Dilema Sekutu AS: Frustrasi dengan Trump, Tak Tahu Apa Maunya
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, Selasa (24/2/2026). (WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE)
15:12
7 April 2026

Dilema Sekutu AS: Frustrasi dengan Trump, Tak Tahu Apa Maunya

- Perang Iran menempatkan sekutu-sekutu Amerika Serikat (AS) di Eropa, Asia, dan Timur Tengah dalam dilema yang sulit.

Para sekutu menganggap AS bertindak dengan cara yang tidak menentu dan telah menyebabkan kesulitan dan ketidakpastian.

Dilansir Wall Street Journal, Senin (6/4/2026), konflik Timur Tengah telah menguras perekonomian, dan guncangan yang lebih besar bisa terjadi jika Selat Hormuz tetap tertutup, yakni memperdalam krisis energi global.

Dilema bagi negara-negara sekutu adalah mereka tidak bisa “berpaling” karena mereka menganggap tidak ada negara lain yang dapat menggantikan kekuatan militer dan ekonomi AS dalam waktu dekat.

Akan membutuhkan waktu bagi negara-negara demokrasi berukuran menengah di Eropa dan Asia untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada Washington dan untuk meningkatkan kerja sama di antara mereka sendiri.

Baca juga: Tandingi Iran, Trump Mau Pungut Tarif Kapal yang Lewat Selat Hormuz


Tanggapan negara-negara sekutu terhadap AS

Anggota parlemen dari partai yang berkuasa di Jerman, Roderich Kiesewetter, menyebut AS tidak dapat diprediksi, dan menyebut “Amerika Serikat bukan lagi mitra yang dapat diandalkan bagi dunia Barat.”

Dilema serupa juga sangat dirasakan oleh mitra dan sekutu AS di Teluk Persia. Kota-kota mereka hampir setiap hari menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran atas perang yang tidak mereka mulai.

Para pejabat negara-negara Teluk semakin frustrasi dengan Trump. Di sisi lain, mereka juga tahu bahwa hanya Washington yang dapat menyediakan senjata penting bagi mereka.

Khususnya pertahanan udara dan tentunya menawarkan perlindungan dari upaya Iran di masa depan untuk mendominasi kawasan tersebut.

Baca juga: Kesal Tak Dibantu NATO Perang Lawan Iran, Trump Ancam Caplok Greenland Lagi

“Mitra keamanan utama kami adalah Amerika Serikat. Kami akan memperkuat hubungan kami dengan Amerika Serikat,” kata Anwar Gargash, penasihat diplomatik presiden Uni Emirat Arab, Sabtu (4/4/2026).

Perhitungan serupa juga terjadi di Asia. Korea Selatan, yang tengah menghadapi ancaman dari Korea Utara dan China, cukup cemas ketika AS mengalihkan sumber daya pertahanan udara yang vital ke Timur Tengah.

“Tindakan yang dilakukan AS di Iran tidak hanya mengungkap AS sebagai aktor nakal yang nilai-nilai politiknya di dalam negeri dan internasional tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai yang dianut Korea Selatan, tetapi juga sebagai aktor yang tindakannya akan memiliki konsekuensi ekonomi yang sangat besar,” kata Mason Richey, seorang profesor politik internasional di Universitas Studi Asing Hankuk di Seoul.

“Namun, Korea Selatan juga perlu tetap berada di pihak yang benar di mata pemerintahan Trump demi keamanan negaranya sendiri,” sambungnya.

Baca juga: Ancaman Baru Trump: Luluhlantakkan Iran dalam Semalam

Eropa menganggap AS sebagai ancaman

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers di Brady Press Briefing Room, Gedung Putih, Washington DC, 20 Februari 2026.AFP/MANDEL NGAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers di Brady Press Briefing Room, Gedung Putih, Washington DC, 20 Februari 2026.

Sikap Trump yang terus berubah-ubah dalam isu-isu kebijakan utama hingga pengabaiannya terhadap pandangan sekutu sering kali membuat kecewa para pemimpin asing yang mencoba mendekatinya, seperti Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.

“Semua orang bingung. Tidak ada yang bisa memahami seperti apa Amerika sebenarnya saat ini,” kata Carlo Calenda, seorang senator Italia dan mantan menteri pembangunan ekonomi.

“Tampaknya Amerika diperintah oleh semacam kaisar gila yang terus mengatakan apa pun yang terlintas di pikirannya, sesuatu yang belum pernah kita saksikan sejak Caligula atau Nero,” sambungnya.

Baca juga: Gencatan Senjata Disebut Tak Cukup, Trump Tolak Proposal Damai 45 Hari

Kemarahan publik terhadap AS di bawah pemerintahan Trump terlihat jelas dari jajak pendapat. Sekitar 34 persen warga di negara-negara besar Eropa memandang AS sebagai ancaman.

Hal itu kemudian menjelaskan mengapa tidak ada sekutu tradisional di Eropa atau Asia yang menuruti tuntutan Trump untuk bergabung dalam kampanye militer di Iran.

Mereka juga tidak mengerahkan pasukan untuk membuka kembali Selat Hormuz yang vital bagi navigasi bebas.

Faktanya, perang saat ini adalah konflik besar pertama dalam satu abad yang dilancarkan AS tanpa sekutu tradisionalnya.

Baca juga: Ekonomi Iran Jadi Target Baru AS-Israel, Cara Trump Buka Paksa Selat Hormuz

Padahal, negara-negara seperti Inggris dan Spanyol bergabung dalam invasi Irak tahun 2003. Puluhan negara berpartisipasi dalam Perang Teluk 1991 melawan Irak.

Bahkan di Vietnam, pasukan Amerika dibantu oleh Australia, Korea Selatan, Selandia Baru, Filipina, dan Thailand.

Belakangan ini, bahkan banyak gerakan sayap kanan dan populis yang pernah didekati oleh MAGA (Make America Great Again) telah mengecam perang di Iran dan berusaha menjauhkan diri dari Trump.

Tag:  #dilema #sekutu #frustrasi #dengan #trump #tahu #maunya

KOMENTAR