Trump Klaim Dibantu Negara Lain untuk Blokade Hormuz, Sebut Negara Teluk
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan bahwa sejumlah negara akan membantu Washington dalam menerapkan blokade Selat Hormuz.
Pernyataan itu muncul setelah perundingan dengan Teheran di Islamabad, Pakistan, gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak operasi militer gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari.
“Kami akan melakukan blokade. Ini akan memakan sedikit waktu, tetapi akan segera efektif,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu (12/4/2026), seperti dikutip Anadolu.
“Kami pikir banyak negara akan membantu kami dalam hal ini, tetapi kami akan menerapkan blokade penuh. Kami tidak akan membiarkan Iran menghasilkan uang dari penjualan minyak kepada pihak yang mereka sukai dan tidak kepada pihak lain,” tambahnya.
Ia juga mengisyaratkan keterlibatan negara-negara Teluk dalam operasi tersebut, meski tidak merinci siapa saja yang terlibat.
Inggris enggan ikut AS blokade Hormuz
Menurut laporan BBC, Inggris, yang merupakan anggota NATO, tidak akan terlibat dalam operasi militer AS untuk memblokade Selat Hormuz.
Seorang juru bicara pemerintah Inggris mengatakan, "Kami terus mendukung kebebasan navigasi dan pembukaan Selat Hormuz, yang sangat dibutuhkan untuk mendukung ekonomi global dan biaya hidup di dalam negeri."
Meski demikian, kapal penyapu ranjau dan kemampuan anti-drone Inggris akan terus beroperasi di wilayah tersebut.
Inggris juga telah berulang kali menyerukan agar Selat tersebut dibuka kembali karena harga minyak melonjak signifikan sejak pecahnya perang di Iran.
Menanggapi dukungan dari sekutu, Trump mengeklaim bahwa NATO memang menawarkan bantuan untuk "membersihkan" Selat Hormuz. Namun, ia menilai aliansi tersebut terlambat dalam memberikan dukungan.
“Saya sangat kecewa dengan NATO. Sekarang mereka ingin datang dan membantu di selat itu, dan tidak akan butuh waktu lama untuk membersihkannya. Kami akan membersihkan selat itu, dan mereka akan bisa menggunakannya dalam waktu tidak lama,” ujarnya.
Baca juga: Trump Ngamuk Negosiasi AS-Iran Gagal, Mulai Blokade Selat Hormuz
Perundingan gagal karena isu nuklir
Trump menyebut perundingan dengan Iran di Islamabad sebenarnya berjalan positif. Ia mengatakan, kedua pihak telah menyepakati sekitar 95 persen isu.
“Kami melakukan negosiasi yang sangat intensif, dan menjelang akhir menjadi sangat bersahabat, dan kami mendapatkan hampir semua poin yang kami butuhkan, kecuali fakta bahwa mereka menolak melepaskan ambisi nuklir mereka,” kata Trump.
Ia menegaskan sikap keras Washington, “Pada isu penting, mereka ingin memiliki senjata nuklir. Mereka tidak akan memilikinya.”
Ancaman tambahan
Menurut Trump, AS menjalankan “kampanye maksimum” terhadap Iran dan membuka kemungkinan serangan terhadap infrastruktur penting jika Iran tak kunjung mencapai kesepakatan dengan Washington.
“Satu-satunya yang tersisa, sebenarnya, adalah air mereka, yang akan sangat menghancurkan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa pembangkit listrik, jembatan, hingga fasilitas air dan desalinasi dapat menjadi target.
Selain itu, Trump mengancam akan mengenakan tarif 50 persen terhadap negara-negara, termasuk China, jika terbukti mengirim senjata ke Iran.
“Jika kami menangkap mereka melakukan itu, mereka akan dikenai tarif 50 persen, yang merupakan jumlah yang sangat besar,” katanya.
Di sisi lain, ia menyarankan China untuk mengalihkan pembelian energi ke AS atau Venezuela.
Trump juga mengeklaim memiliki hubungan yang baik dengan China, sembari menegaskan kebijakan tarif tinggi terhadap produk otomotif China untuk melindungi industri dalam negeri AS.
Baca juga: Dilema Trump Usai Negosiasi Damai AS-Iran Gagal
Tag: #trump #klaim #dibantu #negara #lain #untuk #blokade #hormuz #sebut #negara #teluk