Jaga-jaga Ditinggalkan AS, NATO Percepat Rencana Pertahanan
Bendera NATO.(Wikimedia Commons)
15:48
15 April 2026

Jaga-jaga Ditinggalkan AS, NATO Percepat Rencana Pertahanan

Eropa mulai mempercepat penyusunan rencana cadangan untuk memastikan pertahanannya tetap berjalan jika Amerika Serikat benar-benar keluar dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Inisiatif tersebut mendapatkan dorongan besar setelah Jerman—yang selama ini menolak pendekatan pertahanan mandiri—memberikan dukungan.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Selasa (14/4/2026), rencana ini dirancang agar Eropa tetap mampu mempertahankan diri dengan menggunakan struktur militer NATO yang sudah ada saat AS benar-benar menarik pasukan sesuai ancaman Presiden Donald Trump.

Baca juga: NATO Tak Mau Bantu AS Blokade Hormuz, Ogah Terseret Konflik

Para pejabat menyebut konsep ini sebagai “NATO Eropa”, yang bertujuan memperkuat peran negara-negara Eropa dalam struktur militer aliansi.

Kekhawatiran terhadap sikap Trump

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tengah mempertimbangkan untuk menarik AS keluar dari NATO.AFP/MANDEL NGAN Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tengah mempertimbangkan untuk menarik AS keluar dari NATO.

Rencana ini pertama kali muncul tahun lalu, tetapi kini dipercepat setelah serangkaian pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump.

Ancaman Trump untuk merebut Greenland dari Denmark—sesama anggota NATO—dan ketegangan terkait perang di Iran memperkuat urgensi langkah tersebut.

Trump juga melontarkan kritik keras terhadap sekutu Eropa, menyebut mereka “pengecut” dan menggambarkan NATO sebagai “macan kertas”. Ia bahkan mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin “juga mengetahui hal itu”.

Ancaman terbaru Trump untuk keluar dari NATO disebutnya sudah “melampaui tahap pertimbangan ulang”.

Meski secara hukum membutuhkan persetujuan Kongres, sebagai panglima tertinggi, Trump tetap bisa menarik pasukan atau mengurangi dukungan militer AS di Eropa.

Perubahan sikap Jerman jadi kunci

Perubahan paling menentukan datang dari Jerman di bawah Kanselir Friedrich Merz.

Selama puluhan tahun, Berlin menolak dorongan Perancis untuk memperkuat kedaulatan pertahanan Eropa dan lebih memilih bergantung pada payung keamanan Amerika.

Namun, pandangan itu mulai berubah. Merz disebut khawatir terhadap konsistensi kebijakan AS, terutama setelah menilai Trump berpotensi meninggalkan Ukraina dan tidak lagi berpegang pada nilai yang jelas dalam NATO.

Meski begitu, Jerman tetap berhati-hati agar tidak secara terbuka meragukan aliansi. Strateginya adalah memperbesar peran Eropa tanpa memicu mundurnya AS.

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menegaskan, “NATO tidak tergantikan baik bagi Eropa maupun Amerika Serikat.”

Namun ia menambahkan, “Jelas bahwa kita sebagai orang Eropa harus memikul tanggung jawab lebih besar atas pertahanan kita, dan kita sedang melakukannya. NATO harus menjadi lebih ‘Eropa’ agar tetap trans-Atlantik.”

Langkah Jerman ini membuka jalan bagi kesepakatan lebih luas dengan negara lain seperti Inggris, Perancis, Polandia, negara-negara Nordik, dan Kanada. Para pejabat menyebutnya sebagai “koalisi sukarela” di dalam NATO.

Duta Besar Swedia untuk Jerman, Veronika Wand-Danielsson, mengatakan, “Kami mengambil langkah antisipasi dan melakukan pembicaraan informal dengan sekutu yang sepemikiran, serta akan berkontribusi mengisi kekosongan di dalam NATO jika diperlukan.”

Presiden Finlandia Alexander Stubb, yang juga terlibat dalam perencanaan, menekankan bahwa pergeseran tanggung jawab dari AS ke Eropa sudah berlangsung.

