Dampak Pembukaan Selat Hormuz bagi Ekonomi Indonesia
- Pembukaan Selat Hormuz membawa angin segara terutama untuk komoditas seperti minyak, gas, dan produk petrokimia.
Namun demikian, pembukaan Selat Hormuz bukan obat mujarab untuk seluruh permasalahan rantai pasok dan ekonomi yang terjadi sebelumnya.
Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang, Syafruddin Karimi menjelaskan, pembukaan kembali Selat Hormuz perlu dibaca sebagai peredaan risiko jangka pendek, bukan pemulihan penuh.
"Efek pertamanya memang positif, tekanan pada pasar energi mereda, harga minyak turun dari sekitar 95 dollar AS per barrel ke bawah 89 dollar AS per barrel, dan sentimen pasar global membaik," kata dia kepada Kompas.com, Sabtu (18/4/2026).
Baca juga: Harga Minyak Anjlok ke Kisaran 80 Dollar AS Usai Selat Hormuz Dibuka
Namun demikian, ia menilai pembukaan kembali jalur ini mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) karena turunnya harga energi dinilai dapat mengurangi tekanan inflasi.
"Bagi Indonesia, perkembangan ini penting karena biaya impor energi, biaya transportasi, dan tekanan inflasi impor bisa sedikit melunak bila penurunan harga itu bertahan," imbuh dia.
Akan tetapi, ia bilang, pembukaan Hormuz tidak menghapus fakta bahwa sebelumnya perang telah memangkas lalu lintas kapal menjadi hanya sebagian kecil dari level normal.
Hal ini membuat ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut terjebak di kawasan teluk.
Itu berarti ekonomi Indonesia tetap menghadapi risiko dari ongkos logistik, lead time, dan premi keamanan yang belum sepenuhnya normal.
"Jadi, cara paling tepat memahami efek pembukaan Hormuz adalah ini, ia menurunkan suhu krisis, tetapi belum memulihkan fondasi pasokan dan perdagangan ke keadaan aman," terang dia.
Dampak pembukaan Selat Hormuz pada berbagai sektor
Syafruddin menjabarkan, sektor yang terdampak langsung adalah sektor yang sangat sensitif terhadap energi, logistik, dan bahan baku petrokimia.
Sedangkan industri makanan dan minuman, farmasi, otomotif, elektronik, konstruksi, logistik, dan barang konsumsi akan merasakan dampak paling cepat karena mereka memakai kemasan, film, botol, wadah, pipa, atau komponen berbasis resin.
Data harga menunjukkan, resin utama masih berada di level tinggi, misalnya PP Injection FEA dengan harga 1.320 dollar AS per ton dan HDPE Film FEA dengan harga 1.300 dollar AS.
Pada level hulu, harga Ethylene NEA berada di level 1.435 dollar AS per ton dan Propylene Korea di 1.305 dollar AS per ton.
Hal ini menegaskan tekanan biaya pada bahan baku plastik belum hilang. "Sektor terdampak tidak langsung mencakup UMKM, perdagangan ritel, jasa distribusi, dan rumah tangga, karena kenaikan harga kemasan dan barang turunan pada akhirnya akan diteruskan ke harga jual," ucap dia.
Tak hanya itu, Syafruddin menyampaikan, rumah tangga berpendapatan rendah akan merasakan dampak paling berat saat harga air minum kemasan, makanan olahan, produk kebersihan, dan kebutuhan harian lainnya ikut naik. "Jadi, pembukaan Hormuz tidak hanya menyentuh sektor energi. Dampaknya menjalar ke struktur biaya industri dan biaya hidup masyarakat," ucap dia.
Dampak pembukaan Selat Hormuz dan sinyal penurunan harga plastik
Sayangnya, pembukaan Selat Hormuz ini tidak bisa ditarik lurus sebagai sinyal penurunan harga kemasan plastik.
Syafruddin menjelaskan, jalur pelayaran yang dibuka kembali memang dapat menurunkan tekanan akut pada harga minyak dan memperbaiki ekspektasi pasar, tetapi harga plastik dibentuk oleh rantai yang lebih panjang dan lebih rumit daripada crude oil saja.
Plastik bergantung pada feedstock seperti nafta dan propana, lalu pada olefin seperti etilena dan propilena, lalu pada kapasitas operasi kompleks petrokimia. "Masalahnya, dua risiko terakhir belum sepenuhnya pulih," ungkap dia.
