Wall Street Menguat, Nasdaq dan S&P 500 Kembali Cetak Rekor
Ilustrasi Amerika Serikat, negara terkuat di dunia(iStockphoto/Douglas Rissing)
09:08
7 Mei 2026

Wall Street Menguat, Nasdaq dan S&P 500 Kembali Cetak Rekor

- Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (6/5/2026) waktu setempat. Reli Wall Street kali ini didorong sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta kuatnya kinerja emiten teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Indeks S&P 500 dan Nasdaq bahkan kembali mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa seiring optimisme investor terhadap prospek ekonomi AS dan pertumbuhan laba perusahaan teknologi.

Mengutip Reuters Kamis (7/5/2026), indeks S&P 500 naik 1,46 persen ke level 7.365,09. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite melonjak 2,03 persen ke posisi 25.838,94 dan indeks Dow Jones Industrial Average menguat 1,24 persen ke level 49.910,59.

Aktivitas perdagangan juga tercatat sangat ramai. Volume transaksi di bursa AS mencapai 18,8 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 17,6 miliar saham selama 20 sesi perdagangan terakhir.

Baca juga: Reuters: Indonesia Minat Borong 40 Jet Tempur JF-17 dan Drone Shahpar dari Pakistan

Penguatan terjadi pada mayoritas sektor di indeks S&P 500. Sebanyak sembilan dari 11 sektor ditutup di zona hijau. Sektor industri memimpin kenaikan dengan lonjakan 2,6 persen, disusul sektor teknologi informasi yang menguat 2,56 persen.

Secara tahunan, reli Wall Street juga semakin solid. Hingga saat ini, indeks S&P 500 telah menguat hampir 8 persen sepanjang 2026, sementara indeks Nasdaq melonjak sekitar 11 persen.

Salah satu motor utama penguatan pasar berasal dari saham perusahaan semikonduktor Advanced Micro Devices (AMD). Saham AMD melonjak hampir 19 persen dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa setelah perusahaan tersebut memproyeksikan pendapatan kuartalan di atas ekspektasi pasar.

Kinerja tersebut didorong tingginya permintaan terhadap chip pusat data atau data center yang digunakan untuk pengembangan teknologi AI.

Penguatan AMD turut menyeret saham produsen chip lainnya. Saham Intel naik 4,5 persen, sementara indeks semikonduktor PHLX menguat 4,5 persen. Secara year to date, indeks chip tersebut telah melonjak sekitar 62 persen sepanjang 2026.

Optimisme pasar juga dipicu perkembangan terbaru dari konflik Timur Tengah. Saham global bergerak naik dan harga minyak dunia justru merosot setelah Iran menyatakan tengah meninjau proposal baru dari AS terkait penyelesaian konflik.

Selain itu, sumber mengatakan Washington dan Teheran hampir mencapai memorandum satu halaman untuk mengakhiri perang, meskipun isu sensitif seperti program nuklir Iran akan dibahas pada tahap berikutnya.

Meredanya tensi geopolitik membuat harga minyak mentah Brent turun sekitar 8 persen menjadi 101 dollar AS per barel. Penurunan harga minyak ini dinilai membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global.

Dalam beberapa pekan terakhir, Wall Street memang terus melanjutkan reli. Investor mulai mengalihkan fokus dari konflik geopolitik menuju musim laporan keuangan kuartal pertama yang menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan, terutama dari perusahaan-perusahaan berbasis AI.

Perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 bahkan diperkirakan mencatat pertumbuhan laba terkuat dalam lebih dari empat tahun terakhir.

Berdasarkan data LSEG I/B/E/S, lebih dari 80 persen perusahaan anggota S&P 500 yang telah melaporkan kinerja hingga 1 Mei berhasil melampaui ekspektasi laba analis.

“Ekonomi berjalan dengan baik. Tidak ada tanda-tanda bahaya nyata yang mendekati penurunan. Dan dengan latar belakang itu, Anda harus memiliki saham,” ujar Senior Portfolio Manager Globalt Investments, Thomas Martin.

Penguatan juga terjadi pada saham Corning setelah perusahaan tersebut mengumumkan kemitraan dengan Nvidia untuk memperluas produksi produk konektivitas optik di AS yang digunakan di pusat data AI.

Saham Nvidia sendiri naik 5,7 persen pada perdagangan tersebut.

Sementara itu, saham Hut 8 melonjak 35 persen setelah perusahaan pengembang pusat data AI tersebut menandatangani kontrak sewa selama 15 tahun senilai 9,8 miliar dollar AS untuk kampus pusat data Beacon Point di Texas.

Dari sisi data ekonomi, pasar juga mencermati laporan ketenagakerjaan AS. Data penggajian swasta menunjukkan peningkatan terbesar dalam 15 bulan pada April 2026. Kondisi itu mencerminkan pasar tenaga kerja AS masih cukup stabil meskipun ketegangan geopolitik masih membayangi prospek ekonomi global.

Investor kini menanti laporan non-farm payrolls atau data ketenagakerjaan non-pertanian AS yang akan dirilis Jumat mendatang. Berdasarkan survei Reuters terhadap ekonom, lapangan kerja AS diperkirakan bertambah 62.000 pada April setelah sebelumnya meningkat 178.000 pada Maret.

Di sisi lain, Presiden Federal Reserve St. Louis, Alberto Musalem, mengatakan risiko kebijakan moneter kini bergeser ke arah inflasi yang lebih tinggi. Kondisi itu berpotensi membuat suku bunga AS tetap berada di level tinggi lebih lama di tengah pasar tenaga kerja yang masih solid.

Selain saham teknologi, sejumlah emiten besar lainnya juga mencatat penguatan signifikan. Saham Walt Disney naik 7,5 persen setelah perusahaan hiburan tersebut membukukan kinerja kuartal kedua di atas ekspektasi pasar.

Investor juga mulai melihat arah strategi pertumbuhan baru yang dipaparkan CEO Josh D’Amaro untuk memperkuat bisnis perusahaan ke depan.

Saham Uber Technologies turut menguat 8,5 persen setelah perusahaan ride hailing dan layanan pengiriman tersebut memperkirakan pertumbuhan pemesanan yang kuat pada kuartal kedua tahun ini.

Adapun saham Super Micro Computer melesat 24,5 persen setelah perusahaan memberikan proyeksi pendapatan dan laba kuartal keempat yang lebih kuat dibandingkan ekspektasi analis.

Tag:  #wall #street #menguat #nasdaq #kembali #cetak #rekor

KOMENTAR