“Perpindahan beban dari AS ke Eropa sedang terjadi dan akan terus berlanjut… sebagai bagian dari strategi pertahanan dan keamanan nasional AS,” ujarnya.

Baca juga: Bukan Perangi Iran, Menteri Turkiye Ingatkan Trump Fungsi Asli NATO

Tantangan besar di struktur militer

Meski ada kemajuan, tantangan yang dihadapi sangat besar. Struktur NATO selama ini sangat bergantung pada kepemimpinan Amerika, mulai dari logistik, intelijen, hingga komando militer tertinggi.

Para pejabat kini harus menjawab pertanyaan praktis: siapa yang akan mengelola pertahanan udara dan rudal NATO, jalur penguatan ke Polandia dan negara Baltik, hingga jaringan logistik dan latihan militer besar jika perwira AS mundur.

Selain itu, muncul kembali gagasan wajib militer sebagai bagian penting dari kesiapan pertahanan.

“Saya tidak akan memberi saran kepada negara Eropa mana pun, tetapi dalam hal pendidikan sipil, identitas nasional, dan persatuan nasional, mungkin tidak ada yang lebih baik daripada wajib militer,” kata Stubb, yang mana negaranya tetap mempertahankan sistem tersebut.

Kesenjangan kemampuan dan produksi militer

Eropa juga berupaya meningkatkan produksi peralatan militer, terutama di sektor yang masih tertinggal dari AS seperti perang anti-kapal selam, kemampuan ruang angkasa dan pengintaian, pengisian bahan bakar di udara, serta mobilitas udara.

Sebagai contoh, Jerman dan Inggris baru-baru ini mengumumkan proyek bersama untuk mengembangkan rudal jelajah siluman dan senjata hipersonik.

Namun demikian, Eropa masih kekurangan kemampuan krusial akibat bertahun-tahun pengeluaran pertahanan yang rendah dan ketergantungan pada AS.

Salah satu celah paling sulit adalah di bidang intelijen dan pencegah nuklir. Sistem satelit, pengawasan, dan peringatan rudal milik AS menjadi tulang punggung kredibilitas NATO—dan sulit digantikan dalam waktu singkat.

Hal ini menempatkan Perancis dan Inggris di bawah tekanan untuk memperluas peran nuklir dan intelijen strategis mereka.

Diskusi bahkan mulai menyentuh isu paling sensitive, yaitu kemungkinan menggantikan payung nuklir AS.

Setelah ancaman Trump terkait Greenland, Kanselir Merz dan Presiden Perancis Emmanuel Macron membuka pembicaraan mengenai perluasan perlindungan nuklir Perancis ke negara Eropa lain, termasuk Jerman.

Transisi sudah dimulai

Meski masih menghadapi banyak hambatan, transisi menuju NATO yang lebih “Eropa” sudah berjalan.

Semakin banyak posisi komando penting kini dipegang oleh pejabat Eropa, dan sejumlah latihan militer besar dipimpin oleh negara-negara Eropa, terutama di kawasan Nordik yang berbatasan dengan Rusia.

Mantan Laksamana AS James Foggo menilai Eropa sebenarnya memiliki kapasitas yang cukup.

“Saya pikir mereka punya kemampuan. Mereka memiliki sebagian perangkat kerasnya,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa investasi dan pengembangan kemampuan harus dipercepat.

Greenland jadi titik balik

Ilustrasi Greenland.canva.com Ilustrasi Greenland.

Trump sendiri mengakui bahwa isu Greenland menjadi titik balik dalam hubungannya dengan NATO.

“Semuanya dimulai dari, jika Anda ingin tahu yang sebenarnya, Greenland,” katanya.

“Kami menginginkan Greenland. Mereka tidak mau memberikannya dan saya bilang, ‘oke, selamat tinggal.’”

Pernyataan itu bahkan ditanggapi singkat oleh Wakil Perdana Menteri Polandia Radoslaw Sikorski melalui video yang ia unggah dengan komentar satu kata, “Dicatat.”

Baca juga: Trump Beri NATO Kesempatan Terakhir untuk Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Tag:  #jaga #jaga #ditinggalkan #nato #percepat #rencana #pertahanan

KOMENTAR