannya juga cenderung lebih dalam.
Sejak konflik Iran, Israel dan AS berlangsung, harga emas justru mengalami penurunan yang berdampak pada turunnya pendapatan perusahaan tambang.
Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah 4 Bulan saat Harga Minyak Naik
Di sisi lain, lonjakan harga energi akibat gangguan pasokan minyak dan gas turut meningkatkan biaya operasional, sehingga menekan margin keuntungan.
Mengutip CNBC, sebelum konflik, harga emas sempat mencetak rekor tertinggi di atas 5.500 dollar AS per ons.
Namun pada awal perdagangan Senin, harga emas di spot turun sekitar 1,3 persen ke level 4.432,09 dollar AS per ons.
Kinerja dana berbasis saham tambang emas, seperti VanEck Gold Miners ETF, juga mulai tertekan.
Baca juga: Update Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, Galeri 24 dan UBS Anjlok
Setelah sempat melonjak hampir 200 persen sepanjang 2025, kinerjanya kini turun 27 persen sejak awal tahun dan belum menunjukkan tanda pemulihan.
Ilustrasi emas.
Prospek perusahaan tambang telah berubah secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir, seiring volatilitas pasar yang menekan margin dari dua sisi sekaligus.
“Menarik untuk melihat bagaimana sektor sumber daya merespons guncangan pasokan energi dan risiko geopolitik secara bersamaan,” ujar Kepala riset sektor sumber daya di Macquarie Capital, Rob Stein.
“Kombinasi keduanya dengan meningkatnya ketidakpastian berpotensi mendorong perubahan pada alokasi aset, di mana reli yang terjadi sebelumnya menjadi momentum untuk mengambil keuntungan, terutama pada saham berkapitalisasi kecil,” paparnya.
Baca juga: Harga Energi Melonjak: Peluang Emas Tambang Indonesia
Sementara itu, Direktur Investasi AJ Bell, Russ Mould, menilai kenaikan harga energi membuat biaya produksi perusahaan tambang emas melonjak, seperti yang pernah terjadi selama 2006-2007.
“Kami melihat hal ini pada periode 2006–2007, ketika biaya produksi secara keseluruhan meningkat tajam,” tambahnya.
Kepala strategi ekuitas Morningstar, Michael Field, menambahkan bahwa saham tambang sangat sensitif terhadap guncangan ekonomi.
Hal ini menjelaskan mengapa investor mulai mengurangi eksposur di sektor tersebut.
Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok 11 Persen Sepekan, Kehilangan Daya Tarik?
“Perusahaan tambang sangat terekspos terhadap guncangan ekonomi, yang menjelaskan mengapa investor mulai menarik diri dari sektor ini,” kata Michael Field.
“Jika sentimen risiko tidak membaik dan kepercayaan terhadap pertumbuhan global belum pulih, maka kecil kemungkinan saham tambang akan kembali melanjutkan tren penguatannya,” lanjutnya.
Penarikan dana dari emas, yang secara tradisional dipandang sebagai aset safe haven utama saat pasar bergejolak, sejalan dengan meningkatnya sentimen risk-off di pasar, seiring konflik Iran yang memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan harga energi.
Prospek kenaikan suku bunga sebagai dampak dari perang tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik obligasi pemerintah di kalangan investor, sehingga mengurangi minat terhadap logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Tag: #harga #emas #loyo #saham #tambang #tertekan #konflik #timur #tengah