Hacker Curi Rp 43 M dari Kemenkeu Sri Lanka, Retas Sistem Komputer
- Para penjahat siber berhasil meretas sistem komputer Kementerian Keuangan Sri Lanka dan mengambil 2,5 juta dollar AS (Rp 43 miliar), kata pemerintah pada Kamis (23/4/2026).
Angka tersebut menjadi nominal uang tunai terbesar yang pernah dicuri oleh peretas dari lembaga negara di sana.
Baca juga: Email Bos FBI Dibobol Hacker Iran, Foto-foto Tak Terduga Tersebar di Internet
Menurut laporan AFP, Kamis (23/4/2026), serangan siber ini merupakan pukulan besar bagi Sri Lanka, yang tengah terbebani utang.
Negara ini sedang berusaha pulih dari krisis ekonomi yang melumpuhkannya pada 2022 setelah Colombo gagal membayar utang luar negeri sebesar 46 miliar dollar AS (Rp 793 triliun).
Nahasnya, serangan ini terjadi ketika bank sentral dan Kementerian Keuangan Sri Lanka meluncurkan kampanye iklan besar-besaran di surat kabar, yang memperingatkan warganya agar tidak menjadi korban penipuan siber.
Baca juga: Giliran Hacker Iran Beraksi: Tiru Komando Garda Depan, Tipu Warga Israel
Uang yang dicuri untuk pembayaran utang
Sekretaris Kementerian Keuangan Harshana Suriyapperuma mengatakan uang yang dicuri tersebut ditujukan sebagai pembayaran utang kepada Australia.
Akibat kejadian ini, empat pejabat senior di Kantor Manajemen Utang Publik (PDMO) diskors, kata dia.
Pihak berwenang mendapat laporan mengenai upaya peretasan terhadap server email kementerian.
Baca juga: Hacker Iran Beraksi, Retas CCTV Israel untuk Mata-mata
Ilustrasi uang kertas.
Dan hasil penyelidikan menunjukkan, pembayaran sebesar 2,5 juta dolar AS yang seharusnya dibayarkan kepada Australia telah menghilang.
"Penyelidik kriminal sedang menyelidiki hal ini dan kami belum dapat memberikan detail lebih lanjut," kata Suriyapperuma.
Dia menambahkan bahwa pihak berwenang Sri Lanka sedang mencari bantuan dari lembaga penegak hukum asing.
Baca juga: Diduga Hacker Kelas Dunia, Warga Rusia Ditangkap di Thailand atas Permintaan FBI
Australia siap membantu penyelidikan
Sri Lanka mendirikan PDMO pada awal tahun ini seiring dengan pinjaman dana ke IMF sejak awal 2023, menyusul krisis ekonomi yang melanda negara tersebut.
Duta Besar Australia untuk Sri Lanka, Matthew Duckworth, mengatakan bahwa Canberra menyadari adanya masalah dalam pembayaran utang yang harus dibayarkan.
“Pihak berwenang Sri Lanka sedang menyelidiki masalah ini dan berkoordinasi dengan pejabat Australia, yang turut membantu penyelidikan tersebut,” kata Duckworth di X.
“Australia tetap berkomitmen untuk mendukung upaya Sri Lanka dalam mencapai kembali keberlanjutan utang,” lanjut dia.
Tag: #hacker #curi #dari #kemenkeu #lanka #retas #sistem #komputer