Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif, Berpotensi Melemah ke Rp 16.940 per Dollar AS
Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat (27/3/2026).
Rupiah berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp 16.900 - Rp 16.940 per dollar Amerika Serikat (AS),
Rupiah di pasar spot mempertahankan penguatan hingga akhir perdagangan Kamis (26/3/2026). Rupiah ditutup di posisi Rp 16.904 per dollar AS, naik 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.911 per dollar AS.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.900- Rp 16.940 (per dollar AS),” ujar analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, kepada wartawan Kamis malam.
Baca juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.904 per Dollar AS, IHSG Terkoreksi 1,89 Persen
Menurutnya, pergerakan rupiah masih dibayangi sentimen global, khususnya terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Pasar saat ini mencermati sinyal diplomatik dari Teheran, di mana pejabat Iran dilaporkan tengah meninjau proposal yang didukung Amerika Serikat untuk meredakan konflik.
Meski Iran belum secara resmi menerima proposal tersebut, negara itu juga tidak secara tegas menolaknya, sehingga memunculkan harapan terbatas akan potensi de-eskalasi.
Namun demikian, ketidakpastian masih tinggi, terutama setelah Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington.
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, terutama di tengah volatilitas harga minyak global.
“Namun ketidakpastian tetap tinggi, dengan Iran secara terbuka membantah negosiasi langsung dengan Washington dan menunjukkan bahwa perbedaan utama masih ada. Kurangnya kejelasan telah membuat para pedagang waspada, dengan pasar minyak lesu pada hari Kamis,” paparnya.
Baca juga: Meski Potensial Ganti Minyak Bumi, Sejumlah Bahan Baku Produksi Biodiesel Masih Impor
Harga minyak mentah Brent bahkan sempat melonjak di atas 119 dollar AS per barrel pada awal bulan ini, didorong kekhawatiran terhadap gangguan pasokan. Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar seperlima pengiriman minyak global, juga masih menjadi perhatian utama pasar.
Di sisi lain, investor juga mencermati sikap Paman Sam yang membuka peluang lebih tegas apabila Iran tidak menunjukkan itikad konstruktif, sehingga menambah lapisan ketidakpastian terhadap prospek pasar global.
Dari dalam negeri, pemerintah memastikan belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai masih memiliki bantalan yang cukup kuat untuk meredam dampak fluktuasi harga minyak global.
Harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) tercatat berada di kisaran 74 dollar AS per barrel, sedikit di atas asumsi makro APBN sebesar 70 dollar AS per barrel. Namun, selisih tersebut dinilai masih dalam batas yang dapat dikelola dan belum memerlukan penyesuaian kebijakan.
Pengalaman sebelumnya juga menunjukkan bahwa Indonesia relatif mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak energi global, seperti pada periode krisis 2008-2009, 2014, hingga 2020, melalui kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif.
“Meski ekonomi global alami resesi, ekonomi Indonesia nyatanya tetap mampu mencetak pertumbuhan positif di level 4,6 persen, hal ini murni buah kebijakan bauran fiskal dan moneter sehingga Indonesia berhasil menghindari jurang resesi tanpa harus mengambil langkah menaikkan harga BBM subsidi,” tukas Ibrahim.
Tag: #rupiah #diprediksi #bergerak #fluktuatif #berpotensi #melemah #16940 #dollar