RI Masih Impor 1 Juta Barrel BBM, B50 Dipercepat
- Pemerintah mempercepat implementasi B50 di tengah tingginya impor BBM nasional yang masih mencapai sekitar 1 juta barrel per hari. Langkah itu dilakukan saat produksi minyak domestik belum mampu mengejar kebutuhan energi dalam negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, konsumsi BBM Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barrel per hari. Sementara lifting minyak nasional pada 2025 berada di kisaran 600 ribu barrel per hari.
“Ini artinya secara kalkulasi kita bisa menghitung kita membutuhkan impor 1 juta barrel per day,” kata Bahlil dalam acara IPA Convex 2026 di ICE BSD, Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, target lifting minyak dalam APBN 2026 dipatok sebesar 610 ribu barrel per hari. Namun realisasi produksi saat ini masih berada di bawah target tersebut.
Baca juga: Bahlil Buka 118 Blok Migas, RI Kejar Produksi 1 Juta Barrel
Kondisi itu membuat pemerintah mulai mendorong berbagai alternatif energi untuk menekan impor BBM, termasuk memperluas penggunaan biodiesel berbasis crude palm oil (CPO).
Bahlil mengatakan pemerintah telah menjalankan program B40 dan akan mempercepat implementasi B50 mulai 1 Juli 2026.
“Dari 1 juta barrel per day yang kita harus impor terkonversi atau tersubstitusi dengan kita memakai B40 dan sekarang kita akan dorong 1 Juli B50,” ujar dia.
Menurut Bahlil, kebijakan tersebut mampu mengonversi sekitar 200 ribu hingga 300 ribu barrel per hari melalui pemanfaatan CPO. Dengan demikian, impor BBM dapat ditekan menjadi sekitar 600 ribu hingga 700 ribu barrel per hari.
Ia juga mengatakan Indonesia tidak lagi mengimpor solar tertentu pada 2026, kecuali solar dengan kualitas tinggi seperti C51.
Baca juga: Medco Energi (MEDC) Raup Laba Rp 1,16 Triliun, Ditopang Harga Minyak
LPG dan bahan baku industri masih impor
Di tengah upaya menekan impor BBM, pemerintah mengakui kebutuhan energi dan bahan baku industri nasional masih tinggi.
Bahlil mengatakan impor LPG Indonesia pada tahun ini mencapai sekitar 8,6 juta metric ton. Selain itu, kebutuhan bahan baku industri petrokimia juga terus meningkat.
Ia mencontohkan kebutuhan tambahan bahan baku industri di Cilegon yang diperkirakan mencapai sekitar 3 juta ton untuk mendukung sektor petrokimia.
“Nafta kita kekurangan. Kemarin kita bawa dari Amerika,” kata dia.
Menurut Bahlil, kebutuhan bahan baku industri tersebut menjadi alasan pemerintah tetap mendorong investasi dan eksplorasi sektor hulu migas.
Karena itu, pemerintah menargetkan lifting minyak nasional mencapai 900 ribu hingga 1 juta barrel per hari pada 2029-2030.
Dalam mencapai target tersebut, pemerintah meminta kontraktor kontrak kerja sama (K3S) segera mengeksekusi proyek-proyek migas yang telah mengantongi persetujuan pengembangan atau plan of development (POD).
“Ada masalah apa tolong dikabari,” ujar Bahlil.
Baca juga: B50 Berlaku Juli 2026, Pemerintah Jamin Stok Minyak Goreng Tetap Aman
Pemerintah buka 118 blok migas baru
Untuk mengejar peningkatan produksi migas, pemerintah juga membuka tender 118 blok migas baru untuk kegiatan eksplorasi.
Bahlil mengatakan sekitar 20 blok telah selesai diproses dan sisanya akan dibuka bagi investor yang memiliki kesiapan teknologi, pendanaan, dan komitmen investasi.
“Silakan yang melakukan joint study. Atau tidak ada juga yang mau lakukan, silakan. Ini saya buka secara umum. Siapa saja boleh,” kata dia.
Ia menegaskan pemerintah ingin mempercepat investasi migas dan memangkas hambatan birokrasi yang selama ini dinilai memperlambat proyek.
“Investor ini pemain di K3S, di hulu migas ini risikonya besar. Jangan dipersulit. Dipermudah,” ujar Bahlil.
Selain itu, pemerintah juga memastikan tidak ada lagi pemotongan kuota ekspor gas bagi kontrak yang telah disepakati dengan pasar luar negeri pada 2026.
“Di 2026 tidak akan ada lagi pemotongan kuota ekspor untuk market ataupun yang sudah dikontrakan ke luar negeri,” kata Bahlil.
Tag: #masih #impor #juta #barrel #dipercepat