Cadangan Devisa Tergerus, BI Diprediksi Bakal Naikkan Suku Bunga
Ilustrasi.(THINKSTOCKS/SAPUNKELE)
06:46
20 Mei 2026

Cadangan Devisa Tergerus, BI Diprediksi Bakal Naikkan Suku Bunga

Manulife Aset Manajemen Indonesia menilai, di tengah gejolak geopolitik dan tekanan kepada nilai tukar rupiah yang masih tinggi, ruang penurunan suku bunga menjadi lebih terbatas.

Senior Portfolio Manager Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Syuhada Arief menjelaskan, cadangan devisa (cadev) tergerus karena usaha Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Cadangan devisa Indonesia tercatat turun dari 156,47 miliar dollar AS di akhir Desember 2025 menjadi 146.20 miliar dollar AS per akhir April.

“Secara historis, kondisi penurunan cadangan devisa signifikan dapat memberi tekanan bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga,” kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (20/5/2026).

Baca juga: Demi Jaga Rupiah, BI Sudah Pakai Cadangan Devisa Sebesar 10 Miliar Dollar AS

Ia menambahkan, tekanan rupiah dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap kebijakan ekonomi domestik.

Pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh faktor musiman dari permintaan dollar AS domestik yang tinggi di kuartal kedua.

Untuk meredam pelemahan ini, BI melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menaikkan imbal hasil SRBI untuk menjaga stabilitas rupiah.

Imbal hasil rata-rata dalam lelang SRBI 12-bulan meningkat signifikan dari kisaran 4,9 persen di awal tahun ke 6,5 persen di awal Mei.

Kebijakan ini dinilai sukses menarik dana asing sehingga terdapat arus modal asing masuk (net inflow) senilai Rp 78 triliun per April 2026.

Selain itu, untuk membantu nilai tukar rupiah, BI juga meningkatkan repo rate menjadi 5,1 persen.

Sebagai informasi, pelemahan kurs rupiah hingga menembus kisaran Rp 17.700-an per dollar AS memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan domestik.

Kondisi itu mendorong spekulasi bahwa Bank Indonesia (BI) berpeluang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen demi menahan tekanan terhadap mata uang rupiah dan meredam gejolak pasar.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai pasar mulai berspekulasi BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19-20 Mei 2026.

“Melemahnya rupiah ini menyebabkan terjadinya spekulasi kuat di pasar bahwa BI berpeluang besar menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen dalam RDG BI yang dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Mei 2026,” ujar dia.

Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya tekanan global.

Nafan mencatat apabila kenaikan suku bunga direspons positif pasar, maka strategi ini berpotensi menahan kejatuhan IHSG lebih dalam.

“Hal ini dilakukan demi mengintervensi pelemahan rupiah, dan bila direspons positif bisa menahan kejatuhan indeks lebih dalam,” beber dia.

Menurut Nafan, depresiasi rupiah yang terjadi saat ini menjadi salah satu sinyal meningkatnya persepsi risiko investor terhadap aset-aset Indonesia.

Nafan berujar, pelemahan mata uang Garuda tersebut turut memberikan tekanan terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih berada dalam tren volatil.

Market cenderung merespons pergerakan rupiah yang cenderung terdepresiasi tajam hingga menembus kisaran Rp17.668-Rp17.681 per dollar AS. Hal ini menjadi salah satu rekor terendah yang memicu kekhawatiran atas meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar aset Indonesia,” tutup Nafan.

Baca juga: Rupiah Kini Tembus Rp 17.704, BI Bakal Kerek Suku Bunga?

Tag:  #cadangan #devisa #tergerus #diprediksi #bakal #naikkan #suku #bunga

KOMENTAR