Data feedstock menunjukkan level tinggi, dengan Naphtha CIF NWE seharga 950 dollar AS per ton, Naphtha 1H 1.135 dollar AS, Naphtha 2H 1.006 dollar AS, dan Propane C+F sekitar 900,75 dollar AS.
Di saat yang sama, masih terdapat serangan terhadap kompleks petrokimia Asaluyeh dan Marvdasht.
Artinya, walau risiko maritim menurun, risiko pada pusat produksi petrokimia masih besar.
"Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar tetap akan membeli kepastian dengan harga tinggi, menahan stok, dan memasukkan premi risiko ke harga resin. Karena itu, pembukaan Hormuz lebih tepat dibaca sebagai sinyal meredanya tekanan, bukan sinyal otomatis turunnya harga plastik," tutup dia.
Baca juga: Selat Hormuz Dibuka Namun Iran Bisa Menutupnya Kembali, Ini Alasannya
Pembeli memilih kemasan plastik di toko ritel Wijaya Pangan, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/4/2026). Pedagang menyebut harga kemasan plastik di wilayah tersebut mulai naik sejak sebelum Ramadhan hingga mencapai dua kali lipat yang dipengaruhi dampak situasi geopolitik global. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/hma
Butuh waktu agar harga plastik kembali normal
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menjelaskan, bahan baku pembuatan plastik yang merupakan produk petrokimia memang mendapatkan sentimen positif dari pembukaan Selat Hormuz ini.
Kelancaran lalu lintas membuat pasokan dapat pulih seperti sedia kala. "Walaupun kelancarannya tidak langsung ya serta merta, mungkin ada leg waktu, jadi tidak bisa terlalu cepat pulih," ungkap dia.
Dengan demikian, kondisi tersebut juga akan tecermin pada harga komoditas lain seperti minyak dan gas. "Yang jelas dengan pembukaan Selat Hormuz mestinya memberikan efek positif pada penurunan harga," terang dia.
Sebagai catatan, produk yang akan terpengaruh dengan adanya pembukaan Selat Hormuz ini adalah minyak, gas, dan produk petrokimia. "Yang akan kembali lebih lancar dengan pembukaan Selat Hormuz adalah lalu lintas minyak, gas, dan petrokimia," ungkap dia.
Faisal memerinci, perbaikan rantai pasok petrokimia akan memengaruhi produksi plastik.
Sedangkan komoditas seperti minyak dan gas punya pengaruh sampai ke industri penerbangan yang harga tiketnya naik karena kenaikan harga avtur.
Efek Konflik geopolitik, harga kemasan plastik melambung
Di tengah konflik geopolitik yang terjadi, harga plastik di Tanah Air melonjak tajam dalam waktu singkat.
Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyebut pasar telah masuk fase baru, yakni “ganti harga”. Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono mengatakan lonjakan dipicu gangguan pasokan global.
Tekanan utama berasal dari konflik di Timur Tengah, terutama di jalur Selat Hormuz. "Harga bahan baku plastik yang sebelumnya sekitar 1.000 dollar AS per metrik ton, kini sudah naik hingga 1.800 dollar AS. Artinya kenaikannya hampir 80 persen," ujar Fajar dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026). Kenaikan mulai terasa di sektor hilir.
Harga produk plastik jadi naik antara 40 persen hingga 80 persen.
Kenaikan mencakup kemasan yang banyak digunakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Fajar menyebut dampak sudah dirasakan masyarakat.
Pedagang makanan dan pelaku UMKM mulai mengeluhkan lonjakan harga kemasan.
Harga minyak turun setelah Selat Hormuz dibuka
Sementara itu, harga minyak dunia langsung turun pada akhir perdagangan Jumat (17/4/2026) waktu setempat atau Sabtu (18/4/2026) WIB, setelah Iran menyatakan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz kembali dibuka.
Harga minyak Brent turun 9,01 dollar AS atau 9,07 persen menjadi 90,38 dollar AS per barrel, setelah pada sesi sebelumnya sempat menyentuh level terendah di 86,09 dollar AS.
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok 10,48 dollar AS atau 11,45 persen ke level 83,85 dollar AS per barrel, setelah sempat menyentuh level terendah 80,56 dollar AS.
Penurunan kedua patokan harga minyak dunia itu menjadi yang terbesar sejak 8 April 2026, seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Kini seluruh kapal dapat melintasi Selat Hormuz, tetapi tetap harus berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran, menurut seorang pejabat senior Iran.
Baca juga: Iran Buka Selat Hormuz, ESDM: Positif Bagi Stabilitas Energi RI
Tag: #dampak #pembukaan #selat #hormuz #bagi #ekonomi #indonesia